
Bab 10
Tampaknya Marco belum pulang. Dan hari ini rasanya, ia malas makan apapun selain mie udon yang diinginkannya.
Lalu ia memesan taxi dan pergi setelah meninggalkan pesan kepada kepala pelayannya.
Sebenarnya, Linda enggan pergi sendirian tapi karena keadaan tidak memungkinkan untuknya bermanja-manja, dia mencoba untuk belajar mandiri.
Rafael meneleponnya dan ia mengingat janjinya kepada Marco akhirnya dia sedikit berbohong kepada Rafael yang menghubunginya.
“Aku ingin istirahat dirumah. Tadi sudah seharian pergi mencari kelengkapan showroom baruku.“
“Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku bisa menemanimu…,“ tanya Rafael tidak mengerti.
“Dan menyita waktumu? Dan bagaimana dengan target bisnismu bila gagal, nanti pasti kau salahkan aku sebagai penyebabnya!“ kata Linda sambil terkekeh.
Pelayan memberikan daftar menu.
Cepat-cepat Linda menutup teleponnya dan memberi kode kepada Pelayan agar jangan bicara dulu dan meninggalkannya.
“Ada apa? Apa ada orang lain disana?!“
“Hanya pelayan yang ingin menawariku makan.“
“Kau sudah makan?“
“Sudah tadi. Raf, aku ingin istirahat sekarang. Besok kalau kau ada waktu, teleponlah aku, oke!“
Begitu menutup teleponnya, Linda langsung memesan mie udon dan teh kepada pelayan.
Rasanya aneh pergi sendirian.
Seumur hidup, jarang sekali ia pergi keluar tanpa ada yang menemani.
Saat masih sendiri, entah itu keluarga atau teman-temannya, pasti selalu menemaninya. Saat ia menjalin hubungan dengan Daniel, dialah yang paling setia menemani kemanapun ia inginkan.
Linda menghembuskan napasnya karena merasa kesepian.
Ia sangat terganggu dengan tatapan pria-pria itu kepadanya. Mereka seperti ingin menggodanya! Linda paling sebal menghadapi pria-pria seperti itu.
“Hai, kau sendirian?“ tanya seorang pria mulai mendekati mejanya dan berniat duduk dikursinya.
__ADS_1
“Tidak, sebentar lagi suamiku akan datang,“ katanya dengan cepat.
Ia benar-benar merasa takut dan menjadi gelisah dengan gangguan yang ia dapat saat ini.
“Oh, kau sudah menikah?!“ tanya Herios tampak kaget dan memandang remeh saat memperhatikan jemari Linda yang kosong.
Ia tahu wanita ini berbohong dan belum menikah!
“Sudah. Apakah kau bisa meninggalkan aku sendiri? Aku tidak mau sampai suamiku melihat pria lain mendekatiku, dia sangat posesif padaku. Ah, ini dia menelepon, sudah dulu yah!“ kata Linda cepat-cepat mengangkat telepon.
Tapi tampaknya pria itu tampak enggan menjauhinya. Linda mengerang dalam hati.
“Ah suamiku, sudah selesai meetingnya? Yah, sudah yah kau langsung kesini saja, aku sudah agak lama menunggumu.“
“Linda? Ini aku, Marco!“ Marco tidak mengerti perkataan Linda.
“Yah, tidak apa-apa. Aku tunggu yah!“
Linda tersenyum kepada pria itu dan tampaknya pria itu mulai percaya dan meninggalkannya.
“Kemana?“
“Tidak apa-apa. Ada apa kau meneleponku?“ tanya Linda langsung mengubah nada bicaranya.
“Bukan apa-apa. Sudah yah, kalau tidak ada hal penting aku mau makan sekarang.“
“Kau ada dimana sekarang?“
“Di … “ Linda melirik daftar menu.
“Restoran Jepang Tadanama.“
“Sendirian?“
“Berdua.“
“Dengan siapa!?“ sahut Marco cepat.
“Dengan pelayan! Ini dia, kau ingin bicara?“
Linda kesal sekali ketika pria itu kembali menghampirinya.
__ADS_1
“Tunggu sebentar yah suamiku, “ kata Linda dengan manis dan menutup ponselnya dengan jarinya.
“Ada apa lagi?“
“Kukira aku ingin menemanimu, sampai suamimu datang.“
“Tidak, tidak, tidak aku tidak mau diganggu! Sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggilkan pelayan untuk mengusirmu.“
“Auch, galak sekali! Wanita semanis kamu mana pantas bicara kasar seperti itu.“
“ Pelayan! Ini tolong dong!“ teriak Linda dengan keras.
“Kau benar-benar mengusirku?! Apa kau tidak tahu siapa aku?!“ tanya Herios tidak percaya.
“Tentu saja, apa kau tuli!“ kata Linda dengan kesal.
“Tolong dong jauhkan dia dari meja saya! Atau saya akan pergi dari sini!?“ kata Linda kepada dua orang pelayan yang langsung menghampirinya.
Linda lega, ketika kedua pelayan itu dengan tegas menyuruh pria itu menjauhi mejanya.
Linda menghela napas kesal sekaligus lega melihat pria itu menurut dan turun ke bawah.
“Linda! Linda! Kau masih disana?!“
“Yah.“
“Ada apa?!“
“Ada pria gila yang mencoba mendekati dan menggangguku!“
Linda menggeram kesal karenanya.
“Aku akan kesana. Kau tunggu aku yah!“
“Tidak perlu, dia sudah pergi kok!“
“Aku percaya, dia masih menunggumu keluar dari restoran.“
“Kalau begitu, cepatlah kemari!“ kata Linda tanpa berpikir dua kali.
Mungkin saja pria itu masih menungguinya dan dia juga sedikit takut membayangkan hal yang tidak baik terjadi padanya.
__ADS_1
Linda menggeleng ngeri, membayangkan hal-hal yang melintas dibenaknya.