
Siang harinya Ujang dibawa ke klinik, tentu dengan Arin yang membawa mobil. Ujang sebenarnya tidak mau diperiksa, dia sudah biasa hanya menggunakan obat warung. Tapi karena paksaan Diani dan Arin, dua wanita yang berharga baginya, membuat Ujang mengalah.
"Padahal Akang gak apa-apa, gak usah dibawa ke klinik segala," protes Ujang.
"Tapi Kang, disini kan bisa diperiksa dengan teliti, ada beberapa obat juga yang khusus untuk rasa pusing, mual dan yang lainnya. Kalau diwarung kan paling obat sakit kepala dan meriang," jawab Diani.
Ujang hanya menghembuskan nafasnya perlahan, dia tidak bisa menjawab lagi. Arin juga malah ikut berada di pihak Diani, membuat Ujang kini cemberut sepanjang jalan.
"A , teh Diani bener. Udah mau dua hari AA begini, sebaiknya diperiksa aja. Nurutlah sama istri sendiri A..! ntar gak dikasih jatah loh, kan rugi, hehehe…," goda Arin.
Diani dan Ujang saling pandang satu sama lain, Jatah? Jatah apa maksudnya? Batin Diani dan Ujang.
"Hahaha…, wajah kalian kok tegang begitu, aku kan cuma becanda," ucap Arin.
***
Dua jam berlalu, Pemeriksaan pun selesai. Antrian tadi lumayan membuat Arin mengantuk. saat hendak menuju parkiran. Diani dan Arin memapah Ujang dari sisi kanan dan kiri, "Akang merasa punya dua istri deh, senangnya dalam hati, hehe…," ucap Ujang. Dia malah sempat bernyanyi segala.
"Ish, awas aja kalau Akang sampe niat poligami!" Ancam Diani.
"Tenang aja teh, aku dipihak pembela wanita yang tersakiti," jawab Arin.
Mereka pun malah tertawa bersama, Ujang tak serius mengatakan itu. Dia hanya ingin membuat suasana tidak terlalu serius dan dia bisa lupa dengan rasa sakit dibadannya. beberapa hari ini tubuhnya lemas, dokter juga telah memberikan beberapa vitamin.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Arin tak berhenti bicara. Dia memang gadis yang ceria dan cerewet. Karena Arin tidak ikut ke dalam saat pemeriksaan Ujang, Arin pun mulai kepo.
"A, jadi tadi kata dokter AA sakit apa?" Tanya Arin.
"Gapapa, Aa cuma masuk angin. Badan Aa lemes, makanya tadi dikasih vitamin juga," jawab Ujang.
"Oh lemes, beli jamu kuat aja A di mbak jamu yang lewat tiap pagi itu loh! Hehe…," goda Arin.
"Ish, ini udah ada vitaminnya Dek, ngasih saran suka aneh-aneh," keluh Ujang.
"Bukan aneh A, tapi sekalian aja. Dapet sehatnya, dapet kuatnya," jawab Arin sambil terkekeh, dia bisa melihat wajah kakak iparnya memerah karena malu, bahkan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Diani juga berpura-pura tak mendengar pembahasan itu.
"Terserah kamu aja lah Dek," jawab Ujang.
"AA jadi tambah pusing kalau dengerin lagu gini Dek," protes Ujang.
"Oh, oke. Maaf A," jawab Arin. Dia lupa kalau kakaknya sedang sakit kepala, pusing , dan mual. Pokonya sudah seperti orang ngidam deh.
***
Malam itu suhu tubuh Ujang ada dibatas normal, dari tadi siang setelah minum obat, Ujang tidak mengalami demam lagi. Diani pun memilih tidur dikamarnya bersama Ujang. Itu juga karena ulah Arin, entah dimana ditaruhnya kunci kamar tamu yang kemarin ditempati Diani.
"Akang khawatir Neng Ani ketularan, Akang yang tidur di kamar sebelah ya?" Ucap Ujang.
__ADS_1
"Gak usah Kang, aku di atas karpet aja. Ada kok kasur lantai yang beberapa hari lalu aku pesan lewat online. Lagipula kamar itu kekunci Kang, entah dimana Arin menaruhnya, dia bilang sih lupa," jawab Diani.
"Bukannya ada kunci cadangan?" Tanya Ujang.
"Sama Kang gak ada, sepertinya Arin sengaja," ucap Diani.
"Maksud Neng apa, menuduh Arin ngerjain Neng gitu? Apa kalian sebenarnya tidak akur?" Tanya Ujang. Lelaki itu bahkan terlihat kaget, dia berpikir jika dua wanitanya itu lengket dan bersahabat kalau dilihat dengan mata telanjang, tapi kenapa malah jadi seperti ini.
"Astagfirullah…, bukan gitu maksud aku. Maksudnya tuh, Arin sengaja ngelakuin itu biar kita…, emm…," jawab Diani ragu.
"Biar kita apa? Bertengkar dan saling menjauh? Gak mungkin Arin begitu," jawab Ujang membela adiknya.
Diani menepuk jidatnya sendiri, dia pusing cara menjelaskannya pada Ujang. Jika dijawab secara gamblang, dia malu. Secara kiasan, Ujang pasti tidak paham dan malah lebih salah paham. Diani mengambil nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.
Bismillah, batin Diani.
"Hmm… bukan begitu Kang. Akang inget kan beberapa hari yang lalu ibu dan Arin membelikan baju berwarna merah terang yang seperti saringan itu? Terus beberapa kebetulan lainnya yang seakan Arin merencanakannya sejak awal, Arin ingin kita lebih dekat, dan…," jawab Diani.
"Dan apa?" Tanya Ujang lagi. Dia sedikit tersenyum dalam hatinya. Ujang kini sadar apa yang dimaksud Diani, dia tahu arah pembicaraan istrinya, sekarang dia hanya ingin diam. Ingin mendengar Dianilah yang mengatakannya secara langsung.
Ujang berusaha menahan tawanya saat meliha sang istri terlihat frustasi karena bingung. Melihat Diani yang kini malah jadi menunduk, terlihat wajahnya sedikit memerah karena malu. Sungguh pemandangan yang menggemaskan bagi Ujang, ingin rasanya aku merekam istriku yang sedang dalam keadaaan seperti ini, ah tidak... lebih baik aku memeluknya erat saja, batin Ujang.
Bersambung….
__ADS_1