
"Tapi Mak, neng Ani sepertinya masih sama, masih cuek sama Ujang Mak," jawab Ujang lesu.
"Mak liat kok perubahan si Neng, kita coba bikin si Neng cemburu lagi aja Jang..!" Ucap emak Leha.
"Tapi Mak, apa Ujang gak dosa ngerjain istri sendiri?" Tanya Ujang.
"Hmm…, yang penting kan si Neng nanti cinta mati sama kamu Ujang," jawab emak Leha.
"Hehehe… ah Emak bisa aja bikin Ujang seneng," jawab Ujang malu-malu.
Ujang bergegas mandi membersihkan diri, dia merasa lebih gugup hari ini, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dia sepertia anak ABG yang lagi kasmaran.
Ceklek
Pintu kamar pun terbuka, dia melihat Diani ternyata sudah berbaring ditempat tidur. Dia mendekati istrinya karena rindu melihat wajah cantik sang istri. Selangkah demi selangkah dia lalui dengan berat karena dia gugup sekali, tangannya pun sampai berkeringat dingin.
Baru segini aja aku sudah gugup berlebihan, bagaimana kalau nanti kami saling mencintai dan melakukan, aduh pikiranku sudah kemana-mana, batin Ujang.
"Astagfirullohaladzim…," ucap Ujang yang kaget, bahkan dia sampai terjungkal kebelakang.
Diani yang mendengar suara benda terjatuh yang tidak lain adalah suaminya sendiri, dia bangkit dari ranjang. "Akang lagi ngapain, kok sampe jatuh begitu?" Tanya Diani yang kini sudah melepaskan masker yang menempel pada wajahnya.
__ADS_1
"Neng ngagetin Akang, Akang pikir ada hantu, eh taunya hantunya neng Ani, hehe…," jawab Ujang.
"Apa? Maksud Akang aku hantu yang menyeramkan gitu?, Menyebalkan…," ucap Diani yang kemudian berdiri dan berlalu pergi karena kesal, cantik-cantik gini kok dibilang hantu sih, dasar cowok labil, katanya cinta tapi bukannya memuja eh malah menghina, batin Diani.
"Tunggu neng…! Maksud Akang bukan begitu," teriak Ujang memanggil Diani, Ujang memukul bibirnya sendiri karena salah berbicara.
Namun Diani tidak menghiraukan panggilan Ujang, dia mendadak haus dan lapar berniat pergi ke dapur. Diani memang kerap sekali melampiaskan kekesalannya pada makanan, tapi meski begitu berat badannya tidak pernah berubah, aneh tapi nyata.
Ujang terdiam dikamar, dia menyesali apa yang telah dia katakan, dia seharusnya bisa membuat istrinya jatuh cinta padanya bukan malah membuatnya tiap hari kesal dan marah-marah. Ingin rasanya menyusul Diani, tapi Ujang takut kalau nanti sikapnya malah membuat Diani semakin kesal dan semakin menjauh, Ujang memilih tidur saja dibawah.
***
"Padahal gak usah Mak, ngerepotin Emak ini mah," ucap Ujang.
"Gapapa Jang, itu juga bukan makanan spesial kaya di kota yang biasa kamu bawa, hehe... makanan ini makanan biasa buatan Emak dan Emak gak ngerasa direpotin, mudah-mudahan emak kamu suka, titip salam buat emak sama Abah kamu ya Jang..!" Jawab emak Leha.
"Iya Mak, makasih…, Ujang pamit ya Mak, assalamu'alaikum..," ucap Ujang.
"Wa'alaikumsalam…," jawab emak Leha.
Begitupun Diani, dia juga pamit bahkan membawa tasnya, dia akan menginap selama dua hari dirumah mertuanya. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya yang begitu menegangkan untuk Diani. Sementara Ujang malah senang bisa membanggakan sang istri didepan keluarganya.
__ADS_1
Mereka menaiki motor kesayangan Ujang, motor itu memang motor tua, tapi menurut Diani itu motor antik, harganya bisa saja mahal karena sudah langka dan mesinnya bagus.
"Pegangan atuh Neng nanti jatuh, jalanannya emang gak semulus dikota..!" Ucap Ujang dengan keras agar terdengar oleh Diani yang sedang dibonceng dibelakang.
"Hmm…, iya Kang," jawab Diani ragu. Bener sih jalanannya jelek, aku sebenarnya sudah gak nyaman ingin segera sampai, kalau aku gak pegangan trus jatuh bagaimana? Ah sebaiknya memang pegangan agar aku selamat, aku terpaksa melakukan ini meski aku tidak mau bersentuhan dengannya, batin Diani yang menyangkal perasaanya.
Diani pun melingkarkan lengannya dipinggang suaminya, rasa aneh yang Diani rasakan saat ini. Dia begitu tegang tapi senang, itu menyenangkan. Diani tersenyum kecil, senyuman itu dapat dilihat Ujang dari kaca spion.
"Neng tadi senyum? Neng cantik banget kalau senyum," ucap Ujang yang kini menghentikan motornya.
Apa dia melihat aku tersenyum? Apa iya aku tadi tersenyum, mana mungkin? Batin Diani. Wanita ini memang tidak mau mengakui kalau dia mulai menyukai sumainya sendiri.
"Gak ah Kang, aku gak senyum," jawab Diani dengan yakin.
Ujang tak menjawab, dia hanya tersenyum melihat tingkah Diani yang sampai melakukan kebohongan padanya, "neng…, neng…," gumam Ujang pelan. Ingin rasanya lelaki itu mencubit gemas pipi sang istri saking lucunya sikap Diani. Lelaki itu pun melanjutkan perjalanannya.
***
Setelah 15 menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah Ujang, tapi betapa terkejutnya Diani saat turun dari motor. Dia menatap Ujang sekilas, lalu bergantian menatap ke arah didepannya. Diani mengerutkan dahinya, wanita itu merasa heran sekaligus bingung.
Bersambung ….
__ADS_1