
Bab 19
Linda kecewa karena Bapak Widyaya sudah pergi dari showroomnya.
Ia ingin sekali menemani Bapak Widyaya berkeliling dan memperlihatkan semua rancangan yang sudah jadi.
Dan ini semua gara-gara Marco!
Kenapa tidak memilih tempat makan yang praktis dan langsung makan tanpa harus menunggu lama seperti tadi?
Linda benar-benar merasa Marco sungguh egois dan tidak memikirkan perasaannya.
Ia juga ingin membanggakan diri dan mendapatkan pujian atas hasil kerjanya kepada Bapak Widyaya!
Tapi melihat para tukangnya yang bekerja dengan giat dan selalu menyapanya dengan ramah, semua kekesalannya menyurut dan bisa tersenyum lagi sambil memperhatikan cara kerja mereka.
Linda merasa kerasan berada berlama-lama didalam showroomnya. Meskipun masih tampak berantakan tapi ia menikmati setiap detiknya!
Berulang kali ia menghela napas puas dan memandangi showroomnya sebelum mematikan semua fasilitas dan meninggalkan showroomnya dengan perasaan bangga.
Karena pertengkarannya dengan Marco, ia sampai tidak makan siang. Saat melihat burger jalanan, ia menyuruh Pak Santoso berhenti dan membeli untuknya dan Pak Santoso yang sudah begitu setia menemaninya. Ia sangat beruntung memiliki supir yang sangat baik seperti Bapak Santoso. Karena hari belum terlalu malam, Linda ingin melihat bayi Pak Santoso.
Tapi ia terkejut sekali saat Pak Santoso hampir menangis mendengar ucapannya!
“Maaf Pak, apa Bapak keberatan saya berkunjung ke rumah Bapak? Kalau hal itu mengganggu Bapak lebih baik tidak usah dipikirkan,“ kata Linda dengan cepat.
Ia tidak ingin Bapak Santoso menjadi sedih dengan niatnya. Tapi ia bingung bagaimana niatnya bisa membuat sopirnya sedih.
“Bukan begitu Nyonya, tapi saya merasa sangat terharu mendengar anda ingin mengunjungi kami,“ kata Pak Santoso cepat-cepat.
“Oh, leganya. Saya kira, saya membuat bapak sedih!“
“Apa Tuan tidak akan keberatan?“
“ Tentu saja, kenapa dia harus keberatan?!“ tanya Linda dengan bingung.
Lagipula ponselnya sudah disita oleh Marco! Salahnya sendiri kalau Linda tidak memberinya kabar.
Linda bisa sedikit senang terbebas dari gangguan Marco hari ini!
Ada enaknya juga tidak memiliki ponsel, jadi dia tidak bisa terus menerus mengganggunya!
Linda bersorak dalam hati.
Setelah mengunjungi keluarga Pak Santoso, Linda meminta Pak Santoso untuk mengantarnya ke wartel terdekat. Tapi rupanya wartel sudah jarang ada dan hanya terdapat wartel yang kecil dan terlihat mengerikan untuk ia gunakan. Bisa-bisa ada orang jahat yang bisa mencelakainya!
Linda memutuskan untuk pulang saja dan menghubungi Daniel melalui telepon rumah Marco.
Linda pulang kerumah dengan ceria tapi ia bingung saat melihat para pelayannya kebingungan dan bolak-balik didepan kamar Marco.
“Ada apa?“
“Penyakit lambung Tuan Besar kambuh! Dari pagi sampai sekarang Tuan Besar belum makan apapun. Kami sudah membujuknya untuk minum obat tapi Tuan Besar menolak untuk meminumnya dan Tuan Besar tidak mengijinkan kami memanggil dokter! Kami bingung harus bagaimana?! Wajahnya pucat dan tampak sangat lemas, bagaimana ini Nyonya!?“
“Sudah menghubungi ayahnya?“
“Kami tidak berani, lagipula kami tidak tahu nomor teleponnya.“
Linda berdecak lalu menyuruh pelayan membuatkan soup cream dan mengirimkan kedalam kamar Marco.
Ia meminta salah seorang pelayan menemaninya masuk kedalam kamar.
“Marco ini aku, boleh aku masuk?“
Linda memanggil dengan hati-hati.
Tidak terdengar jawaban apapun dari dalam kamar!
Linda mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia tersenyum lega.
__ADS_1
Keadaan kamar gelap tanpa ada cahaya sama sekali.
Ia menyuruh pelayan membantu mencari sakral lampu.
Ia baru tahu ternyata lampu dikamar Marco menggunakan remote untuk mengatur penerangan ruangan.
“Apa maumu!?“ tanya Marco dengan enggan.
“Katanya, kau sakit?“
“Apa perdulimu, kau ‘kan tidak perduli padaku!“
Pelayan yang membawakan obat Marco gemetaran mendengar bentakan Marco. Padahal bentakan itu ditujukan kepadanya!
Sementara Linda dengan tenangnya mengambil obat dan air minum untuk Marco.
Tapi melihat raut wajah pelayan itu yang hampir pingsan karena menungguinya akhirnya Linda, menyuruhnya pergi.
Sebenarnya Linda tidak mau ditinggal sendirian dikamar pribadi Marco dan terlambat baginya untuk memberi kode kepada pelayan itu agar tidak usah menutup pintu.
Begitu pelayan itu disuruh keluar, ia langsung pergi dan menutup pintu dengan cepat.
Linda hanya bisa memandang sekeliling sambil menghela napas.
“Minum yah obatnya,“ bujuk Linda.
Semakin cepat Marco meminum obatnya, semakin cepat, ia bisa menelepon suaminya!
“Tidak mau!“
Seperti anak kecil saja! desis Linda.
Marco menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
Persis anak yang sedang merajuk dari ibunya! Benar-benar …!
Pelayan masuk kembali dengan membawakan cream soup yang dia minta dan langsung pergi tanpa menunggu perintah dari Linda.
Kalau begitu, semuanya diserahkan padaku, begitu!? keluh Linda dalam hati.
“Marco, kita makan yah,“ bujuk Linda.
Marco masih belum bergeming.
Linda mengeluh dalam hati lalu duduk didekat kepala Marco.
“Kau seperti anak kecil!“
“Masih bisa komentar lagi! Ini semua gara-gara kau, perutku sampai sakit begini!“
Akhirnya! Linda tersenyum senang.
“Yah, sudah kalau begitu, makan obatnya dulu, oke?“
Linda menyerahkan obat di depan muka Marco.
Linda tahu Marco menahan sakitnya. Wajahnya tampak pucat dan tampak berantakan.
Linda tidak tahan menahan tawanya.
“Apa!?“
“Kau tampak berantakan!“ kata Linda sambil masih tertawa.
“Sudah, ayo minum obatnya sebelum penyakitmu lebih parah lagi. Apa mau dirawat dirumah sakit?“
“Apa itu caramu membujuk orang? Jelek sekali!“
“Biar saja! Minum obatnya setelah itu habiskan soupnya.“
__ADS_1
“Tidak mau!“ kata Marco berkeras.
Linda seperti mau gila menghadapi sikap keras kepala Marco.
Dia tidak mau, semalaman membujuk Marco!
Kalau saja Marco tidak benar-benar sakit, dia tidak akan mau membujuknya seperti ini! Ia benar-benar tidak tahu kenapa dia harus melakukan hal ini?
“Marco dengarkan aku, minum obatnya yah,“ kata Linda sambil tersenyum.
Marco masih menahan diri.
Linda benar-benar mau gila karena menahan diri!
“Ayo buka mulutnya,“ kata Linda lagi sambil menirukan huruf A.
Marco membuka mulutnya sedikit.
Linda langsung memasukkan obat kedalam mulut Marco.
"Dikunyah dulu yah baru ditelan,“ katanya mengingatkan.
Marco mengunyah obatnya lalu mengambil gelas yang diserahkan Linda.
“Sekarang makan dulu yah,“ katanya lagi.
“Tidak mau, aku mau tidur saja!“
“Eh, tidak boleh begitu! Nanti sakitmu bertambah parah.“
Nanti aku juga yang direpotkan! tambah Linda dalam hati. Lalu tersenyum manis kepada Marco.
“Tidak perlu merayuku!“
“Apa aku merayumu? Makan yah,“ pinta Linda dengan lembut.
Kalau ditinggal sendirian pasti Marco tidak akan memakan soupnya.
Linda menghela napas berat lalu meniupkan sesendok soup dan menyuapi Marco.
Marco memandangi Linda sebelum akhirnya membuka mulut dan memakan soupnya.
“Bagus, makan lagi yah,“ kata Linda sambil terus menyuapi Marco sampai habis.
Linda lega saat melihat Marco sudah menghabiskan makanannya.
“Apa perlu kupotongkan buah?“ tanya Linda.
“Apa kau sudah makan?“
“Tumben nanya. Sudah tadi, beli burger dijalan.“
“Burger? Di jalanan?!“
“Iya, cerewet!“ kata Linda sambil tersenyum dan mengupaskan apel untuk Marco.
“Aku tidak mau.“
“Makan saja,“ katanya tidak mau dibantah.
Marco menerima potongan apel dari Linda dan memakannya.
Setelah selesai memotongkan apel untuk Marco, Linda menyuruh Marco untuk beristirahat agar bisa cepat sembuh.
“Apa kau mengkhawatirkan aku, kalau aku sakit?“
Linda memandangi Marco sambil tersenyum.
“Tentu, istirahatlah!“ kata Linda sambil menutup pintu kamar Marco.
__ADS_1