Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 35 judul berada dalam satu kamar yang sama!


__ADS_3

Bab 35


Sudah menjadi tugas rutin bagi Linda untuk menelepon Daniel setiap malam. Tapi menelepon dari ruang tamu dan kamar Marco bukanlah pilihan yang tepat. Ia ingin menikmati saat-saat tenang berbincang dengan suaminya.


Linda turun dari sofa bednya dan keluar dari kamar Marco.


Marco bisa merasakan dengan mata yang tertutup, Linda meninggalkan kamarnya.


Ia membuka mata dan merasa sangat kecewa, Linda tidak melupakan rutinitasnya menelepon suaminya.


Dengan langkah hati-hati, Marco mengenakan piyamanya dan mencari Linda.


Hati Marco geram mendengar suara Linda yang sedang asyik berbincang dengan suaminya.


Ia merasa frustrasi menghadapi Linda. Kenapa Linda tidak melupakan suaminya dan mulai memperdulikannya?!


Marco sungguh tidak tahan mendengar suara kekehan Linda.


Ia tahu mereka sedang mengatakan hal-hal yang sama-sama menyenangkan diri mereka sebagai suami istri.


Seharusnya Marco meninggalkan kamar Linda tapi hatinya tidak tahan menunggu Linda menghabiskan waktunya untuk menelepon suaminya.


Dengan pelan, ia mengetuk pintu kamar Linda yang terkunci.


“Ada apa?“ tanya Linda ketika melihat Marco berdiri didepan pintu kamarnya dengan wajah yang berantakan.


“Sebaiknya, kita segera tidur.“


“Aku akan segera menyusul.“


“Tidak bisa. Tadi Darmi dan beberapa pelayan yang lain sudah bangun dan bisa mendengar suara anehmu!“


“Suara aneh?“


“Sudahlah, bisakah kita tidur sekarang. Aku masih mengantuk dan besok pagi ada meeting yang harus aku hadiri.“


“Kau tidur duluan saja. Aku …“


Feny berjalan dihadapan mereka.


“Baiklah, sebentar yah?“ kata Linda berniat untuk menutup pintu.


Marco langsung menahan pintu Linda dan masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


“Cepatlah!“ katanya dengan galak.


Linda tidak tahu kenapa dia tidak bisa berbincang dengan suaminya sendiri. Satu-satunya tempat yang aman untuknya, hanyalah ruangan kantornya!


“Sayangku, besok pagi aku telepon lagi yah. Aku sudah agak mengantuk sekarang.“


“Baiklah, tidur yang nyenyak yah. Mimpi yang indah. Aku mencintaimu.“


“Aku juga mencintaimu,“ bisik Linda sambil terkekeh tapi ketika melihat raut wajah Marco dengan segera ia menutup teleponnya.


“Sudah, ayo kita tidur.“


Marco mengikuti Linda dengan enggan sambil menahan diri untuk menegur Linda agar dapat lebih berhati-hati lagi.


Linda berbaring disofa bednya dengan nyaman.


“Biasanya setiap malam, Darmi selalu membawakan aku air putih yang baru. Kau mau dia menemukanmu tidur disofa?“


“Memangnya ada yang aneh? Anggap saja kita sedang bertengkar,“ kata Linda tidak mengindahkan Marco.


Pintu kamar Marco diketuk pelan.


Marco dan Linda saling berpandangan lalu dengan cepat Linda masuk kedalam selimut yang telah dibuka Marco sambil berpura-pura tertidur. Karena tidak yakin dengan dengan kepura-puraannya Linda langsung mengganti posisinya dan bersembunyi kedalam pelukan Marco.


Meskipun hanya pura-pura, Marco menikmati hangatnya tubuh Linda yang berada dalam pelukannya.


Dia sedikit heran karena tidak mendapati satu helaipun pakaian Linda dikamar majikannya.


Linda merasa gelisah karena Darmi masih terus berada didalam kamar Marco.


Entah apa yang dia kerjakan sampai begitu lama!


Marco memeluk tubuh Linda dengan nyamannya, dia berharap Darmi bisa sedikit lama lagi berada dalam kamarnya.


Linda berusaha menahan diri untuk menjauh dari Marco.


Jantungnya berdetak sangat cepat dan rasanya meskipun ia mengenakan baju tidur, ia seperti telanjang dalam pelukan Marco.


Tiba-tiba kenangan malam kebersamaan mereka kembali melintas dibenaknya.


Cepat-cepat Linda berupaya untuk menjauh dari Marco.


Marco menahan Linda agar tidak menjauh darinya. Sambil masih pura-pura tertidur, ia mempererat pelukannya.

__ADS_1


Linda mencubit kaki Marco dengan kakinya dari balik selimut.


“Sayang, sebentar lagi yah. Aku masih lelah mengulang ronde yang sudah kita mainkan tadi,“ gumam Marco dengan mesra sambil mengunci kaki Linda dengan kakinya.


Linda mencubit dada Marco dengan kesal.


Ada apa dengannya!? Kenapa dia membuatnya malu didepan Darmi!?


Linda merasa wajahnya seperti kepiting rebus karena merasa malu.


Terdengar suara pintu perlahan ditutup.


Linda menunggu lima menit untuk memastikan keadaan benar-benar aman lalu memukul Marco dengan kesal.


“Ada yang kau lakukan?!“


“Kau yang mencubit kakiku duluan!“


“Itu karena kau menahan posisiku!“


“Apa kau keberatan?“ goda Marco sambil tersenyum.


Linda menggeram kesal.


Ia bingung harus bagaimana?


Kalau dia mengunci pintu kamarnya itu benar-benar membuatnya tidak nyaman, berada dalam ruangan yang sama dengan pria lain yang bukan suaminya.


Kalau dia tidak menguncinya, kejadian seperti ini akan terus terulang dan bagaimana kalau Darmi masuk dan menemukannya sedang tertidur di sofa bed!


Linda benar-benar tidak tahu harus bagaimana.


“Pokoknya jangan ulangi lagi,“ kata Linda sambil beranjak dari ranjang Marco.


“Darmi … ,“ kata Marco.


“Tidak bisa masuk lagi!“ kata Linda sambil memutar kunci pintu lalu tidur disofa bed dengan tenang.


“Sekarang aku yang menjadi takut.“


“Apa maksudmu?!“


“Aku takut, kau akan merayuku dengan tiba-tiba dan bagaimana kalau kau …“

__ADS_1


Lemparan bantal menjadi jawaban atas godaan Marco.


“Tidur!“ kata Linda dengan kesal sambil memunggungi Marco.


__ADS_2