Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 14 judul Ada apa sih dengan Marco?


__ADS_3

Bab 14


“Kau masih sempat-sempatnya menciumnya!?“ bentak Marco tidak percaya.


“Itu hanya tata krama saja. Dan untuk apa kau marah-marah seperti ini? Kau membuat seolah-olah ada hubungan yang lebih diantara kita, sampai-sampai Rafael menduga hal yang salah terjadi antara kita!“


“Apa kau khawatir mengenai hal itu?“


“Tentu saja! Bagaimana kalau Rafael sampai bicara kepada Daniel!? Apa yang akan terjadi padaku!? Marco, sudahlah, kita jangan begini terus dan aku juga tidak mengerti, mengapa kau begitu marah dengan semua ini!?“


“Apa harus kau pertanyakan lagi?!“


Linda menghela napas panjang sebelum bicara lagi.


“Aku murni tidak tahu, Rafael akan mengunjungiku, benar!“ kata Linda dengan lambat agar bisa mendapat perhatian penuh dari Marco.


“Dan aku akan membicarakan masalah ini kepada Rafael untuk menjernihkan persoalan.“


“Apa yang akan kau katakan padanya!?“ tantang Marco lagi.


“Bahwa aku dan dia harus menjaga jarak selama tiga bulan ke depan,“ kata Linda dengan pelan.


“Dan kalau sampai dia tidak mematuhi kata-katamu, aku yang akan bicara padanya!“


“Marco, jangan seperti ini. Aku tidak mau kalau kau sampai bertengkar dengan Rafael, bagaimanapun Rafael adalah sahabatku. Kumohon mengertilah,“ kata Linda dengan hati-hati.


“Sahabat yang tidak tahu caranya bersikap sewajarnya sahabat!“


Ingin rasanya Linda menjawab kata-kata Marco.

__ADS_1


Kau juga melakukan hal yang lebih dari yang seharusnya! Tapi dia tidak mau semuanya bertambah rumit maka ia menutup mulutnya rapat-rapat.


Hari ini masih banyak yang harus ia kerjakan, jangan sampai hal ini membuat pekerjaannya jadi tertunda dan semua persiapan bisa terhambat karenanya.


“Ikut aku!“ kata Marco dengan kesal.


“Kemana? Aku sedang sibuk sekarang dan …“


“Sekarang kataku!“


Linda cepat-cepat mengikuti langkah Marco tanpa berani menentang lagi.


Mereka makan disebuah hotel berbintang.


Linda duduk dengan gelisah.


“Ada apa?!“ bentak Marco.


“Karena kau sudah tidak sabaran menemaniku hari ini, iya ‘kan!? Kau ingin cepat-cepat menelepon Rafael-mu itu dan menenangkannya iya ‘kan?!“


“Marco, sudah kubilang Rafael itu …“


“Sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan bisa bertemu denganmu Linda,“ sapa Widyaya menghampiri meja mereka.


Linda buru-buru berdiri untuk menyapa Bapak Widyaya.


Sementara Marco masih duduk dengan cemberut.


Linda merasa tidak enak hati melihat tatapan Bapak Widyaya kepadanya.

__ADS_1


“Marco? Apa kalian habis bertengkar?“ tanya Bapak Widyaya dengan penuh pengertian.


“Hanya sedikit salah paham,“ jawab Linda jujur.


“Kurasa Papa tidak bisa bergabung bersama kalian ‘kan?!“


“Tentu saja boleh!“ kata Linda.


“Tentu saja tidak boleh!“ kata Marco dengan acuh.


Linda melotot kearah Marco.


Marco menatap acuh dan membalas tatapan Linda.


Widyaya tertawa melihat kelakuan anak dan teman wanitanya itu.


“Baik, baik, Papa hanya menggodamu saja. Selesaikanlah masalah kalian secepatnya, tidak baik kalau lama-lama bertengkar, semua pasti ada jalan keluarnya.“


“Tapi Pak …!“ Linda merasa tidak enak karena Marco sama sekali tidak ada niatan untuk menghalangi kepergian ayahnya tanpa kata-kata yang pantas.


“Sudah tidak apa-apa. Kuharap akhir minggu ini kita bisa makan malam dirumah, bagaimana?“


“Sepertinya …,“ kata Linda dengan ragu.


“Kami akan datang!“ putus Marco tanpa bertanya dulu kepada Linda.


“Baiklah, Papa tunggu kedatangan kalian. Semoga kau meluangkan waktumu buat pria tua ini, Linda.“


Ayah dan anak yang benar-benar hobi memojokkan orang! pekik Linda dalam hati lalu hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan sambil menghela napas berat.

__ADS_1


“Ayo duduk dan makanlah!“


“Apa kau harus bersikap seperti ini kepadaku!?“ Linda merasa tidak tahan lagi.


__ADS_2