
****
Gusti dan Shilla sampai dicafe yang letak nya masih dalam lingkungan apartemen
"To the point aja yah Gusti, kakak gapunya banyak waktu" ucap Shilla
"Bagaimana kabar Aldi kak"
"Aldi baik"
"Dimana dia sekarang, apa diapartemen nya?"
"Pastinya keadaan dia baik-baik saja Gusti, tidak perlu cemas. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri saja" terus Shilla
Gusti mengangguk paham
"Jadi apa yang mau kamu sampaikan Gus" tanya kembali Shilla
Gusti mengangguk lalu tersenyum
"Jadi kak, wanita yang akan dijodohkan dengan Aldi adalah Nadine"
Shilla terbelak kaget mendengar ucapan Gusti
"Dari mana kamu tahu Gusti"
"Ternyata, Ayahku dan pak Abraham adalah sahabat karib. Tadi ayahku bilang ia sedang bertemu dengan teman nya, ternyata teman nya itu pak Abraham. Dan saat itu juga aku mengetahui semua ini"
Shilla nampak tersenyum lebar mendengar berita ini, ia harus cepat-cepat merayu Aldi untuk kembali beraktifitas agar cepat mengetahui semua hal ini.
"Syukurlah jika seperti itu, aku kasihan dengan Aldi"
__ADS_1
"Aldi, mengurungkan diri nya karna belum siap ketemu dengan semuanya. Dengan teman-teman nya terutama kamu, ia malu padamu karna tidak bisa menjaga baik adikmu seperti apa yg sudah dia janjikan"
"Lalu dimana Aldi sekarang kak" tanya Gusti
"Aldi diapartemen nya, ia mengganti password nya agar kalian tidak bisa masuk" ujar Shilla
"Boleh aku menemui nya?" tanya Aldi
Shilla mengangguk lalu mengetik password apartemen Aldi dan mengirimkannya pada Gusti.
****
Nadine yang selesai membersihkan badannya, membuka gorden kamar. Melihat gunung-gunung yang masih ditutupi kabut sambil duduk di kasurnya
Rintikan hujan terah tiada, menyisakan basah pada bumi. Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, tapi udara masih saja terasa dingin.
Sesekali ia menyeruput coklat panas yang ada ditangan nya
Nadine membenarkan posisi duduknya mengintip sedikit melihat seseorang itu siapa lagi kalu bukan Aldi yang sedang berada di balkon. Nadine nampak terkejut melihat Aldi, tubuh yang sedikit kurus dan rambut nya yang cukup panjang. Begitupun dengan bulu-bulu halus disekitar wajah nya.
Yang membuat Nadine lebih terkejut lagi, saat melihat Aldi sedang menghisap sebatang rokok. Ia tahu betul jika Aldi sudah menjauhi rokok sejak beberapa tahun lamanya.
Begitu lama Nadine memperhatikan Aldi secara diam-diam dari dalam kamarnya, rasa rindu nya kembali memberontak ingin memeluk sang pemilik rindu tersebut. Tapi ia tersadar, bahwa ia bukan lagi siapa-siapa.
"Yaampun Nad, gaboleh. Gaboleh terus-terusan kaya gini. Lupain lupain, dia itu suami oranggg" pekik Nadine pada dirinya sendiri
Nadine langsung kembali menutup gorden kamarnya, dan berlalu pergi keluar kamar.
Nadine menghempaskan tubuhnya disofa, menetralisir jantung nya yang berdetak begitu kencang dan memejamkan matanya mengaharpkan ketenangan.
Tapi nyata nya nihil, jantungnya masih saja berdegup begitu kencang.
__ADS_1
Memang tidak bisa dibohongi, rasanya untuk Aldi masih tersimpan rapi didalam hatinya.
Nadine membuka handphone nya, mengetik beberapa kalimat dan menjadikannya stories dalam akun instagram nya.
@Nadinealvi18
Simpanlah apa yang kau rasa dalam Diam, seRahasia mungkin. hingga Debaran nya hanya engkau dan Tuhan yang mampu Mendengarnya.
- Sejauh mata memandang -
Nadine mulai kembali memejamkan matanya, kembali untuk mengharap ketenangan.
Drettt...
Getaran handphone Nadine membuat nya kembali membuka mata dan melihat notifikasi yang masuk pada handphone nya.
Mata Nadine terbelak lebar, notifikasi kali ini berasal dari Aldi yang menandainya didalam stories di akun instagram nya.
@Aldirizki
Setelah kamu pergi, aku menjalani hari-hari yang asing, penuh pertanyaan, juga rahasia. Menghadapi kenyataan bahwa kamu tidak di sini, bahwa aku tidak akan menemukan pelukanmu lagi adalah kebiasan baru yang berusaha harus kucintai.
- Senjaamu -
Setelah membaca nya, Nadine berlalu memasuki kamarnya. Menghempaskan tubuhnya kasar pada kasur, air mata Nadine menetes membasahi pipinya.
"Kak Aldi" ucap Nadine dalam tangisnya
.
****
__ADS_1