
Bab 36
Linda tidak bisa tidur dengan tenang meskipun ia sudah mendengar dengkuran halus dari Marco.
Akibatnya?
Dia terlambat bangun dan kesiangan!
Dengan panik, ia langsung masuk ke kamar mandi tanpa memeriksa dulu.
“Ups, aku tidak melihat apapun!“ katanya cepat-cepat meninggalkan kamar Marco dan mandi dikamarnya.
“Saya sudah menyiapkan sarapan, Nyonya!“ kata Darmi tiba-tiba sudah ada didepan pintunya.
“Sudah kesiangan, tidak sempat!“ kata Linda bergegas meninggalkan Darmi.
“Tapi Tuan Besar ada disini, Nyonya.“
“Bapak Widyaya? Eh, maksudku …, Papa ada disini?“
“Benar sekali, Beliau sudah menunggu dimeja makan.“
Linda melirik jam tangannya sambil mengerang dan masuk kedalam kamar Marco.
“Ayahmu ada disini!“ kata Linda dengan cepat begitu masuk dan menemukan Marco keluar dengan handuk yang terlilit dipinggangnya.
Linda menelan ludahnya dengan susah payah.
“Dan?“ tanya Marco dengan tenang sambil mengambil pakaiannya.
Cepat-cepat Linda berbalik.
“Aku sudah terlambat, apakah menurutmu tidak apa-apa kalau aku tidak ikut sarapan bersama kalian?“
“Menurutmu?“ tanya Marco balik.
Linda menghela napas panjang.
“Baiklah," katanya pelan.
Marco membalikkan tubuh Linda lalu menciumnya dan langsung keluar kamar.
Linda benar-benar kaget Marco mencuri ciuman darinya!
Ia benar-benar merasa kesal karena ulah iseng Marco!
“Kau terlambat,“ kata Widyaya.
“Maafkan saya,“ sahut Linda dengan cepat lalu memutuskan untuk duduk karena melihat tanggapan Bapak Widyaya pagi ini.
Tampaknya mengurungkan niat untuk menemani mereka sarapan bisa menambah masalah yang tidak perlu makanya Linda memutuskan untuk duduk dan menerima sarapan yang diberikan Darmi.
“Kau belum memindahkan barang-barangmu ke dalam kamar?“
“Belum.“
“Kapan kau akan melakukannya?“ tanya Widyaya dengan tenang sambil memakan orak arik telurnya.
“Nanti malam.“
“Lakukanlah sekarang.“
__ADS_1
“Tapi siang ini … !“
Widyaya menatap Linda tanpa mengatakan apapun.
“Baik,“ katanya pada akhirnya.
Marco tersenyum dibalik korannya.
Ayahnya memang berbakat dalam memaksakan sesuatu tanpa perlu banyak berkata-kata.
Widyaya melirik anaknya.
Ia yakin Marco sedang tertawa senang dibalik korannya.
Melihat semua pakaian dan barang-barang pribadinya dipindahkan ke kamar utama hanya dalam waktu 15 menit!
Linda hanya bisa menghela napas berat ketika melihat para pelayannya mulai menyusun pakaiannya dalam lemari yang sama dengan pakaian Marco.
Mereka seperti suami istri sungguhan!
Linda benar-benar merasa lelah dengan semuanya ini.
Ia ingin segalanya berjalan normal tanpa perlu berpura-pura mengenai hubungan mereka tapi bila mengingat Bapak Widyaya juga sama tertekannya dengan dirinya, ia merasa semua ini, harus ia lakukan demi membantu Bapak Widyaya. Bagaimanapun ini adalah kesalahannya sampai bisa terjadi situasi seperti ini!
Tapi harus sampai kapan?
Juga sampai kapan Daniel bisa bersabar dengan semua pengaturan ini, keluhnya dalam hati.
“Disana saja,“ sahutnya ketika Sisca menanyakan posisi kosmetiknya mau diletakkan.
“Apa yang akan Papa lakukan hari ini?“
“Apa yang kau inginkan?“
“Apa kau tidak bisa mengajaknya sendiri?“
“Pasti dia akan menolaknya.“
“Sedihnya kau sebagai seorang pria. Dimana kharismamu!? Benar-benar tidak bisa kupercaya!“
“Pa…!“ rengek Marco.
“Diamlah, dia datang.“
Widyaya mengubah raut wajahnya sambil menatap Linda.
“Sudah selesai?“
“Sudah. Sekarang saya permisi mau ke showroom dulu.“
“Tunggu dulu, Marco tinggalkan kami berdua.“
Marco tidak berkomentar apa-apa dan langsung meninggalkan Linda berdua dengan ayahnya.
“Linda, apa kau merasa tertekan dengan semua ini?“
“Jujur, saya memang tertekan tapi saya bisa memahami kenapa saya harus melakukan semuanya ini.“
“Apa kau membenciku dengan semua pengaturan ini?“
“Bapak melakukan apa yang diperlukan.“
__ADS_1
“Seharusnya mulai sekarang, kau memanggilku Papa.“
Linda bisa melihat sekarang Bapak Widyaya sudah mulai sedikit memaafkan kesalahannya.
“Tapi saat ini tidak ada orang yang mendengar.“
“Aku ingin mulai sekarang, kau memanggilku Papa, bisakah?“
“Yah, Papa,“ kata Linda pada akhirnya.
“Kemarilah,“ kata Widyaya sambil memeluk Linda.
“Kau adalah wanita yang baik.“
Linda merasa terharu mendengar perubahan nada suara Bapak Widyaya.
“Apakah Bapak, eh bukan, Papa sudah memaafkan kesalahan kami?“
“Yah, aku sudah memaafkannya tapi aku tidak tahu harus bagaimana, kalau sampai ada orang yang curiga mengenai hubungan kalian.“
“Saya akan berusaha.“
“Meskipun hanya sandiwara tapi aku sudah menganggapmu sebagai menantuku sendiri dan aku harap, kau bisa membuatku bangga!“
Linda menghela napas sambil tersenyum kecut lalu mengangguk.
“Terima kasih. Ada satu lagi permintaanku.“
“Katakanlah.“
“Sekarang kita sudah menjadi keluarga, aku ingin mengenalmu lebih jauh. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita sama-sama pergi keluar dan menghirup udara segar disalah satu pulau milik kita?“
“Pa …,“
“Aku tahu kau sangat sibuk tapi bisakah luangkan waktu untukku? Aku ingin merasakan memiliki anak menantu yang sebenarnya.“
“Tapi Pa, saya …,“
Linda benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
“Meskipun Marco telah membuat kekacauan tapi aku benar-benar senang menerimamu sebagai menantuku yang sebenarnya.“
“Pak Widyaya, …“
Linda mencoba memberi pengertian kepada Bapak Widyaya.
“Tolong penuhi permintaan pria tua ini, boleh?“ pinta Widyaya sambil tersenyum.
Melihat senyuman Bapak Widyaya, Linda merasa terharu setelah apa yang sudah mereka lakukan, kini Bapak Widyaya telah memaafkan perbuatan mereka.
Ia tersenyum sambil menghela napas lalu mengangguk.
“Kali ini saja yah, Pa. Saya ingin lebih fokus mengurus usaha kita.“
“Tentu, tapi kau tidak keberatankan menemaniku atau Marco ke acara-acara resmi dan acara yang mendadak.“
“Saya akan mengaturnya sebaik yang saya bisa. Mengingat baru berjalannya usaha kita, sebaiknya saya tidak terus-menerus meninggalkan showroom demi mengurus kepentingan pribadi.“
“Baik, baik aku mengerti!“
Linda merasa lega Bapak Widyaya tidak lagi menjaga jarak dengannya.
__ADS_1
Ia sangat menyukai dan menghargai Bapak Widyaya.
Dalam hatinya, ia berjanji akan berusaha keras untuk tidak mengecewakan Bapak Widyaya dalam bisnis maupun situasi yang mereka hadapi saat ini, meskipun ia harus menahan diri.