Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 7 judul memperlihatkan Showroom ke Rafael


__ADS_3

Bab 7


“Apa yang kau pikirkan?“


“Apa?“ tanya Marco balik.


“Katakanlah, apa aku membuat kesalahan?“


“Kesalahan? Tidak. Hanya saja aku sedikit iri melihat kedekatanmu dengan ayahku. Belum pernah ayahku menyukai seorang wanita secepat ini.“


“Aku memang mudah disukai,“ sahutnya sambil tertawa.


“Apa?!“ timpal Marco sambil tertawa.


“Dan aku suka menjadi diriku sendiri. Kuharap kau bisa memberikan aku kunci cadangan showroom.“


“Untuk apa?“


“Aku ingin melihatnya sekali lagi.“


“Malam ini? Sendirian?“


“Ada yang aneh? Sopir bisa menemaniku, jangan khawatir.“


“Apa sebaiknya kau beristirahat dulu, malam ini?“


“Percuma, tidurku tidak akan nyenyak sebelum aku mencatat semua yang aku perlukan dengan teliti jadi semua persiapan akan siap sebelum tiba waktunya.“


“Apakah kau senang?“ tanya Marco pada akhirnya.


“Sangat senang dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kuharap aku bisa segera menghasilkan uang dan membuktikan semua kata-kataku.“


“Aku percaya kau bisa melakukannya.“


Linda turun di showroom sementara sopir mengantar Marco pulang ke rumahnya.


Setelah menyalakan semua lampu, dengan cepat Linda membuat skesta ruangan dan mulai meneliti apa saja yang harus ia persiapkan.


Ia kaget saat ponselnya berbunyi karena keadaan showroom yang sunyi dan mengeluarkan gema.


“Sayang, belum tidur?“


“Bagaimana bisa tidur sebelum kau meneleponku?“ keluh Daniel.


“Maaf yah, aku belum sempat meneleponmu, sekarang aku masih di showroom dan mencatat apa saja yang harus aku persiapkan besok pagi.“


“Tapi ini sudah jam 9 malam! Dan siapa yang menemanimu?“


“Sopir nanti yang akan menjemputku lagi, jangan khawatir. Aku sudah menutup akses pintu masuk kok. Aku aman berada didalam sini meskipun aku sendirian.“


“Sayang …,“ keluh Daniel merasa kasihan mendengar kesendirian istrinya.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin semuanya berjalan dengan lancar agar kau bisa segera berada disini bersamaku!“ kata Linda dengan manja.

__ADS_1


“Aku mencintaimu,“ kata Daniel tidak bisa mengungkapkan perasaannya lagi.


“Aku juga sangat mencintaimu. Mimpikan aku yah,“ kata Linda dengan sungguh-sungguh.


“Selalu. Aku mencintaimu, sayang.“


“Aku tahu,“ sahut Linda lagi sambil tertawa lalu menutup sambungan telepon.


Belum lama Linda meneliti tempat lagi, ponselnya kembali berbunyi. Rafael? Linda langsung mengangkat ponselnya.


“Raf, ada apa?“ tanyanya langsung.


“Kuharap aku tidak mengganggu istirahatmu.“


“Tentu tidak, lagipula aku belum beristirahat kok.“


“Oh yah, apa yang sedang kau lakukan sekarang?“


“Aku sedang membuat catatan untuk showroom baruku.“


“Oh, … dimana?!“


“Di showroom baruku. Kau harus melihatnya nanti setelah semua persiapan jadi. Pasti akan sangat mengagumkan!“


“Apakah kau bersama pria itu sekarang?“


“Tidak dia sudah pulang, memangnya kenapa?“


“Jadi tidak ada seorangpun yang menemanimu? Malam-malam begini?!“


Linda merasa geli mendengar kekhawatiran Rafael.


“Bolehkah aku melihat showroommu?“


“Apa kau tidak ada meeting, besok pagi? Kau harus tidur sekarang kalau tidak mau terlambat.“


“Tidak ada. Sekarang katakan padaku alamat lengkapnya.“


Linda mengatakan alamat lengkapnya dan memberikan petunjuk yang bisa dengan mudah dilihat Rafael begitu sampai ke showroom barunya.


“Aku mengerti. Jangan pergi dulu sebelum aku tiba, oke!“


“Tenang saja, masih banyak yang harus aku kerjakan!“ sahut Linda sambil menutup ponselnya.


Linda juga ingin Rafael bisa merasakan kebahagiaan yang sekarang ini ia rasakan.


Ia ingin, Rafael bangga kepadanya dan berhenti mengkhawatirkannya.


Sebelum meninggalkan ruangan yang diperuntukan untuk bridalnya, Linda kembali meneliti detail sketsa tata ruang yang ia buat lalu mengangguk dengan puas.


Ponselnya berbunyi.


“Aku sudah didepan showroommu.“

__ADS_1


“Akan segera kubukakan pintu!“


Linda mempersilahkan Rafael masuk kedalam showroomnya dan mengunci pintunya kembali.


Rafael membawakan Linda burger dan minuman soda kesukaannya.


“Kau benar-benar mengerti aku sekaligus hobi membuatku jadi gendut yah!“


Linda sangat senang sambil menerima pemberian Rafael.


“Memang. Aku lebih senang kalau kau gendut. Kau terlihat lebih cantik dan bersinar!“


“Hmm,… coba Daniel itu sepertimu. Dia selalu saja menyindirku, kalau berat badanku naik!“


“Apa benar?!“ goda Rafael.


“Sudahlah jangan dibahas, paling tidak aku bisa melimpahkan kesalahan kepadamu nanti,“ kata Linda sambil tertawa dan mengajak Rafael masuk kedalam ruangan bridalnya.


Ia mulai menjelaskan semua yang telah dirancangkannya kepada Rafael agar Rafael bisa memberi masukan atas rancangannya.


“Kau ahlinya! Aku percaya semuanya akan indah seperti yang telah kau rancangkan.“


“Terima kasih. Hanya saja aku berharap bisa berbagi hal ini kepada Daniel. Biasanya Daniel adalah tangan bagi semua ide-ideku.“


“Kau begitu mencintainya iya ‘kan!?“


“Apa masih perlu kau tanyakan hal itu?!“


“Andai saja aku yang pertama kali bertemu denganmu, pasti sekarang aku yang bahagia.“


“Tenang saja, pasti ada seorang wanita yang telah mengambil tulang rusukmu diluar sana dan saat hal itu terjadi, mana mungkin kau ingat pada sahabatmu ini!“


Rafael tersenyum mendengar kata-kata Linda.


“Aku tidak tahu, akankah hal itu terjadi padaku.“


“Pasti terjadi! Kau harus yakin dan awas, kalau kau sampai memakai jasa bridal dari orang lain! Kau tahu, gedung ini juga akan dibangun untuk gedung pertemuan dan juga penginapan.“


“ Apa bisa terpegang semuanya itu?“


“Tentu saja. Bila berada disatu tempat yang sama bisa aku kendalikan semuanya. Tentu saja dengan bantuan staf dan cctv disetiap sudut.“


“Apa kau tidak merasa capek?“


“Apa maksudmu!? Aku malah merasa capek kalau dibiarkan terus bersantai seperti kemarin-kemarin.“


“Kau memang seorang wanita yang gila kerja!“


“Bukan gila kerja, kau salah. Tapi suka dengan kesibukan dan menghasilkan banyak uang!“ kata Linda sambil terkekeh.


Linda juga menjelaskan semua detail dan berdiskusi dengan Rafael mengenai kelengkapan gedung pertemuan.


Linda mencatat semua masukan dari Rafael dan menikmati dengan menertawakan semua celoteh-celoteh putus asa Rafael mengenai pasangan hidupnya.

__ADS_1


Marco mendehem melihat keasyikan Linda yang sedang berbincang akrab dengan Rafael.


__ADS_2