
****
Angin berhembus kencang menerpa helaian rambut panjang Nadine yang sedang berdiri di rooftop gedung stasiun televisi tempatnya pkl. Pandangan lurus ke depan mihat lalu lalang kendaraan yang merayap padat memenuhi ibu kota.
"Lagi ngapain nad" tanya laki-laki yang baru saja datang
Nadine membalikan badan nya, terlihat laki-laki dengan rambut cukup berantakan dengan nametag yang berlogokan stasiun televisi yang menggantung di leher nya.
"Fadli" ucap Nadine
"Ngapain lo disini" tanya kembali Fadli
"Ngitungin kendaraan yang lewat" jawab Nadine dan kembali membalikan badannya
"Cerita sama gua" ujar Fadli dengan datar dan berdiri disamping Nadine
Nadine hanya diam tidak menjawab
Fadli merasa ada yang aneh pada Nadine, terlihat raut wajah Nadine seperti yang sedang menahan sedih dan tangis nya.
"Keluarin aja, gausah ditahan" ujar Fadli dengan datarnya dan pandangan lurus ke depan
"Hiksss..hiksss" tangis Nadine seketika dengan kencang
Fadli hanya sedikit melirik pada Nadine yang sedang menangis dan kembali melihat pemandangan ibu kota dari atas gedung stasiun tv tempatnya magang.
.
Tak terasa sudah 50 menit lamanya Nadine menangis, 50 menit juga Fadli menemani Nadine dengan diam nya. Hanya sesekali Fadli melirik pada Nadine
Nadine yang merasa capek duduk begitusaja dibawah, di ikuti dengan Fadli yang masih setia menemani Nadine.
Nadine mengusap pelan sisa-sisa air mata di sudut matanya, dan mengusap pelan pipinya yang basah.
"Kenapa lu ngga minta gua buat berhenti nangis? seperti orang lain pada umumnya saat melihat seseorang nangis dan sedih" tanya Nadine tiba-tiba
"Lu kan manusia, gapapa sedih gapapa nangis hal itu wajar. Setiap manusia ngga dituntut untuk selalu baik-baik aja" jawab Fadli
__ADS_1
"Sekarang udah puas?" tanya Fadli
"Puas apa?" jawab Nadine
"Puas nangis"
Nadine hanya diam tak menjawab pertanyaan Fadli
"Gua bisa jadi pendengar buat lu, mulut gua juga terkunci tentang persoalan oranglain" ucap kembali Fadli
"Fad, There's nothing i can do (tidak ada yg bisa saya lakukan)" ucap Nadine dengan air mata yang kembali menetes di pipi nya
"Gua baru aja memulai, yang gua rasa ini adalah akhir dan gua rasa ini adalah rumah. Tapi ternyata, tuhan punya sekenario lain buat gua dan dia. Dan akhirnya gua putusin buat tinggalin dia"
"Dengan alasan?" tanya Fadli
"Dia akan dijodoin sama orangtua nya, gua gamau jadi penghalang atas itu" jawab Nadine dan kembali menangis
"Than there's nothing i can do but to accept it. Just let it be. (tidak ada yg bisa saya lakukan selain menerimanya. hanya membiarkan nya saja)" terus Nadine
Getaran handphone Nadine menghentikan ucapan dan tangis Nadine, ia meraih handphone yang berada di saku celana nya. Dan terlihat nama Gusti kakak nya di layar handphone nya.
"Hallo" ucap Nadine
"Hallo ade, lagi dimana?" tanya Gusti di dalam telfon
"Aku masih di tempat magang kak"
"Selesai jam berapa? kakak di bandara nih" ucap Gusti
"Mau kemana kak" tanya Nadine
"Kakak baru aja landing di jakarta de, kamu udah selesai? kakak jemput ya" jawab Gusti membuat Nadine terbelak kaget
"Kakak dijakarta?"
"Iya ade, kirim alamat apartemen mu ya" pinta Gusti
__ADS_1
"Oke"
Nadine mematikan telfon nya, dan mengirimkan pesan alamat apartemen yang baru saja ia tempati saat mulai magang di stasiun televisi yang jarak nya cukup dekat.
Setelah mengirimkan alamat apartemen nya pada Gusti Nadine kembali memasukan handphone nya ke dalam saku dan duduk kembali disamping Fadli.
"Apa gua boleh tau nad, seseorang itu siapa?" tanya Fadli tiba-tiba
"Dia Aldi, sahabat kakak gua" jawab Nadine dengan pelan dan kembali mengusap air mata yang sedikit menetes di sudut mata nya
"Lu sayang dia?" tanya kembali Fadli
"Soal sayang, memang tidak bisa dipungkiri. Walaupun dia adalah orang baru, tapi rasa sayang gua sudah besar buatnya"
Fadli mengangguk atas jawaban Nadine, ia tidak bisa banyak bicara. Khawatir akan tambah membuat Nadine sedih
"Gua gabisa berbuat apa-apa, gua gabisa buat maksa bisa selalu punya hubungan spesial dengan nya. Apalagi sampai melawan pinta orangtua nya, lagi pula kan sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik" ucap Nadine
"Dengan hal ini, gua jadi dikasih lihat bukti nyata. Kalo ujung rasa sayang itu bukan kepemilikan, melainkan keikhlasan" lanjut Nadine dan kembali terisak tangis
Fadli hanya diam melihat Nadine, selama ia mengenal Nadine sedari Smp dulu. Baru saat ini Fadli melihat Nadine sedih hingga membuat hari-harinya telihat tidak semangat. Dan baru saat ini juga Fadli melihat Nadine menangis sebegitu terisak nya
"Fad, menurut lu yang bisa dijadiin rumah itu yang kaya gimana?" tanya Nadine tiba-tiba sambil kembali mengusap air matanya
"Yang statis, jangan dinamis. Manusia itu kan dinamis, keadaan dan perasaan nya aja bisa berubah-ubah. Yah apalagi keberadaan nya" jawab Fadli
"Jadi menurut lu, keputusan gua kemarin menjadikan seseorang sebagai rumah itu adalah hal yang salah?" tanya kembali Nadine
tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Fadli menganggukan kepala nya.
"Nad, sebaik-baiknya rumah adalah diri sendiri" ucap Fadli dan bangkit dari duduk nya
"Yuk turun ke bawah, sebentar lagi jam pulang" ajak Fadli dan berlalu pergi begitusaja meninggalkan Nadine
Nadine bangkit dari duduk nya dan berjalan mengikuti Fadli untuk kembali ke bawah.
****
__ADS_1