
Diani tersenyum pada Ujang dan wanita yang duduk didepan Ujang. Diani menarik kursi dan mulai duduk disamping suaminya. "Mas, kamu lagi ngapain disini, dan wanita ini siapa?" Tanya Diani. Wanita itu berusaha bersikap setenang mungkin.
"Neng Ani juga disini, ini namanya Kiki. Kami sedang membahas bisnis, iya kan?" Tanya Ujang pada wanita itu.
"Hmm, iya," jawab Kiki.
"Beneran cuma bisnis?" Tanya Diani lagi. Dia kali ini terlihat kesal. Dia mulai memperlihatkan tingkah kekanak-kanakannya yang sedang cemburu. Menatap Kiki dengan tatapan menakutkan, seperti hewan buas yang ingin menerkam mangsanya.
Ujang melihat sikap aneh Diani, tapi lelaki itu malah semakin senang dibuatnya. "Iya Neng, teman bisnis."
Diani tiba-tiba duduk lebih merapat pada tubuh Ujang, dia bahkan kini duduk sambil memegang lengan atas Ujang dengan mesra seakan dia ingin memberitahu statusnya pada wanita yang ada di depannya.
Kamu lucu Neng kalau lagi cemburu, batin Ujang.
Kiki, wanita yang ada di depan Ujang pun malah tersenyum. Wanita dewasa itu sepertinya mengerti dengan situasi yang ada didepannya. Karena merasa tak enak telah menjadi orang yang dianggap pengganggu rumah tangga orang lain. Kiki pun berniat pulang karena urusannya juga sudah selesai.
"Mas, aku pamit pulang ya. Sisa uang yang kemarin juga kan sudah dikembalikan juga. Makasih ya Mas, saya permisi, mari mbak…," ucap Kiki kemudian bangkit. Wanita itu sempat membungkukkan badannya dan berlalu pergi.
Uang, apa uang transferan itu ya? Jadi ngembaliin aja, bukan ngasih? Batin Diani. Pandangannya masih tertuju pada punggung Kiki dan melihat langkah wanita itu.
"Neng ko diliatin terus? Neng tenang aja, Akang setia kok, hehe …," ucap Ujang .
Seketika lamunan Diani buyar, dia menatap Ujang yang kini mata lelaki itu melirik pada tangan Diani yang melingkar erat pada lengan atasnya seakan takut jika pemilik lengan itu kabur. Ujang tersenyum senang, sementara Diani langsung melepaskan tangannya.
"Lain kali kalau bertemu seseorang itu izin dulu sama istri, biar gak salah paham Kang..!" Ucap Diani.
Namun Ujang malah menarik lengan itu lagi, membenarkannya ke posisi semula. "Akang nyaman kalau Neng nempel-nempel begini, hehe …," ucap Ujang.
__ADS_1
"Tapi ini tempat umum Kang, aku malu," ucap Diani.
"Kan Neng sendiri yang mulai, gapapa atuh Neng kita udah sah," jawab Ujang.
Diani melihat ke arah sekitar dan matanya kini tertuju pada teman-temannya yang sedang menonton dirinya. Ya… mereka seakan sedang menonton film gratis, Diani lupa kalau dia lapar karena rasa cemburunya tadi. Suara perut Diani pun berbunyi.
"Neng laper? Yaudah kita makan dulu..!" Tanya Ujang.
"Hemm … tapi, aku udah pesen makanan Kang dimeja itu sama temen-temen," jawab Diani.
Teman-teman Diani yang mengerti momen mereka, akhirnya membiarkan mereka makan berdua. Ujang yang sudah makan hanya memesan minuman dan memandnagi wajah istrinya yang sedang makan.
"Malu Kang, jangan dilihatin terus..!" Ucap Diani.
Ujang hanya tersenyum, senyum dengan lesung pipi yang biasa dilihat Diani. Setelah makan, mereka pun kembali ke tempat kerja masing-masing.
***
"Ada yang sedih nih, pasti nanti kangen berat, hehe…," goda Arin.
"Ih gak gitu juga Rin," jawab Diani sedikit kesal. Pasalnya kenapa hanya dia yang digoda, bukankah Ujang juga bisa merasakan rindu yang berat. Mungkin lebih berat darinya, kenapa Arin seakan menganggap jika dirinya saja yang cinta berat, begitulah pikiran Arin sekarang.
"Hmm, teh Diani tenang aja karena akan ada Arin yang nemenin teteh disini, he…," ucap Arin lagi yang membuat Ujang tersenyum.
"Yaudah, Akang berangkat ya Neng," ucap Ujang. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Diani.
"Dan untuk kamu Dek, jagain teh Diani dengan baik, boleh kamu godain tapi jangan dibikin nangis, jangan dikerjain juga kasihan istri AA! oke Dek?" Ucap Ujang pada Arin yang membuat Diani menatap kakak beradik itu bergantian.
__ADS_1
Bukannya Arin adik iparku, kenapa malah aku yang harus dijagain, gak kebalik? Batin Diani.
"Siap A," jawab Arin sambil memberi hormat.
***
Malam ini Diani tak bisa tidur karena memikirkan Ujang, pesan yang dikirim pun belum ada balasan. Rasa cemas yang berlebihan membuat Diani terus membuka matanya padahal jam sudah menunjukan pukul 12 malam.
Terdengar suara ponsel Diani berbunyi.
(Neng maaf, Akang baru sempet pegang ponsel. Akang udah sampe, Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Keadaan emak dan bapak juga sehat, tadi Akang sempat mampir sebentar. Jaga diri baik-baik ya Neng, Akang disini juga begitu dan akan menjaga hati ini buat Neng seorang. Akang berharap Neng juga bisa seperti itu..!) Ujang
Diani yang senang mendapatkan balasan, dia sampai senyum-senyum sendiri, bahkan sempat menutupi wajahnya dengan bantal karena malu. Malu karena dapet gombalan dari sang suami.
"Syukurlah…, aku harus bagaimana membalasnya ya? Kalau dibalas dengan kata-kata romantis lagi, apa gak terlalu lebay ya? Aku malu," Gumam Diani.
(Alhamdulillah Kang, iya… aku pun sama akan menjaga hati ini buat Akang seorang)
Kirim gak ya? Kok kaya yang lebay ya, tapi emang bener gitu sih hati aku kayaknya udah mantep dan paten deh buat dia, Batin Diani.
Mata Diani ditutup dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang ponsel dan menyentuh layar agar bisa menekan tombol kirim.
Udah ke kirim belum sih? Batin Diani. Dia masih menutup matanya.
Dia mengintip perlahan dan betapa kagetnya dia melihat pesannya yang malah berubah. "Astagfirulloh, bagaimana ini? Udah dibaca lagi," ucap Diani yang panik.
Bagaimana tidak panik, tanpa sadar dia malah menambah emot dipesannya itu. Kini Diani melempar ponselnya ke atas ranjang, dia tertidur tengkurap sambil menyesali apa yang terjadi barusan karena kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa aku malah mengirim pesan sambil menutup mata segala sih, aaarghhh…," ucap Diani kesal. Dia memukul-mukul kesembarang arah.
Bersambung ….