
Bab 16
Daniel menghubunginya!
Dia lupa hari ini belum sekalipun menelepon Daniel karena keasyikan bekerja.
“Sayang, maaf yah hari ini aku sibuk sekali, hingga lupa meneleponmu.“
“Sedihnya aku,“ kata Daniel sambil merajuk.
“Iya, maaf yah. Ini juga aku masih dishowroom.“
Linda memekik senang.
“Kau harusnya melihat semua ini, Daniel! Tempat ini akan sangat menghasilkan dan akan menjadi salah satu bangunan terindah di kota ini.“
“Seandainya saja mungkin.“
“Sabar yah, semuanya akan berjalan lancar seperti yang kita harapkan! Kemudian kau dan aku akan kembali bersama lagi. Oh, aku sangat merindukanmu!“
“Aku juga hampir gila karena merindukanmu. Aku ingin meneleponmu setiap kali aku mau tapi aku takut, mengganggu pekerjaanmu.“
“Yah, sebaiknya malam saja kita telepon-teleponan. Lebih nyaman bagi kita berdua!“ kata Linda sambil cekikikan.
“Istriku, apa kau merindukan aku?“ tanya Daniel dengan mesra.
“Suamiku, kau tahu aku merindukanmu!“ jawab Linda dengan mesra lalu terkekeh.
“Disini sangat sepi tanpa dirimu.“
“Disini juga. Tapi kita harus bisa menahan diri agar semua harapan dan masa depan kita yang cerah, bisa terwujud. Aku juga tidak sabar bisa mengandung anakmu!“
“Benar?!“
“Tentu saja! Setelah semuanya berjalan lancar. Kita akan memulai program lembur kita,“ Linda terkekeh malu.
“Tanpa pelindung?“
“Tentu saja bodoh! Apa kau kira bisa terjadi begitu saja tanpa pembuahan yang normal!“ kata Linda lagi sambil tertawa.
__ADS_1
“Apa kau bisa pulang sekarang juga? Aku jadi sangat merindukanmu. Aku ingin menyentuhmu!“ kata Daniel sambil mendesah karena menahan kerinduannya kepada Linda.
“Sabar yah, setelah semuanya berjalan lancar, kita akan bersatu kembali dan kau dapat menyentuhku, sepuas yang kau mau! “kata Linda sambil menghibur suaminya.
“Aku mencintaimu.“
“Aku juga mencintaimu. Mana sun jauhnya?“
“Muah, muah, muah!“ kecup Daniel dengan keras dari balik telepon.
Linda tertawa mendengar kecupan Daniel. “Aku mencintaimu, suamiku.“
“Aku juga sangat mencintaimu, istriku.“
“Aku tutup teleponnya yah, aku sudah mau pulang sekarang.“
Linda merapikan roknya sambil menatap sekali-kali seluruh ruangan yang terdapat di showroomnya.
Ia mematikan semua lampu dan pendingin ruangan dan agak kaget saat menabrak tubuh seseorang yang berada dalam kegelapan.
“Siapa?“ tanya Linda dengan kaget.
“Kenapa kau senang sekali mengagetkan aku yah?“ kata Linda sambil berusaha mencari sakral listrik.
“Tidak perlu, ini juga sudah malam. Ikuti saja aku.“
Marco menggandeng tangannya! Tampak konyol rasanya, kalau dia masih menolak niat baik Marco dengan menyalakan dan mematikan sakral gedung pertemuan.
“Jangan cepat-cepat. Lagipula seharusnya, kau tidak mematikan sakral dalam ruangan ini dulu. Kita bisa terjatuh karena tidak bisa melihat.“
“Mangkanya jangan jauh-jauh dariku.“
Marco menarik tangan Linda mendekat padanya.
“Yah, yah, yah!“ kata Linda sambil berpegangan penuh kepada Marco.
Linda tidak tahu bagaimana cara Marco melihat dalam kegelapan seperti ini tapi Marco rupanya benar-benar ahli berjalan dalam kegelapan karena mereka telah sampai di pintu utama yang masih terang benerang.
Linda merasa lega karenanya.
__ADS_1
Marco membantu mematikan setiap lampu dan pendingin ruangan.
“Apa tidak sebaiknya menggunakan pendingin sentral yang bisa dimatikan dan dihidupkan secara bersamaan?“
“Tidak, itu akan membuang-buang listrik. Karena gedung pertemuan rata-rata hanya digunakan 2 hari dalam seminggu. Kalau kita menggunakan pendingin yang seperti itu maka akan menambah beban listrik yang seharusnya tidak terpakai.“
“Begitu? Apakah begitu juga dengan lampu?!“
“Kalau lampu malah lebih rumit dan aku perkecil setiap himpunannya. Satu sakral untuk satu himpunan lampu.“
“Apa tidak repot seperti itu?“
“Tentu saja tidak. Selain kita bisa mengatur penerangan dalam ruangan, kita juga bisa segera mencari jalinan kabel jika terjadi kerusakan.“
“Kau memikirkan sedetail itu?“
“Tentu saja! Aku tidak mau bekerja sampai dua tiga kali sampai menemukan formula yang tepat untuk tempat usahaku. Itu sama saja membuang-buang uang sekaligus waktuku!“
Marco tersenyum. Ia benar-benar kagum dengan pemikiran Linda yang seksama.
“Aku benar-benar kagum padamu.“
“Aku sudah tahu!“ sahut Linda sambil tertawa.
Sesampainya dirumah, Linda tidak segera istirahat melainkan meminjam komputer yang ada diruangan kerja Marco.
Ia membalas semua email yang masuk dan mengecek pesanan gaunnya dan memastikan semuanya sedang dikerjakan.
Linda juga terbiasa mengharuskan supplayernya memotret setiap gaun yang sudah jadi dan mengirimkan kepadanya agar ia bisa melihat gaun yang ia pesan jadi sesuai dengan yang ia inginkan.
Ia tersenyum senang saat melihat beberapa pesanan gaunnya yang sudah jadi dan dikirimkan melalui emailnya. Semua detail dan warna benar-benar dibuat sesuai dengan desain yang ia inginkan.
Ia memberikan acc kepada setiap gambar yang disetujuinya untuk dikirimkan bersamaan gaun yang lain.
Ia tidak percaya bisa merasakan saat-saat ini lagi.
Saat-saat dia bersemangat lagi memulai usahanya!
Linda benar-benar merasa gembira.
__ADS_1