
Bab 22
Bapak Robbi mendekati Linda yang sedang memberi penjelasan kepada Bapak Widyaya dan Marco.
“Linda! Selamat, saya sangat kagum dengan semua hal yang ada disini. Saya pernah melihat bangunan ini sebelumnya dan tidak menyangka bisa begitu jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan! Ngomong-ngomong, apakah kau bisa mengubah salah satu bangunanku yang tidak terpakai untuk diubah menjadi apapun juga yang bisa menghasilkan seperti ini?“
“Pastinya saya bisa tapi saya rasa hal itu belum bisa saya lakukan, Pak Robbi. Saya masih harus berkonsentrasi mengurus semua urusan disini agar bisa berjalan lancar dan menghasilkan.“
“Tapi kau bisa mengerjakannya saat kau punya waktu luang! Kapanpun kau inginkan, itu bukan masalah bagiku, bagaimana?“
“Saya minta maaf, Pak Robbi tapi untuk saat ini, saya belum bisa membantu. Kalau saya berjanji, itu tandanya saya harus menepatinya. Jadi untuk sekarang lebih baik anda menyerahkan urusan itu kepada orang lain. Saya percaya banyak orang yang jauh lebih baik, dari saya.“
“Pokoknya aku mau, kau mengerjakan gedung itu! Berjanjilah padaku,“ kata Bapak Robbi masih terus berusaha membujuk Linda.
“Sudahlah Robbi, jangan memaksa keberuntunganmu lagi!
Aku percaya Linda pasti akan membantumu, hanya saja bukan dalam waktu dekat ini, iya ‘kan Lin?“
“Iya, Pak.“
“Tuh, kan kau dengar sendiri apa katanya, bersabarlah dan nikmatilah gedung barunya ini.“
“Gedung barunya?“ tanya Robbi bingung karena setahunya gedung itu adalah kepunyaan Widyaya.
“Yah, ini adalah gedung barunya Linda!“
Senyum Linda merekah mendengar kata-kata Bapak Widyaya.
__ADS_1
Bapak Robbi terlihat kecewa.
Tidak ada yang bisa Linda lakukan untuk membantu Bapak Robbi akhirnya ia permisi untuk membantu stand bridal-nya yang tampak kewalahan menghadapi serbuan para tamu-tamu undangannya.
“Bos hari ini turun tangan langsung?“ goda Marco menemani Linda.
“Bukan hari ini saja. Untuk hari-hari selanjutnya aku juga akan senantiasa membantu disemua bagian.“
“Tapi apa kau bisa memegang semuanya itu sendirian? Kurasa kau harus mencari masing-masing manager untuk membantumu.“
“Mereka adalah manager, sekalian bagian keuangan, sekalian bagian marketing dan merupakan roda untuk memajukan usahaku. Jadi untuk apa aku membayar karyawan lagi?“
“Wah,wah,wah! Rupanya, kau bos yang pemaksa.“
"Bukan pemaksa tapi orang yang tahu mengali potensi dalam diri masing-masing karyawan.“
“Jadi, apa rencanamu setelah ini?“
“Aku akan mengelar pameran gaun pengantin disalah satu mall dan …“
“Bukan itu maksudku, istriku! Rencanamu malam ini, maksudku?“ kata Marco mendekati wajah Linda dengan tiba-tiba.
Mata Linda mengerjap kaget sambil reflex memundurkan wajahnya.
“Malam ini, aku akan berada disini, tentu saja!“
“Papa mengajak kita ke rumahnya untuk berbincang.“
__ADS_1
“Oh, yah apakah ada hal penting yang ingin dibicarakan?"
“Aku tidak tahu. Aku hanya menyampaikan pesannya saja.“
“Apakah ada yang tidak sesuai dengan harapannya?!“
Linda berpikir keras sekaligus menjadi tidak yakin.
“Hei, tenang saja pasti hanya ingin membicarakan beberapa hal yang penting.“
“Hmm, aku akan menanyakannya sekarang.“
“Jangan, itu tidak sopan namanya. Datang sajalah, bagaimana?“
“Tapi masih banyak yang harus aku urus disini. Lagipula, tamu-tamu juga pasti akan pulang larut. Apalagi bagi tamu yang menginap pada malam ini bisa menikmati acara BBQ di balkon atas dan pesta kembang api.“
“Oh, yah?! Kenapa aku baru tahu hal ini!?“
“Makanya baca brosur promosi yang diberikan tadi! Lagipula disitu ada pamletnya, kau tidak bisa melihat?“
“Aku tidak memperhatikannya. Maaf yah?“
“Tidak apa-apa, itulah sebabnya aku ragu bisa ke rumah ayahmu. Bagaimana yah?“
Linda benar-benar merasa tidak enak mengecewakan Bapak Widyaya.
Ia ingin sekali bisa menyenangkan hati Bapak Widyaya karena berkatnyalah semua ini bisa menjadi kenyataan.
__ADS_1