
Tiga hari berlalu, Diani menatap ponselnya yang tidak berbunyi. Kenapa Ujang belum menghubungiku lagi? Kapan dia pulang? Batin Diani.
Diani melihat pesan terakhir yang dikirimkan Ujang, suaminya itu mengatakan kalau dia akan lebih lama tinggal di kampung karena ada sesuatu hal yang penting. Diani sebenarnya ingin menanyakan hal penting apa itu, tapi dia tidak mau dibilang ikut campur, dia tidak mau kepo dengan kehidupan Ujang yang tidak penting menurutnya.
Meski begitu hati Diani menolak pemikiran itu. Hatinya tetap saja gelisah memikirkan suaminya yang belum pulang berhari-hari.
"Semoga Ujang gak papa, gak ada hal buruk yang terjadi, aku yang terbiasa ditemani Ujang menjadi merasa kesepian dirumah sendirian," gumam Diani.
Hari ini hari libur, Diani memilih pergi bersama Fani untuk mengusir rasa sepi. Dia juga akan meminta Fani menemaninya mencari kontrakan baru. Dia masih ingin tinggal di kota ini dan bekerja, dia merasa masih membutuhkan uang untuk biaya orang tuanya. "Mana mungkin aku meminta Ujang membiayai orang tuaku, sementara sikapku saja masih seperti ini. Aku belum bisa memberikan haknya," gumam Diani.
"Kamu ngomong apa tadi? Gak kedengeran tahu, ngomong yang jelas dong… !" keluh Fani.
"Gapapa, gimana soal kontrakan, kamu punya informasi lagi gak? Kontrakan ini terlalu sumpek. Dindingnya juga lembab, gak nyaman Fan," ucap Diani.
"Aku belum dapat info kontrakan kosong lagi. Ada banyak sih cuma kontrakan untuk satu orang yang lebih kecil dari kontrakan kamu sebelumnya, apa kamu mau?" Tanya Fani.
"Gak ah, kasian Ujang. Masa kita tinggal di tempat yang sempit. Kami kan berdua, kontrakan yang lama saja hanya ada satu kamar, aku ingin yang lebih luas," jawab Diani.
"Cie… mulai peduli, hmm… " goda Fani.
"Udah deh, aku cuma berprikemanusiaan aja, dia kan anak orang," jawab Diani asal.
"Udahlah, kamu memang tak akan pernah mengakuinya, terlalu gengsi sih. Kalau Ujang sudah diambil orang baru nyesel deh nanti, hem…," ucap Fani, dia berjalan mendahului Diani.
Mereka pun berjalan lagi, menyusuri jalan mencari kontrakan yang lain. Siapa tahu dapat yang lebih luas dan lebih nyaman. Sepanjang jalan mereka saling melempar candaan, meski Fani kesal dengan sikap Diani yang memperlakukan Ujang dengan tidak layak sebagai suami. Tapi Fani juga mencoba memahami jika pernikahan itu memang dimulai dari perjodohan dan perlu waktu.
Setelah dua jam mencari tanpa hasil, mereka pun beristirahat. Mereka duduk di sebuah warung makan bakso. Memesan minuman dan juga makanan, perut mereka sudah protes sedari tadi, apalagi cuaca siang ini sangat panas.
"Kamu yang traktir kan?" Tanya Fani.
__ADS_1
"Iyalah, aku tahu malu. Mana mungkin kamu yang membayarnya, kamu kan sudah membantuku mencari kontrakan," jawab Diani.
"Ok, dua jus jeruk ya? Hehe … " tanya Fani dengan kegirangan.
"Terserah, pesan 10 gelas juga boleh asal habiskan disini saja," jawab Diani.
Fani menoleh dengan rasa kesal, mana bisa dia begitu rakus memesan sebanyak itu. Meski begitu, mereka kini makan dengan lahap, sudah biasa mereka saling mengejek, saling berbagi, saling membantu. Itu membuat mereka semakin dekat dan semakin saling terbuka satu sama lain.
***
Diani kini sudah berada didepan kontrakannya, sementara Fani sudah pulang lebih dulu. Diani yang bahagia melihat mobil Ujang terparkir di halaman, tanpa sadar dia berlari karena kegirangan seperti anak kecil yang akan mendapatkan oleh-oleh.
Diani langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu karena sadar ada Ujang didalam. Ya… mereka memiliki masing-masing satu kunci agar tidak kesulitan.
"Akang sudah pulang?" Tanya Diani pada Ujang yang kini menatap Diani karena kaget mendengar pintu terbuka dengan keras.
Diani hanya tersenyum kecil, dia kemudian berlalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Meski sebenarnya dia ingin duduk disamping suaminya dan berbincang-bincang mengenai keadaan kampung halamannya.
Diani yang sudah mengganti pakaian, kini dia duduk ditepi ranjang. Kenapa aku bisa sesenang ini bertemu dengannya? Apa aku merindukannya? Kenapa aku selebay ini sih? Jantungku bahkan ikut berdebar kencang, menyebalkan, batin Diani.
Wanita itu tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia kini menyukai suaminya, tapi dia tidak mau kalau sampai Ujang tahu, apalagi Fani. Diani berpikir jika sahabatnya itu pasti akan puas menertawakannya. Mengatakan jika dia menjilat air ludahnya sendiri, Jangan sampai itu terjadi! Jikapun iya, aku harus pastikan jika Ujang yang mengejar-ngejarku. Masa aku yang mengejarnya sih? Batin Diani.
Diani yang kenyang, dia hanya berdiam diri dikamar. Dia berharap Ujang memanggilnya, tapi nihil.
"Dia sedang sibuk apa sih, sampai lupa kalau aku ada dirumah ini?" Gumam Diani.
Diani kini berguling-guling di ranjang karena rasa penasaran sekaligus kesal. Sampai tak sadar dia berguling terlalu kencang, membuat tubuhnya jatuh dari ranjang, yang tentu saja menimbulkan suara sangat keras.
Terdengar pintu kamar terbuka dan Ujang muncul dari sana. "Neng Ani kenapa bisa jatuh?" Tanya Ujang, dia mendekati istrinya dan berusaha membantu namun tangan lelaki itu ditepis oleh Diani.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara Akang, aw… punggungku," keluh Diani. Kini dia berdiri dan duduk ditepi ranjang.
Ujang diam, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya itu. Aku baru datang, dan kenapa aku yang disalahkan? Wanita memang wanita yang sulit dimengerti, batin Ujang.
"Memangnya Akang salah apa Neng?" Tanya Ujang.
Salah, karena selalu membuatku gelisah, kesal, dan terkadang harus menahan rindu, batin Diani.
"Gak kok. Akang mungkin salah dengar. Kalau Akang sibuk, akang boleh pergi..!" Ucap Diani. Meski dalam hati, dia berharap Ujang perhatian padanya.
"Oh, yaudah Akang tinggal dulu ya? Nanti Akang mau solat magrib di masjid. Neng dirumah aja tungguin Akang pulang ya..!" Ucap Ujang.
Apa-apaan dia menyuruh seenaknya? Batin Diani.
"Iya Kang," jawab Diani sambil tersenyum.
Apa-apaan ini, kenapa aku malah menyetujuinya dan tersenyum? Sungguh bibirku saja berkhianat padaku, batin Diani.
Ujang pergi berlalu begitu saja meninggalkan Diani dengan segala rasa yang bercampur aduk di dalam hati. Diani menatap punggung Ujang sambil menghembuskan nafas kasarnya. Diani tidak tahu harus memperlakukan suaminya itu seperti apa mengingat kini dia sudah terjebak dalam cinta yang dibalut gengsi ini.
Sekitar pukul 7 malam Ujang kembali. Dia datang dengan menggunakan baju Koko putih dan sarung berwarna hitam ditambah peci warna hitam juga. Membuat mata Diani merasa sejuk memandang wajah itu, apalagi ditambah senyuman manis plus dua lesung pipi menghiasinya.
Hati Diani meleleh, kenapa dia sekarang menjadi pria tertampan yang pernah aku lihat? Hmm… ayolah Diani jangan lebay! Batin Diani.
"Neng siap-siap ya..! Akang mau ngajak Neng ke suatu tempat, Akang tunggu disini," ucap Ujang lalu duduk di sofa.
Diani mengangguk dan dengan patuh pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan tak lupa juga memakai jaket tebal. Ujang mau membawaku kemana ya? Apa makan malam romantis? Hmm… mungkin gak ya? Ucap Diani dalam hatinya.
Bersambung…
__ADS_1