
Hari bahkan sudah gelap, mereka pulang dengan taksi. Diani yang lelah karena langsung pergi setelah pulang bekerja, dia kini tertidur di dalam mobil. Arin membiarkan kakak iparnya itu karena merasa kasihan.
"Teh bangun, udah sampe depan rumah Teh..!" Panggil Arin sambil mengguncang tubuh Diani pelan.
Tapi Diani sepertinya tidur nyenyak, "mana kuat aku menggendongnya," gumam Arin yang bingung.
Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, Diani pun membuka matanya perlahan. Karena masih mengantuk, maka Arin membantu Diani berjalan dengan memegang lengan atas sang kakak ipar agar tidak jatuh.
"Hati-hati Teh..!" Ucap Arin saat Diani hampir saja terjatuh. Untung saja masih berpegangan pada Arin.
Saat pintu dibuka, Diani begitu terkejut melihat rumah yang dihias. Ada acara apa? Batin Diani. Matanya kini fokus melihat Ujang dan ibu mertuanya yang sedang berdiri menyambutnya. Apa penampilanku, ada hubungannya dengan pesta ini? Pikir Diani.
"Ayo Teh kita kesana, Teteh potong kuenya..!" Ajak Arin dengan menarik tangan sang kakak ipar.
Diani masih kaget, dia tak melawan. Dia hanya mengikuti arah langkah kaki Arin, hingga sampailah dia di hadapan Ujang. Suaminya itu kemudian melangkah ke samping dan memperlihatkan bolu brownies dua tingkat bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Istriku".
Diani merasa terharu, tak terasa dia sampai mengeluarkan air matanya. Kata istriku yang terbaca oleh Diani mampu membuatnya merasa diakui oleh suaminya. Acara ini menunjukan kalau suaminya itu begitu peduli padanya, bahkan dirinya saja lupa kalau ini hari kelahirannya.
"Makasih Kang," ucap Diani menatap Ujang.
__ADS_1
"Peluk dong!" Ucap Arin.
Bu Edoh menyenggol lengan Diani dengan sengaja, dia membuat Diani jatuh diperlukan Ujang. Arin terkekeh, gadis itu tidak menyangka jika ibunya begitu semangat menjadi Mak comblang. Jika biasanya Mak comblang untuk menyatukan dua insan yang belum mempunyai ikatan apapun, tapi ini malah kebalikannya. Terkadang Arin juga merasa lucu dengan rencananya bersama ibunya itu.
Untuk pertama kalinya Bu Edoh pun ikut berbahagia, dia tak sedikitpun menyindir lagi Diani. Bu Edoh hanya berharap rumah tangga anaknya itu bisa lebih baik. Malam itu suasana begitu hangat, Diani begitu senang, selama ini dia tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Ini untuk pertama kalinya dia menjadi ingat hari ulang tahunnya di hari yang pas, biasanya dia akan ingat keesokan harinya, lucu memang.
Setelah acara malam itu selesai, Diani bergegas mengganti pakaian. Dia yang lelah, ingin rasanya segera beristirahat.
Ceklek
Terdengar suara pintu kamar terbuka, jantung Diani kembali berdetak tak karuan. Entah sejak kapan, dia mulai merasa salting saat melihat wajah Ujang, bahkan membayangkan suaminya ada di dekatnya saja bisa membuatnya merasa gelisah sekaligus senang.
"Udah mau tidur Neng?" Tanya Ujang melihat Diani yang sudah memakai baju tidur lengan panjang.
"Eh, iya Kang. Emm… begini, makasih ya acara malam ini. Aku seneng banget," ucap Diani. Sebenarnya dia kesulitan mengatakan itu karena harus menurunkan rasa gengsinya. Bahkan setelah mengatakan itu, Diani memalingkan wajahnya, lalu berjalan menuju ranjang.
"Sama-sama Neng, oh iya, Neng Ani mau kado apa? Bilang aja..! Nanti Akang beliin," ucap Ujang yang berjalan mendekat, bahkan Diani bisa merasakan kalau suaminya kini ada dibelakangnya.
Saat Diani berbalik, hidungnya hampir saja menabrak hidung Ujang. Kini mereka berada diposisi yang saling berdekatan, mata Diani tak berkedip saking terkejutnya.
__ADS_1
Ujang mundur satu langkah, dia tidak mau membuat Diani tidak nyaman. "Gimana Neng, mau dibeliin apa?" Tanya Ujang lagi. Tapi Diani hanya diam.
Kenapa kamu masih saja baik? setelah perlakuanku yang tidak menerima kehadiranmu ini, bahkan sempat menghinamu kampungan segala. Apakah kamu memang memaafkan aku dengan ikhlas? Atau kini hanya berpura-pura menjadi suami terbaik atas nama kewajiban suami saja? Aku sungguh ingin tahu jawabannya, batin Diani.
"Neng…," panggil Ujang lagi.
"Ah iya Kang, duduk dulu Kang disini. Aku mau bicara..!" Ajak Diani.
Ujang pun mengikuti Diani, mereka duduk ditepi ranjang saling berdampingan. Ujang tiba-tiba merasa gelisah dengan permintaan Diani yang tiba-tiba itu, dia berpikir kalau Diani ingin memperjelas hubungannya, entah lanjut atau selesai yang pasti menurut Ujang kemungkinan berakhir itu lebih besar. Hingga membuat Ujang merasa takut.
"Ada apa Neng, kayaknya serius?" Tanya Ujang. Dia berusaha sesantai mungkin meski jantungnya dag dig dug tak karuan.
"Akang selama ini baik sama aku, sementara aku sebaliknya. Ah… rasanya aku merasa malu karena perbuatanku. Apakah Akang tidak membenciku saat aku melontarkan kata yang membuat Akang sakit hati?" Tanya Diani.
"Kata yang mana ya Neng?" Tanya Ujang.
Ah, masa aku harus mengatakan kata kata itu lagi sih? Bisa dobel dong durhakanya, batin Diani.
"Yang mana Neng? Akang memang terkadang pelupa," tanya Ujang lagi.
__ADS_1
Bersambung…..