
Siska merasa tidak enak dengan suasana kali ini, dia mulai angkat bicara juga. "Jang, dia siapa?" Tanya Siska pada Ujang.
Ujang menoleh pada Siska, dia tidak mengira jika akan bertemu dengan istrinya di mall. Bukannya dia yang ingin memberikan kejutan pada istrinya itu, tapi kenapa sekarang malah dia yang terkejut. Seakan dia sedang kepergok selingkuh.
"Neng Ani juga ada disini toh, lalu itu lelaki yang bersama Neng siapa?" Tanya Ujang pada Diani, Ujang mempertanyakan laki-laki yang berjalan di samping istrinya. Ujang bukannya menjawab pertanyaan Diani, dia malah balik bertanya seolah menghindari pertanyaan Diani.
"Jangan malah balik bertanya Kang, bukannya aku yang lebih dulu bertanya! Bahkan penampilan Akang sekarang berbeda, apa karena ingin bertemu perempuan ini?" Tanya Diani marah.
"Maaf Jang, aku balik dulu ya, sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu sama istri kamu itu!" Ucap Siska, dia bisa menebak jika yang marah ini istri Ujang.
"Tunggu Sis, kamu bantu jelasin dulu atuh..!" Keluh Ujang.
Diani pun pergi dengan kesal dan diikuti laki-laki tadi, Ujang kini bingung sendiri. Dia ditinggalkan oleh Diani dan Siska, "kenapa jadi begini? Kenapa aku yang ditinggal pergi oleh mereka semua? Kenapa seolah aku yang salah?" Gumam Ujang.
Ujang pun memilih pergi ke parkiran mencari mobilnya, berniat pulang ke kontrakan Diani dan menjelaskan semuanya, dia juga akan menuntut penjelasan pada istrinya itu.
Ujang mengirim pesan pada Siska, menyuruhnya datang ke alamat yang dikirimkan. Menyuruhnya datang saat sore hari, tentu dengan sedikit memaksa dan berakhir dengan mengeluarkan uang. Itu tak masalah bagi Ujang, yang penting rumah tangganya baik-baik saja dan membuktikan jika Ujang bukan lelaki tukang selingkuh.
Sesampainya di kontrakan ternyata Diani belum pulang, "apa neng Ani masih bersama lelaki tadi ya? Tapi aku tidak boleh menuduh sembarangan, aku harus menunggu penjelasan dia," gumam Ujang.
Terlihat pemilik kontrakan datang sambil bernyanyi, dia berjalan semakin pelan saat menyadari ada Ujang disana. Matanya seperti mengintai dari jauh, Ujang menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah ibu Kartini yang aneh itu. Dia juga teringat si Koko yang dimasak oleh ibu Kartini, itu sedikit membuat Ujang kesal.
"Siapa kamu? Ngapain ada dikontrakan Diani? Dia belum pulang, kalau mau bertamu harus lapor dulu sama saya, situ kan laki-laki, kalau dituduh berselingkuh dengan Diani bagaimana hah?" Tanya Bu Kartini. Dia sepertinya tidak mengenali Ujang.
"Maaf Bu, saya kan suaminya Diani, masa ibu lupa?" jawab Ujang dengan tersenyum, tampaklah lesung pipi Ujang yang mengingatkan Bu Kartini padanya.
__ADS_1
"Lesung pipinya sih mirip, tapi kok wajahnya terlihat beda ya?" Gumam Bu Kartini sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Terlihat Diani datang dia terkejut melihat Ujang ada disana, tapi dia yang masih kesal dan cemburu. Tidak menghiraukan keberadaan Ujang. "Bu Kartini sedang apa disini?" Tanya Diani.
"Gapapa, ibu hanya curiga dengan lelaki ini tapi ternyata suamimu," jawab Bu Kartini. Dia berjalan mendekati Diani dan berbisik ditelinga Diani "suamimu jadi tampan dan keren, jagain…, takutnya diambil orang, hehe…" Bu Kartini pun berlalu pergi.
Diani menatap kepergian Bu Kartini dengan perasaannya yang semakin kesal teringat kejadian tadi di mall. Bu Kartini seakan mengingatkannya kalau tadi Ujang diambil orang.
Diani langsung masuk ke dalam tanpa menyapa Ujang, sementara Ujang mengikuti Diani dari belakang, sesekali dia mulai berbicara seakan ingin menjelaskan sesuatu, tapi Diani malah menyela dan membuat Ujang akhirnya diam.
Memang harus ada bukti agar neng Ani percaya, batin Ujang.
"Neng, apa Neng cemburu liat Akang tadi?" Tanya Ujang pada Diani yang sedang menikmati es teh manis untuk mendinginkan hatinya, eh emosinya.
Seketika air yang ada di mulut Diani keluar tanpa kendali, saking kagetnya dia menyemburkan air itu, untung saja tidak mengenai wajah Ujang.
Diani pun pergi menuju dapur untuk menyimpan gelas yang kini kosong, ya airnya bukan habis dia minum, tapi dia semburkan. Tenggorokannya masih merasa haus, dia mengambil air minum dingin lagi dari kulkas. Dia mencoba menenangkan dan menstabilkan detak jantungnya, setelah itu dia bergegas ke kamar mandi untuk menghilangkan keringat dibadannya.
Entah mengapa Diani merasa aneh pada dirinya sendiri. Apa aku memang cemburu? Tapi mana mungkin aku cemburu padanya, batin Diani.
Lamunan Diani seketika Butar saat terdengar ketukan pintu yang sangat keras.
"Neng lagi apa? Neng gapapa kan?" Teriak Ujang.
"Ya ampun, dia ngapain sih gedorin pintu, lagi mandi aja digangguin," guamam Diani.
__ADS_1
"Gapapa, aku lagi mandi Kang, berendam," jawab Diani dengan keras. Dia seperti melampiaskan emosinya tadi di mall.
"Tapi sudah satu jam neng, nanti masuk angin," teriak Ujang lagi.
"Satu jam? Perasaan baru masuk deh," gumam Diani. Tapi saat dia melihat kulit jari yang keriput, dia sadar kalau dia terlalu lama berendam disana. Diia segera bangkit dan mengambil handuk, dia lupa kalau tadi belum sempat membawa baju ganti, dengan terpaksa Diani keluar dengan hanya menggunakan handuk.
Diani yang melihat Ujang sedang duduk di ruang tivi dan diani harus melewatinya agar bisa sampai di kamar, dia mulai ragu, tapi badannya terasa sudah menggigil.
Wanita itu berteriak dibalik dinding. "Kang tutup mata ya, aku lupa membawa baju ganti!"
"Iya neng, padahal kan sudah halal," jawab Ujang keceplosan.
"Ih Akang, aku kedinginan tau, tutup aja matanya!" protes Diani.
"Iya neng," jawab Ujang lalu meletakan kedua tangannya diwajahnya, menutupi semua bagian wajahnya, bukan hanya mata saja. Tapi Ujang yang nakal malah mengintip dari sela jari-jari tangannya.
"Neng, handuknya warna pink? Ko pendek banget neng, nanti Akang beliin yang lebih panjang deh," ucap Ujang dengan posisi yang sama.
Diani seketika menoleh, dia melihat Ujang menutup mata tapi tau kalau dia memakai handuk pink yang memang kecil. Diani mulai sadar dan terburu-buru masuk ke dalam kamar. Wanita itu kemudian sedikit membuka pintu kamarnya lalu berteriak.
"Akang nyebelin…, awas nanti bintitan loh matanya," teriak Diani lalu menutup pintu kamarnya kembali. Sementara Ujang terkekeh dengan tingkah istrinya yang pemalu sekaligus pemarah itu.
Ujang merasa jika hari-harinya berwarna saat bersama Diani. Wanita itu memang berbeda dan spesial dimata Ujang, bisa membuat dia tertawa, tersenyum sendirian bahkan merasa ingin mennagis.
__ADS_1
Bersambung ….