
Bab 8
“Marco? Apa yang kau lakukan disini?!“ tanya Linda sambil mengundang Marco mendekat.
“Aku memikirkanmu sendirian disini, ternyata sudah ada yang menemanimu.“
Linda bingung bagaimana menjelaskan kedatangan Rafael ke showroom baru mereka.
“Rafael berbaik hati membawakan aku ini! Apa kau mau? Kemarilah.“
“Apa kau sudah selesai?“ tanya Marco dengan dingin.
“Belum. Aku masih harus menyusuri tangga menuju ruangan untuk penginapan.“
“Apa tidak bisa besok saja?!“
“Apa kau keberatan?“ tanya Linda bingung.
“Bukan itu. Hanya saja aku tidak mau sampai kau sakit!“
Linda tersenyum kikuk sambil melirik Rafael yang menatap Marco dengan tatapan permusuhan.
Linda tidak mengerti.
“ Raf? “ pancing Linda.
“Ayo kita lihat penginapanmu!“ kata Rafael sambil menarik tangan Linda.
Linda tersenyum kikuk sambil memikirkan bagaimana caranya melepaskan pegangan Rafael.
Marco menarik tangannya yang satu lagi dan menahannya.
“Lepaskan tanganmu dari Linda!“
“Apa hakmu melarangku? Aku jauh lebih berhak dari padamu!“
Apa yang sebenarnya terjadi!? Pekik Linda dalam hati sambil menghela napas berat.
“Apa yang kalian lakukan? Aku bisa berjalan sendiri!“
Tapi baik Marco ataupun Rafael belum melepaskan tangannya juga dan saling menatap dingin.
“Hei kalian! Apa sih yang kalian lakukan? Kalau kalian masih ingin saling menatap seperti ini, aku tidak keberatan tapi tolong lepaskan tanganku agar aku bisa menyelesaikan pekerjaanku!“ kata Linda dengan kesal.
Rafael menyadari kekesalan Linda kemudian melepaskan pegangan tangannya.
Sebenarnya Marco enggan melepaskan pegangan tangannya tapi melihat kekesalan diwajah Linda, ia memilih menahan diri dan melepaskan Linda.
“Terima kasih. Apa kalian masih akan menemaniku atau apa? Tapi yang jelas kalian, jangan menganggu pekerjaanku, oke!?“
Marco dan Rafael hanya mengikuti langkah Linda dari belakang dan mencoba berjalan sejajar dengan Linda.
Meskipun sedikit kesal dengan kelakuan mereka tapi Linda merasa senang ketika baik Rafael dan Marco memberikan masukkan-masukkan tentang perlengkapan yang dibutuhkan penginapan.
Ia kembali mencatatnya dengan teliti dan mulai bisa melupakan kejadian aneh tadi lalu tersenyum dan bersemangat kembali.
Marco benar-benar menyukai Linda yang penuh dengan ide-ide kreatif dan saat ia menjelaskan semua tata ruang yang akan dibuat, wajahnya akan berseri-seri dan bercahaya.
Ia tahu, Linda sangat menikmati semua yang dilakukannya.
Rafael merasa kesal melihat kedekatan Linda dengan Marco.
Ia benci melihat Linda mendengarkan pendapat Marco dan berterima kasih karenanya.
__ADS_1
Tapi begitu melihat wajah Linda yang berseri-seri saat menatapnya, ia bersedia menahan diri dan berlama-lama menemani Linda meskipun ia lebih suka menemaninya sendiri tanpa adanya Marco.
Linda menguap lalu tersenyum.
“Aku rasa sudah cukup. Mari kita pulang dan beristirahat!“
“Apa kau bisa?“ goda Rafael.
“Mungkin kau benar! Tapi aku harus mencobanya.“
“Kau ini!“
Rafael bermaksud mengelus rambut lurus Linda tapi Marco menepis tangannya dengan berpura-pura menguap dan merentangkan tangannya.
“Aku juga sudah lelah. Kita pulang sekarang yah?“ pinta Marco sambil melirik Rafael dengan senyum kemenangan.
Linda mengangguk sambil tersenyum.
Dalam hati ia ingin sekali menawari Rafael untuk tinggal dirumahnya tapi mengingat semua perjanjian yang telah ia buat dengan Marco, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maaf, Rafael kalau saja memungkinkan ingin sekali aku mengundangmu tinggal dirumahku tapi …“
“Kapan-kapan, aku akan menginap dirumahmu.“
Linda tersenyum kaku ketika melihat lirikan Marco.
“Setelah tiga bulan mendatang yah,“ bisik Linda sambil berpamitan kepada Rafael dan masuk kedalam mobil Marco.
“Kenapa bukan sopir yang menjemputku?“
“Dia sedang mengurus istrinya yang akan melahirkan!“ bentak Marco tiba-tiba.
“Maaf kalau aku sudah merepotkanmu,“ kata Linda sambil menahan kekagetannya.
“Dia meneleponku dan ketika aku mengatakan aku masih melihat-lihat lokasi, dia menawarkan diri untuk datang dan menemaniku. Lagipula aku merasa tidak ada yang salah dengan hal itu.“
“Tidak ada yang salah katamu!? Pria dan wanita yang bukan pasangan kekasih, berduaan dimalam buta begini? Tidak ada salahnya bagimu!?“
Linda tidak mengerti kenapa Marco merasa berhak mencampuri urusan pribadinya tapi dia tidak mau berdebat saat ini karena bagaimanapun Marco sudah menyempatkan waktu untuk menjemputnya.
“Marco, Rafael adalah sahabatku. Lagipula aku ‘kan sudah menikah? Apa yang bisa terjadi antara kami?! Tidak ada. Aku menyayangi Rafael dan aku tidak mau merusak hubunganku dengannya!“
“Dan yang harus kau ingat, aku mempertaruhkan segalanya untuk menutupi statusmu! Jangan sampai gara-gara hal ini nama baikmu tercemar apalagi dia bukan suamimu.“
Sebenarnya Linda ingin menentang perkataan Marco. Semua kekacauan ini bukan dia yang membuatnya tapi Marco sendiri!
Tapi bagaimanapun dengan semua kesempatan yang dia miliki sekarang itu juga berkat Marco, jadi mau tidak mau, dia juga harus bekerja sama dengan Marco mengenai masalah ini. Mau gila rasanya kenapa status pernikahan bisa dijadikan syarat utama dalam pemberian dana investasi!?
“Baiklah kalau begitu aku minta maaf. Tapi aku ingin mengatakan, kau tidak berhak menghakimi hubunganku dengan Rafael terus-menerus seperti tadi.“
“Aku perlu jaminan.“
“Jaminan mengenai apa?“
“Aku harus benar-benar memastikan semuanya berjalan dengan baik, paling tidak untuk tiga bulan kedepan, bagaimanapun kredibilitasku sebagai penjaminmu dimata pemegang saham harus kupertanggung jawabkan jadi …“
“Jadi?“
“Aku akan tinggal bersamamu untuk tiga bulan kedepan.“
“Tapi untuk apa!?“
Dan untuk apa!? tambahnya dalam hati.
__ADS_1
“Untuk memastikan, kau tidak menemui Rafael lagi.“
“Marco. ini tidak masuk akal! Apa salahnya kalau aku bertemu dengan Rafael? Dia adalah sahabatku. Dan aku juga butuh bersosialisasi!“
“Oh, yah!? Sekarang dengarkan aku, untuk tiga bulan kedepan, sosialisasimu hanya denganku dan bukan dengan pria manapun!“
“Oh, yah!? Dan kenapa aku harus menurutimu?!“ tantang Linda sambil melipat tangannya.
Marco menghentikan laju mobilnya dan menatap Linda.
“Karena nama baikku juga dipertaruhkan dengan menjaminmu, apa kau tidak mengerti!?“
“Salah siapa coba?!“ desis Linda merasa tidak senang.
“Apa katamu?!“
“Sudahlah, aku mengerti. Kita jangan memperpanjang masalah ini lagi. Begini, aku berjanji tidak akan menemui Rafael paling tidak, untuk tiga bulan mendatang tapi kalau bertemu dijalan paling tidak …“
“Say hai and good bye!“ potong Marco.
Linda menekan perasaannya.
“Baiklah. Kau bisa memegang janjiku tapi kita tidak boleh tinggal dalam satu rumah.“
“Kenapa? Aku harus benar-benar menjagaimu selama tiga bulan kedepan ini dan aku akan benar-benar yakin bila berada didekatmu.“
“Apa yang harus kukatakan pada Daniel dan yang pasti, dia tidak akan mengijinkan aku tinggal bersama pria lain meskipun berbeda kamar!“
“Kalau begitu tidak usah katakan. Aku juga tidak akan mengatakan apapun padanya, aku janji.“
“Rafael juga tidak akan senang, bila mendengar hal ini!“
“Begitu berartikah, pendapat Rafael-mu mengenai hal ini?!“
“Bagaimanapun dia adalah sahabatku. Aku sangat menghargai pendapatnya. Apa katanya nanti?“
“Jangan katakan, kau mencintainya juga?“ sindir Marco.
“Jangan buat aku tertawa! Sudah aku katakan, Rafael itu sudah seperti saudaraku sendiri. Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya!? Lagipula aku sudah menikah! Bagaimana bisa kau berpikir aku bisa mencintai pria lain selain suamiku sendiri?!“
“Entahlah tapi yang kulihat hubungan kalian lebih dari sebuah persahabatan.“
“Dan itulah yang dinamakan hubungan persaudaraan. Sudahlah yang penting, kita tidak boleh tinggal bersama, titik! Meskipun kita tidak melakukan apapun tapi aku akan merasa sangat bersalah menutupi hal ini dari Daniel. Aku berjanji tidak akan menemui Rafael sementara ini, kau bisa memegang janjiku.“
Marco tersenyum lalu menggeleng.
“Mungkin aku percaya padamu tapi aku tidak percaya kepadanya. Aku percaya dia akan mencari-cari kesempatan untuk menemuimu.“
“Dia kesini kerena urusan bisnis. Bukan karena aku ada disini,“ kata Linda mengingatkan.
“Percayalah, pengamatanku tidak pernah salah.“
“Jadi aku harus bagaimana!?“ tanya Linda, tidak tahu bagaimana harus meyakinkan Marco.
“Terimalah aku tinggal bersamamu, mau tidak mau!“ kata Marco sambil tersenyum lagi dan menyalakan mobilnya kembali.
Linda mengerang putus asa karena tidak bisa menolak keputusan Marco.
“Selamat tidur,“ kata Marco sebelum masuk kedalam kamarnya.
Linda tidak menjawab dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Mungkin karena kelelahan setelah berdoa, Linda langsung tertidur pulas.
__ADS_1