
Bab 40
Marco sangat kaget melihat wajah Linda yang sangat pucat dan tampak habis menangis.
“Kau tidak apa-apa?!“
“Aku tidak apa-apa.“
Linda tahu kata-katanya kurang meyakinkan Marco.
“Aku hanya merasa sangat mual saat ini dan tidak mau ada orang lain yang melihat keadaanku sekarang ini,“ tambahnya lagi sambil mencoba tersenyum.
“Aku akan membawakan teh hangat untukmu.“
“Tanpa gula, tolong.“
“Baiklah.“
Marco meninggalkan Linda sebentar.
Ketika melihat kehadiran Marco, ia ingin sekali Marco memeluknya dan memberinya dukungan tapi ia tahu Marco mengira bayi ini adalah bayinya Daniel maka ia agak menjaga jarak.
Aneh! Kenapa ia menginginkan hal ini? Apa karena bayinya?! Linda sungguh tidak mengerti. Tapi melihat kehadiran Marco disini membuatnya nyaman, paling tidak rasa mualnya tidak lagi bergejolak. Mungkin karena bayinya tahu ayahnya sudah ada didekatnya.
“Ini,“ kata Marco sambil menyerahkan teh hangat kepada Linda.
“Terima kasih.“
Rasanya nyaman sekali ketika cairan teh hangat itu masuk kedalam tenggorokannya, ia mendesah karenanya.
“Apa kau sudah ke dokter?“ tanya Marco tanpa menatapnya.
Linda menguatkan hati.
“Sudah.“
“Apa katanya?“
“Janinku baik-baik saja,“ jawab Linda merasa belum siap mengatakan segalanya kepada Marco.
Ia tidak mau Marco merasa bersalah dan terpaksa menikahinya karena bayi ini.
“Suamimu mengijinkanmu kembali kesini?“
Linda terdiam sambil menyesap tehnya.
“Aku memiliki tanggung jawab disini.“
“Dia tidak setuju?“
“Tidak, dia tidak setuju.“
Mempertahankan bayi ini ataupun mengijinkannya pergi, tambah Linda dalam hati.
“Kau tidak terlihat baik-baik saja.“
“Entahlah, untuk ukuran wanita hamil kurasa hal ini wajar dirasakan semua calon ibu.“
“Apa …, kau bahagia?“ tanya Marco ragu sambil menatap Linda.
Linda menatap Marco.
__ADS_1
Meskipun bayi ini hadir tanpa perencanaan tapi dia memang bahagia apalagi ketika melihat bayinya dilayar USG.
Bukan hanya itu saja, bayinya benar-benar hidup didalam rahimnya! Dia bahkan bisa mendengar detak jantung bayinya.
Matanya berkaca-kaca menahan perasaannya.
“Aku bahagia.“
“Selamat, maaf aku terlambat untuk mengucapkannya.“
“Terima kasih.“
“Aku akan berangkat ke luar negeri lusa.“
“Oh …, baiklah,“ kata Linda tergagap.
“Apa kau tidak setuju aku berangkat saat ini? Apa kau mau, aku menemanimu?“
“Tidak,“ Linda mencoba tersenyum.
“Pergilah, bagaimanapun kau berhak untuk melakukan apapun yang kau mau.“
“Aku, … akan tinggal bila kau menginginkannya,“ kata Marco berharap Linda mencegah kepergiannya.
Hati Linda sangat sedih saat ini tapi dia berusaha menutupinya dengan senyuman.
"Kau harus pergi tanpa merasa ragu Marco.“
Aku ingin kau mencegahku pergi! teriak Marco dalam hati. Tapi tentu saja Linda tidak bisa mendengar suara hatinya.
Ingin sekali Linda mencegah Marco pergi, tapi bila ia melakukan hal itu, itu tandanya dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan Marco akan menderita karenanya.
Dia juga memiliki tanggung jawab atas perusahaannya dan dia juga berhak memiliki kehidupan pribadinya.
“Aku akan pergi selama setahun,“ kata Marco masih berharap Linda mencegahnya pergi.
“Setahun?“
Linda buru-buru menahan perasaannya. Air matanya hampir saja jatuh.
“Baiklah,“ katanya pada akhirnya.
Meskipun wajahnya tersenyum, hatinya menangis sedih.
Dia tidak bisa mengatakan kepada Marco mengenai bayi mereka saat ini. Marco akan berusaha tetap tinggal dan melalaikan tanggung jawab pekerjaannya! Ia tidak mau sampai hal itu terjadi.
“Apa malam ini, kau ada waktu?“
“Kurasa aku akan sibuk sepanjang malam. Ada apa?“
“Tidak apa-apa. Kalau bisa jangan terlalu keras bekerja. Tidak baik buat bayimu. Aku akan kembali kekantor,“ kata Marco menyerah pada akhirnya.
Berharap Linda mencegahnya pergi? Apa yang dipikirkannya?! Marco benar-benar merasa sedih.
Ingin sekali Linda memanggil Marco kembali dan mencegahnya pergi.
Ia ingin, Marco ada bersamanya dan menemani hari-harinya bersama bayi mereka.
Linda menangis dari balik pintu sambil terduduk lemas. Sayangnya, ia tidak bisa bersikap egois seperti itu!
Tiga bulan sudah berlalu setelah kepergian Marco.
__ADS_1
Ia sedih? yah. Kesepian? sangat! Tapi ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun ada bayinya yang selalu bersamanya.
Ia tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya yang sudah agak membuncit.
Karena sibuk ia tidak sempat untuk melakukan kontrol rutin ke dokter kandungannya.
Ia hanya menebus obat secara rutin dan meminumnya. Hanya saja belakangan ini, ia merasa perutnya sering keram dan sakit, juga terdapat bercak darah pada ****** ********.
Linda merasa lega saat mendengar pengalaman serupa juga dialami tamu-tamunya dan bayi mereka baik-baik saja.
Linda senang sekali menghabiskan waktunya di pantai yang sepi seperti ini.
Duduk sendirian dan hanya memandangi lautan luas untuk mengisi waktu liburannya.
Keningnya mengerut.
Perutnya sakit, seperti diremas! Biasanya kalau ia mengelus-ngelus perutnya, sakitnya akan segera hilang tapi kali ini berbeda, ia sampai kesulitan untuk bernapas.
Ia tahu, ada yang salah dengan kandungannya.
Ia berusaha menguatkan diri dan masuk kedalam mobil.
Sambil menahan rasa sakitnya, ia berusaha untuk tetap berkonsentrasi melewati jalanan yang curam dan menuju rumah sakit untuk mencari tahu keadaan bayinya.
Entah kekuatan dari mana, Linda bisa sampai dirumah sakit dengan selamat tapi ketika ia mencoba memanggil suster, tubuhnya lemas dan kemudian jatuh pingsan.
Matanya berat untuk membuka ketika ia sudah mulai sadar.
Dokter Veni menatap Linda dengan cemas.
“Ada apa Dokter? Bayiku …“ tanya Linda dengan lemas.
“Kita harus segera melakukan operasi, Bu.“
“Operasi? Operasi apa?!“ tanya Linda tidak mengerti.
“Ada masalah pada perkembangan janin Ibu. Tapi maaf, Kehamilan ini tidak dapat diteruskan karena akan membahayakan keselamatan jiwa Ibu bila hal ini terus dibiarkan.“
“Membuang bayiku? Tidak. Aku tidak mau. Dokter pasti salah,“ katanya dengan mata berkunang-kunang.
“Ibu Linda dengarkan saya, saat ini ibu mengalami pendarahan hebat dan kita tidak mungkin dapat menyelamatkan bayi Ibu, kita harus segera melakukan operasi.“
Linda menggeleng-geleng lemas tapi tidak sanggup mengatakan apapun.
“Ibu bisa berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan yang lain tapi saya bisa pastikan hasilnya akan tetap sama. Dan lagi Bu, semakin lama ditunda maka akan membahayakan keselamatan jiwa anda.“
“Tidak, aku tidak mau,“ kata Linda sambil menarik jarum infus dari tangannya.
“Ibu Linda tolong jangan seperti ini …!“
“Aku baik-baik saja,“ kata Linda berusaha untuk tidak berteriak lalu pergi dari rumah sakit.
Linda memutuskan untuk tidak kembali kerumah.
Ia memutuskan untuk tetap tinggal di penginapan.
Baginya pulang kerumah hanya membuatnya sedih karena terus mengingat Marco dan kesepiannya.
Linda benar-benar merasa lemas karena pendarahannya tidak mau berhenti.
Seharian ini, dia hanya bisa berbaring dan meringkuk di ranjang penginapannya.
__ADS_1
Ia hanya berdoa dan mengajak bayinya agar bertahan dan berjuang bersamanya.
Ia tidak mau hidup kalau sampai bayinya tidak bisa bertahan! Karena hanya bayinyalah yang ia miliki sekarang …Linda menolak kehilangan bayinya dalam hati dan berusaha mengajak anaknya berjuang bersamanya.