
Bab 13
Linda benar-benar sibuk mengatur semua tukang yang berdatangan hampir dalam waktu yang bersamaan.
Tapi dengan cepat, ia menenangkan diri dan segera memberi pengarahan kepada para tukang sampai mereka mengerti benar apa yang ia inginkan.
Ia terus mengontrol pekerjaan yang dilakukan para tukang untuk showroom barunya. Tapi yang benar-benar menyita perhatiannya adalah tukang yang mendesain gypsumnya. Mereka sungguh memiliki tangan yang terampil!
Linda benar-benar suka memperhatikan bagaimana cara mereka memotong, mengukir sampai menjadi bentuk yang ia minta jadi dan menyusunnya satu persatu hingga menjadi desain yang ia inginkan.
Senyumannya tidak pernah memudar saat memperhatikan semua tukang bekerja dengan sigap dan maksimal. Meskipun ia sudah membayar secara borongan tapi ia tidak pelit membelikan mereka makan siang dan juga kopi.
Tapi Linda sengaja tidak membelikan mereka rokok dan tidak membiarkan mereka merokok didalam showroomnya.
Kalau memang mereka ingin merokok, mereka bisa membeli dengan uangnya sendiri dan keluar ruangan untuk melakukannya.
Karena Linda meminta mereka dengan sopan, para tukang tidak keberatan menuruti kata-katanya.
“Apa kabar istriku?“ tanya Marco berbisik tiba-tiba ditelinga Linda sambil tertawa.
Linda berdecak kesal karena kaget dan kata-kata Marco.
“Jangan mulai lagi!“ katanya sambil melotot.
“Bagaimana menurutmu?“ tanyanya sambil memperlihatkan pekerjaan yang dilakukan para tukang dishowroomnya.
“Berantakan!“ jawab Marco sambil tertawa.
“Aku ingin mengajakmu makan siang.“
__ADS_1
“Tidak bisa …“
“Linda!“ sapa Rafael sambil menghampiri Linda.
Marco langsung melotot marah kearah Linda.
Linda langsung geleng-geleng kepala untuk memberi Marco penjelasan.
“Aku tidak mengundangnya kesini, suwer!“ bisik Linda dengan cepat lalu tersenyum kepada Rafael.
Marco menghela napas dengan enggan. Dia tidak percaya kata-kata Linda.
“Aku membawakanmu makan siang!“ kata Rafael sambil tersenyum dan menyerahkan bungkusan yang berisi makan siang untuk mereka berdua.
Linda benar-benar tidak berani menatap Marco.
Dia bisa merasakan kalau Marco mengira, dia telah merencanakan semuanya ini!
“Aku ingin memberimu kejutan. Aku tahu, kau terlalu giat bekerja sampai tidak memperhatikan jam makanmu.“
“Terima kasih. Tapi kuharap kau tidak keberatan kalau Marco ikut makan bersama kita, iya ‘kan!?“ tanya Linda dengan manis dan percaya bahwa Rafael tidak akan keberatan dengan hal itu.
“Tapi aku hanya membawakan makanan untuk kita berdua!?“ kata Rafael berkilah agar Marco tahu diri dan meninggalkan mereka berdua.
Linda menghela napas dalam senyumannya.
“Kita pesan satu porsi lagi untuk diantar, bagaimana?!“
“Apa dia harus selalu bersamamu?!“ tanya Rafael dengan marah.
__ADS_1
“Dan apa yang kau lakukan disini!? Kau tidak ada urusan disini!“ serang Marco.
Linda benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, melihat Rafael dan Marco saling menentang!
Dengan cepat, ia berdiri diantara mereka untuk menengahi ketegangan diantara mereka.
“Hei, jangan seperti ini! Rafael kumohon,“ kata Linda kepada Rafael kemudian menoleh kearah Marco yang benar-benar tampak marah dan tidak bisa menahannya lagi.
“Marco, please! Kalian jadi tontonan disini, sadarlah!“ bisik Linda sambil memperhatikan keadaan sekitar.
“Aku ingin bicara denganmu, sekarang!“ kata Marco dengan marah.
“Kenapa kau biarkan dia bicara seperti itu kepadamu?!“
“Mungkin dia agak sensitif belakangan ini, aku tidak tahu. Kau tunggu dulu yah, aku harus menenangkannya.“
“Kenapa kau yang harus menenangkannya?!“ tanya Rafael tidak mengerti dan menahan Linda.
“Raf, ada yang perlu kuceritakan padamu nanti. Sekarang aku harus bicara padanya, oke?“
“Kalau begitu katakan sekarang! Apa kau bermaksud untuk bersatu dengannya?!“
“Raf, apa kau gila? Bagaimana mungkin kau katakan itu, aku ‘kan sudah menikah. Sudahlah, nanti saja aku ceritakan ditelepon, sekarang kau pulang dulu yah, kumohon,“ pinta Linda sambil menahan Rafael yang tampak sangat terpukul.
“Kalau begitu, kau lebih memilihnya dibandingkan bersamaku?“
“Aduh, Raf kau bicara apa sih!? Dia itu bosku dan kau adalah sahabatku. Kalian memiliki posisi penting dalam hidupku…“
“Linda!“ panggil Marco dengan keras.
__ADS_1
Kepala Linda terasa mau pecah berdiri antara dua pria yang kini tidak ia kenali lagi!
“Aku harus pergi, yah! Jangan marah, nanti aku akan meneleponmu, oke!“ kata Linda cepat-cepat mencium pipi Rafael dan melambaikan tangannya.