Kejutan Dari Emak (Perjodohan)

Kejutan Dari Emak (Perjodohan)
Apa aku sakit?


__ADS_3

Tak berselang lama Ujang menyusul Diani kedalam kamar, dia melihat istrinya yang sedang meringkuk dengan selimut tebal. Ujang duduk ditepi ranjang dia ingin mengatakan sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatinya.


"Neng…, Akang tahu Neng belum tidur, Akang cuma mau bilang kalau memang Akang bukan seseorang yang sempurna di mata Neng, Akang akan berusaha menjadi yang terbaik, menjadi suami yang baik mencintai Neng sepenuh hati, apakah tidak ada kesempatan buat Akang Neng?" Tanya Ujang.


Namun tidak ada jawaban, padahal memang Diani sama sekali belum mengantuk, bagaimana bisa dia tidur dalam keadaan kesal. Dia bahkan kini memaki Ujang di dalam hatinya.


Apa katanya jadi suami yang terbaik? Lalu tadi apa yang dia lakukan? Lebih memilih mengantar wanita lain daripada istrinya, ih nyebelin dasar cowok semua sama aja, batin diani.


"Neng, jika memang Neng tersiksa dengan pernikahan ini, Akang harus rela melepaskan Neng pergi memilih laki-laki yang pantas buat Neng, iya Akang harus ikhlas," ucap Ujang kemudian berlalu pergi.


Apalagi yang dia katakan? Tadi bilang mau mempertahankan aku dan menjadi yang terbaik, tapi beberapa detik kemudian bilang mau menyerah? Astaga dasar laki-laki labil, batin Diani.


Wanita itu melemparkan bantalnya ke sembarang arah karena benar-benar kesal dengan suaminya itu. Bahkan kini giliran gulingnya yang dia lempar, dan pas sekali saat Ujang membuka pintu dan masuk ke dalam, "Astagfirullah…".


"Ada apa Neng, kenapa kamarnya jadi berantakan begini?" Tanya Ujang, sambil memungut guling itu. Dia berjalan mendekati istrinya.


"Gapapa Kang, tadi cuma ada kecoa jadi kaget deh, aku lempar aja pake bantal dan guling," jawab Diani berbohong.


"Oh, kalau gitu Akang tidur diranjang ya? Masa di bawah sama kecoa, boleh ya Neng? Kemarin juga kan Akang boleh tidur diranjang," tanya Ujang.

__ADS_1


Diani menggelengkan kepalanya, dia masih kesal pada suaminya itu dan tidak mau berbagi tempat tidur, enak saja… tidur aja sana sama Neng Arin! Batin Diani.


"Gak bisa Kang, malam ini gerah, aku gak bisa tidur berdempetan, makin gerah nanti Kang," jawab Diani.


Akhirnya Ujang mengalah, dia mencari kecoa yang dikatakan Diani sepanjang malam, dia tidak mau kalau sampai mata atau bibirnya bengkak karena dikencingi kecoa. Terlihat Diani malah sudah tertidur pulas, karena Ujang mengantuk dia pun tertidur tanpa memikirkan kecoa lagi, kecoa yang sebenarnya memang tidak ada.


***


Pagi pun datang, pak Diman berangkat ke ladang sementara Ujang masih berdiam diri di teras menikmati secangkir kopi. Kopi buatannya sendiri karena Diani belum mau keluar dari kamarnya. Karena khawatir, Ujang pun memasak dan berniat mengajak istrinya sarapan.


"Gak usah Kang, aku belum lapar, nanti aku bikin teh hangat saja," jawab Diani.


"Kalau sakit ya minum obat lah," jawab Diani.


"Neng mah malah becanda, ayo makan..! Akang udah masakin makanan enak loh Neng," ajak Ujang.


Diani akhirnya menyerah karena tidak mau mendengar Ujang yang berbicara tidak ada habisnya. Cerewetnya ampun deh, emak aja kalah sama dia, batin Diani.


Diani kini duduk dan sarapan pagi itu, Emak Leha hanya melirik sekilas dan senyum-senyum sendirian. Ah emak, Emak bukannya nolongin aku, eh malah kegirangan, masa pagi-pagi aku disuruh sarapan sama ayam kari ditambah telur dadar, udah ada ayam eh ditambah telur ayam, apa gak sekalian sama anak ayam atau bapak ayamnya juga? Batin Diani.

__ADS_1


"Aku lagi diet Kang," protes Diani menolak masakan Ujang.


"Sehari aja Neng...gak usah diet ya? Akang udah cape masak," Ujang memohon dengan tatapan sedih.


"Oke, tapi sedikit aja ya Kang," jawab Diani.


Ujang tersenyum senang dan menemani Diani sarapan. Hari itu Ujang diam dirumah seharian, dia cuma menemani Diani, mengikutinya kemanapun dia pergi, jika Diani ke dapur Ujang akan mengikutinya. Itu membuat Diani tidak nyaman.


"Akang, kenapa gak ke ladang aja sih, aku bosen liat Akang terus," protes Diani.


"Neng kok gitu, Akang memang gak setiap hari ke ladang Neng, lagian Akang lagi perawatan kulit biar bersih kaya kulit Neng, biar glowing Neng, kan Neng suka sama bos Neng yang putih bersih kayak dibedakin sebadan-badan, hemm…," jawab Ujang dengan sedikit nada cemburu.


"Hahaha…, iya kali dibedakin Kang, hem… kalau emang gak ke ladang ya Akang cari kesibukan lain aja Kang..!" Diani 


Karena Ujang merasa Diani muak dengan kehadirannya, dia pun memilih pergi ke ladang untuk mengecek para pekerjanya. Dia tidak mau kalau istrinya itu semakin tidak menyukainya. mungkin aku harus sabar, gak boleh terburu-buru, batinnya.


Setelah kepergian Ujang, Diani malah merasa bosan, dia tiba-tiba merindukan suaminya yang baru pergi itu. Kenapa saat ada orangnya aku kesal, tapi pas gak ada malah ingin ketemu?, Apa aku sakit? Aku harus segera memastikan ini, aku tidak mau sakit berkepanjangan, Batin Diani. Diapun menghubungi seseorang.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2