
****
Aldi dan Gusti melangkah bersama memasuki gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan Rizki Davelopment.
Tidak ada pembicaraan diantara kedua laki-laki tampan ini. Hingga akhirnya mereka memasuki ruangan masing-masing.
Gusti yang merasa bingung harus bersikap bagaimana pada Aldi dan Nadine lebih memilih diam.
Sedangkan Nadine yang berusaha tegar dan kuat untuk menerima semua kenyataan. Tidak bisa dipungkiri baru beberapa minggu menjalin hubungan, Nadine sudah mencintai Aldi begitupun Aldi padanya.
Aldi yang tidak tahu ia akan dijodohkan nampak kesal pada Nadine hari ini, tidak seperti biasanya Nadine mencuekinya dan membuang muka padanya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Nadine tapi tidak ada satupun jawaban dari Nadine.
Berkali-kali Aldi memfokusi dirinya pada tumpukan berkas yang ada di hadapan nya, tapi tetap saja yang ada di pikiran nya hanya Nadine.
"Karna dicuekin gini, pikiran gua jadi berantakan. Ada apa sih sama Nadine" Gumam Aldi dalam hati dan memijat pelan kening nya.
Aldi mulai kembali memeriksa laporan keuangan dihadapan nya, posisi nya saat ini sebagai Direktur/Manajer keuangan diperusahaan ayah nya. Membuat nya harus benar-benar teliti dan fokus memeriksa dan membuat laporan keuangan sebelum diserahkan pada Komisaris utama yaitu ayah nya.
****
5 hari sudah berlalu, sama seperti hari-hari kemarin Nadine masih mendiami Aldi. 3 hari lalu Nadine memutuskan untuk mengganti nomor telfon nya, karna merasa terganggu dengan telfon Aldi yang terus terusan setiap menit nya.
3 hari yang lalu juga Aldi sudah jujur dengan Gusti. Jika ia memiliki hubungan dengan Nadine, tapi beberapa hari ini Nadine mendiamkan nya dan sama sekali tidak membalas pesan atau telfon nya.
Gusti hanya bisa diam ketika Aldi menceritakan dan bertanya kenapa Nadine mendiamkan nya. Gusti sendiri sampai saat ini masih bingung bagaimana menjawab dan menyikapinya, ia sendiri sebenarnya mendukung penuh hubungan Aldi dan Nadine tapi dengan hal perjodohan itu membuat Gusti juga mendukung penuh keputusan adik nya itu untuk menjauh dari Aldi dan tidak membuat ayah Aldi marah.
Hari ini tepat nya, Nadine harus kembali ke ibu kota untuk melanjutkan sekolah nya.
"Ade sudah siap?" tanya Gusti saat melihat Nadine sudah membawa kopernya keluar dari kamar
"Sudah kak, ayo. Aku takut ketinggalan pesawat" ujar Nadine
Gusti mengangguk lalu mengambil kunci mobil nya, dan berlalu pergi menuju bandara dengan Nadine.
Aldi yang tidak bisa tidur belakangan ini, keluar dari apartemen nya dengan rambut yang begitu berantakan. menuju apartemen Gusti dan ingin bertanya lagi alasan Nadine mendiamkan nya pada Nadine, walaupun pasti sama saja. Tanpa melihat Aldi, Nadine berlalu pergi meninggalkan Aldi dan menghindari nya saat ditanya.
__ADS_1
Beberapa kali Aldi memencet password apartemen Gusti, kepala nya yang sedikit pusing membuat pengelihatan nya tidak begitu jelas. Hingga akhirnya pintu apartemen terbuka.
Aldi memasuki apartemen Gusti, terlihat begitu sepi. Tidak seperti biasanya. Aldi teriak memanggil Gusti dan mengelilingi Apartemen
"Guss.."
"Gustiiii"
"Gustii"
"Gusti....." Panggil Aldi
Tidak ada jawaban sama sekali dari Gusti
Aldi membuka pintu kamar Gusti, melihat kamar nya yang ternyata kosong. Lalu menuju kamar Nadine
Tokkk.. tokk.. tokk
"Nad" panggil Aldi
Hingga akhirnya Aldi membuka pintu kamar Nadine yang ternyata tidak di kunci.
Aldi melihat kesekeliling kamar, nampak rapi. Aldi melihat koper Nadine sudah tidak ada, ia tahu betul koper Nadine diletakan disamping lemari. Tapi koper itu tidak ada, Aldi membuka lemari yang berada di kamar itu dan ternyata kosong hanya menyisakan beberapa selimut dan handuk yang menumpuk rapi.
Aldi tersadar, hari ini adalah hari minggu, dimana hari terakhir Nadine libur sekolah nya. Aldi langsung berlari menuju apartemen nya, mengganti baju nya dan mengambil kunci mobil nya
Dengan kecepatan yang kencang Aldi mengendarai mobil nya menuju bandara.
Aldi berlari mencari keberadaan Nadine dan Gusti. setelah 30 menit mencari Nadine, langkah Aldi terhenti pusing di kepala nya semakin terasa. Aldi duduk di kursi tunggu dan memijat pelan kening nya.
"Nad dimana kamu?" gumam Aldi dalam hati
"Aldii" teriak Gusti saat berjalan seorang diri dan melihat Aldi yang sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah yanh begitu pucat
Aldi yang mendengar suara Gusti bangkit dari duduk nya dan melihat ke sumber suara, Aldi langsung berlari menghampiri Gusti.
__ADS_1
"Gus, Nadine mana?" tanya Aldi dengan tegopoh-gopoh
"Muka lu pucat Di, badan lu panas. Ngapain lu disini" ucap Gusti panik setelah memegang kening Aldi
Gusti mengajak Aldi duduk kembali dikursi tunggu, dan menyodorkan air mineral yang Gusti baru saja beli.
"Minum dulu" suru Gusti menyodorkan air mineral
"Nadine mana Gus" tanya kembali Aldi saat selesai minum
"Kita ke resto dulu, makan dulu" ajak Gusti
Gusti merangkul Aldi yang begitu lemas, dengan langkah yang pelan.
Gusti dan Aldi memasuki restaurant jepang yang berada di bandara, lalu Gusti memesankan beberapa makanan untuk nya dan Aldi.
Sedangkan Aldi saat sampai di restaurant, langsung merebahkan tubuhnya di kursi yang ukuran nya cukup besar dan panjang.
"Gus, Nadine mana?" tanya kembali Aldi dengan mata terpejam
Gusti tidak menjawab pertanyaan Aldi, ia sibuk menelfon Fahri dan Daniel sahabatnya. Meminta mereka datang ke bandara, dan membantu membawa Aldi pulang.
*Tutttt.... Tutttt...
"Hallo Gus*" ucap Fahri dalam telfon
"Bro sibuk ngga? bisa ke bandara dulu ngga ke resto jepang. Aldi sakit" ucap Gusti
"Ko bisa si Aldi sakit dibandara? Yaudah deh sekarang gua sama Daniel otw nih. Kebetulan Daniel lagi sama gua" Terus Fahri
"Oke ditunggu"
Gusti mematikan telfon nya, dan melirik Aldi yang sedang memejamkan matanya. Wajah Aldi begitu pucat, suhu tubuh nya begitu panas
"Gus, Nadine manaa?" tanya kembali Aldi dengan begitu lemas dan mata terpejam
__ADS_1
****