Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Geulis Pisan


__ADS_3

Ketika pagi datang, mereka masih dalam keadaan canggung. Mereka seperti salah tingkah, Diani dan Ujang yang berdiri, mereka malah langsung menduduki kursi yang sama, alhasil tubuh mereka saling beradu dan mereka jatuh secara bersamaan.


"Aduh…," keluh Diani.


"Neng gapapa?" Tanya Ujang sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit.


"Gapapa Kang, kalau Akang mau duduk disitu ya silahkan Kang. Aku sebelah sana aja," ucap Diani.


"Gapapa Neng, neng aja disini, biar Akang sebelah sana," jawab Ujang.


Langkah mereka beriringan, ya… mereka menuju kursi di seberang sana dengan kursi yang sama. Diani tersenyum kecil, dia memilih ke dapur untuk membuat teh manis hangat karena kalau semakin lama bersama Ujang, maka dia akan semakin salah tingkah.


Diani kembali dengan dua cangkir teh hangat, "diminum Kang..!" Ucap Diani.


Ujang langsung saja meneguknya karena menanggapi ucapan Diani. Baru saja Diani mau mengatakan kalau air itu masih panas, tapi naas dia terlambat. Teh panas itu sudah mengenai lidah Ujang. Membuat lelaki itu menjulurkan lidahnya karena merasa lidah itu terbakar.


"Maaf Kang, aku hanya bilang diminum, tapi maksudnya bukan sekarang juga Kang," ucap Diani.


Diani panik, dia mengambilkan air putih biasa untuk sekedar meredakan rasa panas di lidah Ujang. Ujang merasa malu karena dirinya memang kurang fokus pagi ini, dia seharusnya bisa melihat kepulan asap yang terlihat di cangkir teh manis itu.


"Akang yang salah kok, udah tau panas, kelihatan masih ada asapnya, hehe…," ucap Ujang sambil menggaruk tengkuknya.


Mereka merasa aneh pagi ini, saling menyalahkan diri sendiri dan pagi ini terasa kacau. Setelah sarapan, Diani bergegas mengambil tasnya lalu dia mengeluarkan undangan pernikahan dari teman kantornya. Meletakkan surat itu diatas meja dekat Ujang.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya Kang, itu surat undangan dari temanku. Aku harap Akang bisa meluangkan waktu untuk datang bersama," ucap Diani.


Diani refleks mengulurkan tangannya, membuat Ujang mengulurkan juga tangannya, meski sedikit bingung. Diani sempat diam, lalu dia pun mencium punggung tangan suaminya itu, wajahnya merona. Dia langsung pergi sambil mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam..., Neng Ani kenapa ya? Jadi berubah gitu," gumam Ujang pelan. Dia pun mengambil surat undangan di meja. Melihat kapan acara itu akan diadakan dan sebisa mungkin Ujang akan meluangkan waktunya. Ujang senang, karena merasa diakui sebagai suami.


***


Dua hari berlalu dan mereka saling menjaga jarak karena takut salah tingkah. Tapi rasa rindu tetap melanda mereka, kala malam tiba terkadang Ujang masuk ke kamar Diani hanya sekedar menatap wajah istrinya. Begitu pun sebaliknya, Diani akan duduk sejenak melihat wajah suaminya setelah dia kembali dari kamar mandi.


Ujang bukannya takut menyatakan cinta, tapi bukankah Diani sudah tahu perasaannya. Itulah yang dipikirkan lelaki itu, Ujang hanya sedang menunggu Diani siap, dia tidak mau memaksakan perasaan Diani yang jelas-jelas mengatakan kalau dia bukan tipe nya.


Diani yang masih gengsi, dia mau Ujang yang mengejar-ngejarnya. Tapi akhir-akhir ini Diani merasa heran karena Ujang menjadi cuek dan lebih sibuk bekerja dengan Siska.


"Neng, Akang bisa ikut. Kita mau pake baju yang sama gak? Kita beli dulu. Ayo belanja mumpung masih sore..!" Ajak Ujang. Kala itu Ujang juga baru gajian dari pekerjaan sampingannya di kota.


"Emm…, sekarang Kang?" Tanya Diani kemudian menunduk karena ada perasaan senang didalam hatinya. Diani juga tidak tahu kenapa dia merasa sebahagia itu. Jangan lebay Diani, ini hanya berbelanja baju couple kok! Batin Diani.


"Iya atuh Neng, kan acaranya juga dua hari lagi. Kalau besok takutnya gak keburu. Hari ini juga mending kalau dapet baju yang cocok Neng," jawab Ujang.


Diani pun bangkit untuk pergi berganti pakaian. Dia menyempatkan mandi walau sebentar. Dia menatap cermin dan mulai berdandan secantik mungkin.


"Sebentar, kenapa aku harus tampil cantik? Kenapa aku berdandan seperti ini? Ini kan hanya pergi dengan Ujang, bukan dengan seseorang yang spesial, hmm…," gumam Diani.

__ADS_1


Diani bangkit dan menghapus lipstiknya, mengganti warna lipstik itu dengan warna yang lebih natural agar tidak terlihat jelas kalau dia sengaja berdandan. Dia juga rasanya ingin menghapus riasna bedaknya, tapi Ujang sudah menunggu terlalu lama.


"Sudahlah gak usah dihapus, nanti keburu malam," gumam Diani. Dia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan tentunya tampil cantik.


Ujang menatap Diani tanpa berkedip, hingga Diani mengejutkan Ujang. "Ayo Kang..!" Ucap Diani berjalan melewati Ujang.


"Eh, iya Neng, neng Ani geulis pisan," puji Ujang.


Diani menoleh, dia merasa terbang melayang dipuji Ujang, dibilang cantik banget rasanya hatinya berbunga-bunga. Tapi Diani berusaha mengontrol emosinya, dia memperlihatkan wajah datarnya.


"Hmm, makasih Kang. Lagipula wanita memang semuanya cantik gak ada yang ganteng," jawab Diani.


"Iya, tapi Neng Ani hari ini cantik banget, lebih cantik dari hari-hari biasanya, hehe…," ucap Ujang. Dia menyambar kunci mobilnya dan berlalu keluar rumah, sementara Diani mengunci pintu kontrakan itu agar tidak ada maling yang masuk.


Ujang langsung saja masuk ke dalam mobil, dia sebenarnya ingin membukakan pintu mobil untuk istrinya, agar terkesan romantis. Tapi dia mengira kalau Diani tidak suka diperlakukan seperti itu mengingat kejadian sebelumnya Diani menolak.


"Kok gak dibukain pintunya sih? Tadi muji bilangnya cantik banget, tapi dicuekin, gak ada romantis-romantisnya," keluh Diani sepanjang jalan menuju mobil. Dia bahkan beberapa kali mengehentakan kakinya.


"Sudah siap Neng?" Tanya Ujang setelah melihat istrinya telah memakai sabuk pengaman.


"Sudah," jawab Diani ketus. Diani bahkan memalingkan mukanya sekarang.


Astagfirullah…, kenapa neng Ani marah begitu? Aku salah apa, bukannya tadi dia masih lemah lembut? Batin Ujang.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2