
Bab 39
Linda benar-benar tidak tahu dan merasa sedih dengan semua yang telah terjadi.
Daniel terheran-heran menerima kepulangan istrinya yang tidak sesuai dengan jadwal biasanya. Tapi melihat wajah istrinya yang pucat karena kelelahan Daniel mengurungkan niatnya untuk bertanya dan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.
“Kau naik mobil?“
“Yah.“
“Apa kau merindukanku?" tanya Daniel sambil memeluk istrinya.
“Daniel, ada yang harus aku katakan padamu.“
“Katakanlah,“ sahut Daniel sambil mengelus wajah istrinya.
“Aku hamil.“
“Kau apa? Tapi …” Daniel langsung terdiam lalu tersenyum bahagia.
“Meskipun tidak sesuai dengan rencana kita tapi kita akan tetap mempertahankan bayi ini, 'kan?!“
“Tentu saja tapi Daniel …“
Daniel merasa takut dan gelisah menunggu Linda mengatakan isi hatinya.
“Katakan ada apa!?“
Linda terdiam sambil menunduk lalu menatap Daniel.
Seolah bisa membaca pikiran Linda, Daniel merasa kaget.
“Jangan katakan!“
“Dan!“
“Beraninya kau berhubungan dengan pria lain!“
“Dan, maafkan aku! Waktu itu aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sampai menginginkan hal itu!“
“Pelacur!“ bentak Daniel dengan kesal.
“Daniel!“ Linda tidak tahan mendengar umpatan Daniel padanya meskipun ia tahu ia salah. Belum pernah ia mendengar Daniel mengumpatnya seperti itu!
“Sungguh kau …!“
Daniel benar-benar marah mendengar penjelasan Linda. Bagaimana Linda bisa berhubungan dengan pria lain!?
“Jadi apa maumu sekarang?“
“Aku tidak tahu! Aku juga bingung harus bagaimana?“
“Apa pria itu tahu tentang kehamilanmu?!“
“Dia tahu tapi aku mengatakan bayi ini adalah bayi kita.“
“Dan kau mengharapkan aku menerima bayi haram itu!?“
__ADS_1
“Daniel!“
“Itulah yang sebenarnya. Bayi itu adalah bayi …!“
“Daniel cukup! Bayi ini tidak berdosa. Akulah, yang bersalah kepadamu!“
“Gugurkan bayi itu dan aku berjanji akan melupakan semuanya ini dan kita akan memulai segalanya dari awal!“
Linda kaget mendengar permintaan Daniel. “Tidak mungkin Daniel, bayi ini …!“
“Itulah pilihannya, pilih mempertahankan bayi itu atau aku!“
“Daniel, aku mencintaimu tapi jangan suruh aku memilih. Kau tahu aku tidak akan pernah membunuh anakku sendiri!“
“Anak itu bahkan belum dilahirkan!“
“Tapi bayi ini hidup! Daniel, tidak bisakah …“
“Tidak! Pilihannya hanya aku atau dia. Aku tidak bisa membesarkan bayi itu tanpa membencinya!“
“Tapi …“
“ Aku berpikir kau adalah wanita yang sempurna yang bisa menemaniku seumur hidupku tapi ternyata …“
Daniel menekan kelopak matanya untuk menahan air matanya dan meninggalkan Linda sendirian didalam kamar.
Sudah tiga hari berlalu tanpa kabar dari Linda.
Tentu saja, Linda akan meninggalkannya.
Marco meneguk minumannya lagi. Entah sudah berapa gelas ia menghabiskan minuman keras yang sudah lama tidak pernah ia sentuh.
Saat ini, ia merasa sedikit ketenangan saat membiarkan cairan memabukkan itu mengaliri tubuhnya.
“Marco?“
Linda merasa terkejut ketika pulang dan melihat dikeremangan cahaya mini bar rumahnya.
Marco tersenyum hendak mengatakan sesuatu kepadanya tapi ia terlalu mabuk untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Linda meminta kepala pelayan membantunya membawa Marco masuk kedalam kamar.
Marco bangun dalam keadaan pusing.
Ia sempat mengerjapkan matanya dan mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
Ia langsung menoleh kesampingnya dan menemukan tidak ada Linda disampingnya.
Ia hanya menghayal!
Dan itu karena minuman setan itu! umpat Marco dengan keras sambil menahan denyut dikepalanya.
Ia berjalan terhuyung-huyung dan menyirami wajahnya dengan shower.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Marco mengumpat sambil mengusir siapapun yang mengganggunya pagi ini.
__ADS_1
“Nyonya menyuruh saya mengantarkan sarapan untuk Tuan,“ kata Darmi dari balik pintu.
Marco mencoba mempercayai pendengarannya tapi ia tetap tidak bisa percaya.
“Siapa katamu?“ tanya Marco dengan cepat sambil membukakan pintu.
“Nyonya Besar?“ jawab Darmi dengan ragu.
“Dimana dia?!“ tanya Marco dengan cepat sambil mulai mencari Linda keseluruh ruangan tanpa menunggu jawaban dari Darmi.
“Nyonya sudah ke kantor pagi-pagi sekali.“
“Siapkan mobil sekarang!“ kata Marco dengan cepat lalu masuk kedalam kamarnya.
Linda sudah meminum vitamin dan obat mual yang diberikan dokter kepadanya tapi rasanya sangat sulit menahan rasa mual yang terus menerus melandanya apalagi saat ini dia sedang berkonsentrasi merias tamu-tamunya.
Berulang kali, ia berusaha menahan rasa mualnya tapi pada akhirnya, ia menyerahkan pekerjaannya kepada pegawainya lalu naik kekantornya.
Linda mengelus-ngelus perutnya yang masih rata.
Bayinya benar-benar nyata!
Meskipun ia harus sendirian di sini tanpa Daniel tapi ia tidak bisa melupakan begitu saja tanggung jawabnya sebagai pengelolah dan penggerak setiap usahanya.
Paling tidak, masa depan anaknya bisa terjamin dengan semua pengorbanannya selama ini.
Setiap kali Linda menyesali diri ketika melakukan kesalahan bersama Marco tapi bila teringat kehadiran bayi yang saat ini sedang ada dikandungannya, ia melupakan rasa penyesalannya dan mulai menerima bayinya.
Dan saat ini dia ingin seseorang berbaring bersamanya, memeluknya dan menyakinkannya bahwa dia layak untuk mempertahankan bayinya.
Linda meringkuk disofa bednya sambil menangis terisak.
Ia tidak ingin sendirian!
Meskipun terlihat tegar tapi ia sebenarnya rapuh tanpa dukungan Daniel.
Dan saat ini Daniel telah meninggalkannya sendirian, melalui semuanya ini.
Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa!?
Linda mengerang sambil menahan luapan perasaannya yang sedih.
Ia tahu, dia salah!
Ia tahu, ia sudah menghianati suaminya sendiri tapi memilih untuk menggugurkan bayinya sendiri dan menganggap seolah-olah kenyataan ini tidak pernah ada, tidak mungkin dapat ia lakukan!
Dokter mengatakan kandungannya lemah.
Hatinya sedih sekali mendengarnya!
Meskipun bayi ini baru tumbuh dirahimnya tapi ia sudah terlanjur menginginkannya.
Hanya bersama bayinya, dia bisa mendapatkan semangat untuk hidup kembali. Tanpa bayinya, lebih baik ia mati!
Linda mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang karena mendengar ketukan dipintu.
Ia sengaja mengunci pintu ruangannya agar orang lain tidak melihatnya dalam keadaan seperti ini. Setelah merasa lebih tenang akhirnya Linda membukakan pintu.
__ADS_1