
Bab 15
“Well,well,well, siapa ini yah? Pasangan pengantin baru kita! Tidak kukira aku dapat menemui Pres-Dir kita yang super sibuk ini, disini!“ goda Tomi dan kedua temannya.
Jangan lagi! pekik Linda dalam hati.
Marco menjabat teman-temannya dan memperkenalkan Linda kepada teman-temannya.
Linda merasa malas untuk berbasa basi dan menghabiskan waktunya lalu makan secepatnya tanpa menghiraukan perbincangan mereka.
Lagipula ia tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.
Tentang klien ini, tentang saham itu yang terus menurun. Semua itu membuatnya, bertambah lapar!
“Istrimu sangat berselera, Coe!“
Linda hanya tersenyum dan memasukkan nasinya lagi kedalam mulutnya hingga penuh tanpa sungkan sambil menatap teman-teman Marco.
“Kami sedang bertengkar, biasalah kami-kan pasangan pengantin baru!“ kata Marco sambil tertawa dan menatap Linda.
Linda merasa makanan yang masuk nyangkut ditenggorokannya! Cepat-cepat ia memukul-mukul dadanya dan mengambil air putih.
“Jangan marah lagi yah, sayang!“ bujuk Marco dengan genit sambil mengusap-usap punggung Linda.
Linda melotot kearah Marco.
“Busyet, istrimu macan betina yang sangat menantang!“ bisik Tomi dengan kagum.
“Dimana kau menemukannya!?“
Linda tidak tahan lagi dan langsung meninggalkan Marco dan teman-teman idiotnya.
Marco berlari dan menahannya.
“Ayolah, kau yang memulai semuanya dan kau benar, berita begitu cepat tersebar. Apa yang harus aku katakan pada mereka, istriku?“
Linda benar-benar mau marah rasanya. Istriku!? Dia benar-benar kehabisan kesabaran!
“Teman-temanku masih memperhatikan kita,“ kata Marco sambil berbisik.
__ADS_1
“Bodo, bodo, bodo!“ pekik Linda dengan kesal dan meninggalkan Marco.
Marco tertawa sambil melambaikan tangannya kearah teman-temannya dan menyusul Linda dengan segera.
“Sudah jangan marah lagi, apa kau mau jalan kaki terus seperti ini. Sudahlah naik saja ke mobil,“ kata Marco mengikuti langkah Linda dengan mobilnya.
Kalau saja ia tidak mengenakan sepatu hak tinggi yang menyiksa ini! erang Linda dengan marah.
Linda berhenti tapi tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Marco turun dari mobilnya sambil membujuk Linda agar mau naik kedalam mobil.
“Kalau kau masih terus begini, sebentar lagi mobilku pasti diderek petugas,“ kata Marco sambil memperlihatkan posisi parkir mobilnya.
Linda melirik kesal kearah mobil Marco lalu menghela napas berat. Lalu ia mengerang keras sebelum naik ke mobil Marco!
Marco tertawa melihat Linda yang masih saja merajuk. Apa mungkin saat ini Linda sedang merajuk? Marco tertawa lagi sambil menyalakan mobilnya.
Emosinya berubah setelah sampai ke showroom dan melihat sebagian perubahan yang sudah diciptakan para tukangnya. Matanya terbelalak lalu tersenyum puas.
“Nyonya sudah kembali? Ada banyak kekurangan yang harus ditambah,“ kata salah satu tukang.
Linda melihat daftar lalu mengangguk-angguk.
“Masih marah?“ goda Marco sambil tersenyum manis.
Linda melotot kearah Marco sambil meninggalkannya.
“Aku masih banyak pekerjaan!“ kata Linda tanpa melirik Marco.
“Yah, yah, yah, dia masih sangat marah,“ ucap Marco pada dirinya sendiri lalu tertawa sambil menatap Linda dari kejauhan dan pergi kekantornya.
Setelah tukang menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini, Linda mulai memeriksa setiap sudut ruangan yang sudah dikerjakan. Meskipun masih kacau balau melihat susunan gypsum, kayu dan gulungan wall paper dimana-mana tapi Linda bahagia melihat semua kekacauan ini.
Ini adalah awal dari semua usahanya. Dari tempat inilah, ia akan meraih semua kesuksesannya lagi!
Linda merasa sangat bahagia sambil menyentuh pelan pola gypsum yang baru digambar namun belum selesai sepenuhnya.
“Apa kau bahagia?“ tanya Marco tiba-tiba.
__ADS_1
“Kau senang sekali mengagetkan aku yah!“
“Kau tampak sangat bahagia.“
“Apa masih perlu kau tanyakan?! Tentu saja aku bahagia! Semuanya berjalan seperti yang aku harapkan.“
“Semua kekacauan ini yang kau harapkan?!“ goda Marco.
“Semua kekacauan yang akan menjadi awal keindahan, yang aku inginkan, tentu saja!“ balas Linda tidak kalah cerdik.
Marco tertawa sambil memberikan tangannya untuk membantu Linda berdiri.
Linda menatap tangan Marco sambil tersenyum.
“Aku bisa sendiri, “ kata Linda sambil berdiri dengan cepat tanpa bantuan Marco.
Marco meremas tangannya sambil menghela napas.
“Kenapa kau takut menyentuhku?“
“Tentu saja, tidak seharusnya aku menyentuhmu. Jawaban yang sangat mudah, iya ‘kan?!“
Marco menatap Linda yang jelas-jelas menghindarinya.
“Kau masih lama?“
“Iya, aku ingin memeriksa setiap ruangan dan mencatat kekurangan yang perlu ditambah.“
“Apa perlu aku temani?“
“Tidak perlu, kau pulang duluan saja. Hari ini Pak Santoso tidak kuliburkan.“
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan terlalu keras bekerja.“
Linda hanya tersenyum sambil meninggalkan Marco.
Marco menghembuskan napas kuat-kuat setelah Linda menghilang dari ruangan. Apa yang dia harapkan!? Linda menikmati semua kebersamaan mereka?! Tentu saja tidak akan!
Marco menyalahkan dirinya sendiri karena berharap Linda bisa bergantung kepadanya.
__ADS_1
Linda benar-benar fokus menggambar tata ruang yang dilewatinya hingga tidak menyadari hari sudah malam. Karena suasana showroom yang terang dan dingin, Linda jadi lupa waktu tapi ia merasa puas dengan semua pemikirannya.
Ia tidak sabaran menunggu semua pekerjaan ini selesai dikerjakan!