
Bab 43
Dia langsung pulang kekotanya saat itu juga dengan hati yang berdebar karena ingin memastikan suatu kebenaran dari Linda tapi sebelumnya, ia menghubungi ayahnya dan meminta ayahnya mencarikan dokter terbaik untuk merawat Linda dan bayinya dirumah.
Melihat kedatangan Dokter, Linda menjadi ketakutan dan mengunci pintu kamarnya.
Meskipun terus diberitahu mereka tidak akan melakukan apapun pada bayinya, Linda masih tetap tidak percaya dan memilih meringkuk diranjangnya dengan ketakutan sambil memegangi perutnya dan mengelus-elusnya.
“Mereka akan memaksamu keluar dari kandungan Mami. Kau harus bertahan apapun yang terjadi. Kau tidak boleh menyerah! Hanya tinggal kamu dan Mami disini, kamu harus kuat untuk Mami, yah?“ pinta Linda sambil terisak.
Bahkan Widyaya-pun tidak berhasil membujuk Linda membukakan pintu.
Dia benar-benar kaget dan juga cemas saat mendengar penjelasan Marco mengenai bayi mereka.
Tapi ia tahu perasaan Linda saat ini.
Ia ketakutan karena menganggap mereka akan membuang janinnya untuk menyelamatkan jiwanya.
Widyaya mencoba berbicara lagi dari balik pintu.
“Linda, ini Papa. Kau harus yakin dokter yang datang disini untuk menyelamatkanmu dan juga bayimu, buka pintunya yah?“
Tetap tidak ada tanggapan.
Seandainya saja mereka memiliki duplikat kunci pintu kamar Linda dan membayangkan pintu kamar mereka tidak terbuat dari kayu mahoni dengan ketebalan 10 cm maka mereka akan mendobrak pintu itu dan segera memberikan pertolongan kepada menantunya itu, erang Widyaya sangat menyesalkan hal itu.
__ADS_1
Kini dia sangat resah karena tidak bisa mendengar suara apapun dari dalam kamar.
Widyaya memberitahu kondisi yang tengah mereka hadapi saat ini kepada Marco yang masih berada dalam perjalanan.
Ketika Marco mengusulkan sebuah ide gila kepadanya, dia benar-benar marah tapi akhirnya memutuskan untuk mencoba idenya itu.
Ia mengeraskan suaranya dan berusaha menggedor-gedor pintu kamar Linda.
“Marco kecelakaan!? YahTuhan, sekarang ada dimana dia?!“ kata Widyaya sambil berusaha untuk terlihat panik.
“Marco kecelakaan?“ ulang Linda pelan sambil membuka matanya.
“Linda, buka pintunya. Kita harus segera ke Rumah Sakit Citra Persada, Marco mengalami kecelakaan! Tapi kalau kau tetap tidak mau membukakan pintu, Papa akan pergi sendiri …“
“Sudahlah, Papa pergi dulu yah sekarang!“
Cepat-cepat Linda membuka semua kunci dan gerendel pada pintu kamarnya.
“Aku ikut!“
Widyaya kaget melihat wajah Linda yang sangat pucat tapi masih bisa berdiri tegak seperti sekarang ini.
“Lebih baik kau dirumah saja, kau tidak bisa kerumah sakit dalam kondisi seperti ini.“
Linda menatap dokter dan beberapa suster yang sedang menantinya.
__ADS_1
“Apa kalian akan menyelamatkan bayiku?“ tanya Linda sambil menahan air matanya.
“Kami akan berjuang keras untuk itu Nyonya,“ kata Dokter Gabriel sambil mendekati Linda dengan hati-hati.
Linda terduduk sambil mendekap perutnya.
“Selamatkan dia, apapun yang terjadi, aku tidak mau hidup tanpanya, berjanjilah padaku!“ kata Linda tidak bisa mencegah air matanya.
“Saya akan berusaha dan sekarang bisakah kami memulai pertolongan sebelum semuanya terlambat?“
“Yah, lakukanlah, Dokter. Papa, aku akan menyusulmu nanti setelah dokter memeriksaku, …“
Widyaya memeluk tubuh Linda yang semakin kurus dan lemah.
“Kau harus berjuang keras untukmu dan bayi kalian! Jangan pikirkan Marco, ini hanya ide gila untuk membuatmu keluar dari kamar.“
“ Papa!“
“Aku tahu, aku tahu tapi aku juga ingin secepatnya melihat kau dan bayi kalian sehat untuk itulah Papa memanggil Dokter Gabriel yang kebetulan baru pulang dari Korea. Dia berjanji akan menyelamatkan kalian berdua!“
Widyaya tidak sanggup membendung tangisnya.
“Yah, tapi Papa bisakah kau memapahku ke kamar sekarang? Aku merasa sangat lemas saat ini,“ kata Linda ketika merasa pandangannya kembali memudar.
Marco tiba tepat ketika Linda hampir jatuh pingsan dan segera menggendongnya masuk kedalam kamar.
__ADS_1