
"Ada apa Neng?" Tanya Ujang padaku, ya dia tidak tahu apa yang terjadi dengan wajahnya, eh bukannya dari kemarin memang pipinya bengkak? tapi ini yang bikin lucu adalah bibirnya yang Jontor, membuatku ingin tertawa puas menertawakan suamiku itu, hiburan di waktu subuh, lumayan lah buat mood booster hari ini.
"Gapapa Kang, coba deh ambil kaca lalu Akang lihat wajah akang sekarang..! Memangnya Akang tidak merasakan sesuatu yang mengganjal gitu? Beda gitu atau seperti berat?" Tanyaku padanya.
"Berat? Memang Akang bawa apa?, Mengganjal? Apaan sih Neng? Bikin Akang penasaran aja, wajah Akang memang sedang menurun kegantengannya karena kejadian kemarin Neng, tapi masih ganteng kan Neng?" Tanyanya padaku yang membuat aku mual, ganteng dari mananya coba? Kalau dilihat dari jauh kali ya, dari sedotan, hmmm…
"Ah pokoknya ngaca aja lah Kang..! Aku mau ke kamar mandi, mau mandi terus sholat," jawabku kemudian mengambil handuk dan pakaian ganti dan tak menghiraukan panggilan Ujang lagi yang memanggil-manggil namaku dengan sebutan yang tak enak didengar, Neng Ani.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama dikamar mandi, aku pun kembali ke kamar karena biasanya aku akan sholat disana.
Kemana Ujang? Kok tidak ada? Aku celingukan kesana kemari tapi tidak menemukannya, aku pun bergegas melaksanakan ibadah dua rakaat.
"Assalamu'alaikum Wr. Wb, assalamu'alaikum Wr. Wb."
"Astagfirullah, Akang ngapain disitu, itu kenapa bibirnya jadi putih semua, dipakein apa?" Tanyaku pada Ujang yang mengagetkanku, mukanya sudah tak berbentuk begitu, di sana sini bengkak.
"Akang tadi niat ke masjid sebentar, tapi di tengah jalan ada yang teriak ngira Akang set@n, ya udah akang pulang aja, Akang mau sholat disini, lagian badan Akang meriang Neng, ini bibir Akang pakein pasta gigi biar dingin, soalnya kok panas gini ya?" Keluh Ujang panjang lebar dengan susah payah, pantas tadi dia tidak ada.
"Mungkin bibir Akang dijadikan toilet sama kecoa Kang, makanya bengkak," jawabku.
"Maksud Neng, dipipisin gitu?" Tanyanya lagi dengan susah payah karena bibirnya yang bengkak.
Aku hanya mengangguk mengiyakan dan berusaha menahan tawaku, berlalu pergi untuk mempersiapkan sarapan pagi, aku yang penasaran ku tengok kebelakang kulihat Ujang sedang mengipasi bibirnya, aku puas melihatnya.
***
Pagi itu aku sedang baik hati makanya aku mempersiapkan sarapan juga buat Ujang, bukan berarti aku peduli padanya, kusediakan juga obat untuk meriang yang dialaminya, kuberi saja obat warung, toh itu pasti manjur buat Ujang yang terbiasa dengan obat warungan.
__ADS_1
Aku pun pergi menuju kantor, rasanya aku sudah seperti tulang rusuk dan tulang punggung sekaligus, biarlah daripada bosan seharian di rumah melihat Ujang terus kan?
Dikantor aku bisa curhat dengan beberapa temanku yang membuat suasana hatiku membaik, tapi kedatangan Pak Nandra membuatku merasakan hawa dingin, bulu kuduk merinding seperti kedatangan makhluk asing, ya makhluk yang tak diharapkan.
"Diani, segera ke ruanganku!" Ucapnya dengan gaya so Bos nya itu kemudian berlalu pergi, membuat para cewek-cewek di sekitarku berteriak histeris melihat punggung indah pak Bos, memangnya dia setampan itu? Menurutku sih tidak ya, memang teman-temanku ini lebay.
Aku pun tak mungkin menolak permintaannya karena dia orang yang memberi gaji untukku.
Tok
Tok
Tok
"Masuk ..!" Terdengar suara menggelegar milik Pak Nandra, membuatku langsung membuka pintu dan segera masuk.
"Iya Pak, ada apa anda memanggil saya?" Tanyaku.
"Aku mau Minggu depan kamu temani saya makan siang bertemu ibuku lagi!" Ucapnya yang mampu membuatku bingung.
"Ta-tapi Pak, kemarin kan sudah, dan kenapa harus saya Pak?" Tanyaku, apa karena aku cantik dan cocok diakui sebagai pacar? Hmm.. sepertinya itu alasan yang masuk akal.
"Karena kamu satu-satunya wanita yang tidak menarik, yang pastinya tidak akan mampu membuatku jatuh cinta, jadi aku aman dari godaanmu, aku hanya butuh jasamu saja," ucapnya yang seenak jidat sampai membuat tanganku mengepal dibawah meja, enak saja dia bicara seperti itu, memangnya aku sejelek itu?
Akan aku pastikan dia menjilat ludahnya sendiri, ya.. aku pasti bisa.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus bisa hadir jika masih mau bekerja di perusahaan ini," ancamnya padaku, menyebalkan bukan?
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pasrah meski rasanya ingin ku menolak, tapi aku ingat kalau aku kini menafkahi orang tuaku dan juga ditambah satu lagi Ujang.
"Baik Pak, ada lagi yang ingin Bapak sampaikan?" Tanyaku padanya.
"Tidak, silahkan keluar..!" Ucapnya sambil menatap laptop tanpa menoleh padaku, astaga dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui.
"Permisi Pak," ucapku dengan lembut lalu pergi dari ruangan itu sesegera mungkin, hawa disana mulai panas meski AC nya menyala.
***
Saat aku sudah berada di ruangan milikku, ku pijat pelipis ku ini, rasanya kepalaku akan meledak memikirkan semua ini.
"Assalamu'alaikum Mak?" Aku mengangkat telepon dari Emak.
"Waalaikumsalam, gimana kabarmu Neng? Buku nikah kemarin buat apa Neng?" Tanya Emak padaku.
"Itu buat data aja Mak, kan kang Ujang tinggal dikontrakan aku Mak, memangnya Ujang tidak punya kerjaan ya Mak disana? Kan bisa kang Ujang disuruh pulang ke kampung kerja di kampung, ke kota sebulan sekali aja Mak!" Ucapku, siapa tahu Ujang bisa pulang hingga aku bebas dari bayang-bayang dia.
"Hmm, coba Neng bicarain dulu sama Ujang ya..! Tapi gak baik Neng sudah menikah tapi jauh-jauhan, bukannya kalian sudah cocok, kemarin aja Mak gak sengaja denger kalian mesra-mesraan Neng, hehe…," ucap Emak menggodaku.
"Astaga Mak, mungkin Emak salah paham, iya nanti Neng bicarain lagi sama Kang Ujang, Neng lagi kerja Mak, Neng tutup ya teleponnya, Assalamu'alaikum," jawabku dengan terburu-buru aku tidak mau digodain emak lagi, emak dan bapak memang senang sekali bercanda dan terkadang berlebihan.
Alhamdulillah pekerjaanku akhirnya selesai dan aku bisa pulang, namun ponselku berdering lagi, Bu Kartini menelpon, tumben sekali padahal aku selalu membayar uang kontrakan tepat waktu.
"Iya Bu, ada apa ya?" Tanyaku to the point.
"Apa? Yang bener Bu? Yaudah saya juga ini mau pulang kok Bu," ucapku kaget, aduh merepotkan sekali sih.
__ADS_1
Bersambung ….