Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 11 judul Marco menyelamatkannya


__ADS_3

Bab 11


Hilang sudah selera makannya!


Linda mengeluh sambil memandangi mie udon yang dibawakan pelayan.


Dia memain-mainkan mie udonnya dengan malas.


“Selamat malam. Perkenalkan nama saya Ricky dan saya adalah manager di restoran ini.“


Linda hanya mengangguk sekedarnya dan menunggu apa yang akan dikatakan manager restoran ini.


“Saya telah mendengar gangguan yang telah Nyonya alami disini, saya minta maaf mewakili pihak restoran.“


“Tidak apa-apa. Hanya saja selera makan saya hilang karena itu.“


“Kami akan memberi diskon yang besar kepada Nyonya sebagai tanda permintaan maaf kami.“


“Saya sudah tidak apa-apa. Tapi saya mohon, jangan biarkan pria gila itu naik lagi kesini.“


“Saya mengerti. Sekali lagi kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang anda alami direstoran kami.“


Linda hanya mengangguk sambil menunggu kedatangan Marco.


Kalau saja Marco tidak menakut-nakutinya tentang dugaannya, pasti saat ini, ia sudah bergegas naik taxi dan pulang tapi bagaimana kalau sampai pria nekat itu menghadangnya, sebelum ia mendapatkan taxi!


Sungguh mengerikan hidup dikota maju seperti ini!


Linda mengerang kesal. Andai saja Daniel ada bersamanya …


Linda hanya menghabiskan pencuci mulut yang diberikan pihak restoran setelah itu, ia meminta nota pembayaran.


“Kau tidak apa-apa!?“ tanya Marco tiba-tiba muncul dimejanya.


“Yah,“ sahutnya sambil menyembunyikan rasa kesalnya.


Marco menatapnya dengan pandangan menyelidik dan melirik pesanannya yang masih utuh.


“Kau belum makan malam?“

__ADS_1


“Selera makanku sudah hilang. Sekarang aku hanya ingin pulang dan tidur. Terima kasih karena telah menjemputku.“


“Aku harus menegur sopirmu!“


“Tapi kenapa!?“


“Karena dia telah melalaikan tugasnya! Apalagi?“


“Tidak, kau tidak boleh melakukannya. Aku yang menyuruhnya untuk pulang lebih cepat hari ini! Dan kalau kau sampai memarahinya karena hal ini, aku akan marah padamu!“ ancam Linda sungguh-sungguh.


“Bayangkan apa yang akan terjadi kalau aku tidak meneleponmu tadi! Bagaimanapun aku harus memecatnya.“


“Coba saja kalau berani!“ tantang Linda tidak kalah keras kepalanya dibanding Marco.


“Apa kau sedang menentang keputusanku?“


“Iya, aku menentang keputusanmu. Kau tidak boleh memecat Pak Santoso!“ kata Linda dengan keras.


Marco melotot mendengar kata-kata Linda yang tegas.


“Yah?“ kata Linda pada akhirnya.


Mata Marco menyipit membaca perubahan kata-kata Linda.


“Apa kau sedang memohon padaku?“


Ingin sekali Linda menentang kata-kata Marco tapi membayangkan Marco memecat Pak Santoso hanya gara-gara dirinya, ia sungguh tidak tega.


“Yah, kumohon jangan pecat pak Santoso.“


Marco menahan senyuman kemenangannya. Ia juga baru tahu Linda bisa keras kepala tapi juga berhati lembut.


Ia tahu, dia tidak akan pernah mengubah keputusannya jika ia masih berkeras jadi langsung mengubah strateginya?!


Marco benar-benar mengakui kehandalan Linda dalam bernegosiasi.


“Biar aku pertimbangkan dulu kalau begitu,“ kata Marco menahan diri agar Linda tidak langsung berpuas hati.


Linda menghela napas lagi.

__ADS_1


“Semua ini murni kesalahanku, Marco. Aku yang memaksa Pak Santoso untuk pulang dan menemani istrinya.“


Linda seperti mau menangis saat mengatakan hal yang sebenarnya kepada Marco.


“Apa kau menangis?“


Cepat-cepat Linda berpaling dari Marco dan menutupi wajahnya.


Marco benar-benar tidak percaya Linda menangis! Dia buru-buru menenangkan Linda dalam pelukannya.


“Jangan, jangan menangis, Linda! Maafkan aku, aku hanya menggodamu. Aku berjanji tidak akan memecat siapapun tanpa seijinmu.“


Linda menatap Marco dengan mata yang basah.


“Apa kau sungguh-sungguh?“


“Apa kau tidak tahu air mata adalah kelemahan setiap pria?“


Linda mulai bisa tersenyum.


Marco menghapus air mata Linda dengan lembut.


“Tapi aku mau, kau juga berjanji padaku, kalau kau menyuruh sopirmu pulang lebih awal, paling tidak kau harus menungguku pulang kalau mau pergi kemanapun.“


“Tapi itu akan sangat merepotkanmu! Lagipula aku ‘kan …“


Marco menatap Linda dengan tatapan tidak mau mendengar penolakan.


“Baiklah, aku berjanji dan jangan salahkan aku, kalau kau akan repot sendiri nantinya!“


Marco tersenyum.


“Itu baru wanitaku!“


“Apa maksudmu itu!?“ sahut Linda dengan cepat.


“Apa aku mengatakan sesuatu?“ tanya Marco dengan jahil.


“Sudahlah, ayo kita pulang sekarang.“

__ADS_1


__ADS_2