
Bab 37
Linda dan Marco menerima kedatangan wartawan tapi ia tidak menyangka berita acara akan dibuat secara on air untuk mengisi berita yang paling diminati saat ini.
Linda merasa gelisah dengan keadaan yang ia hadapi.
“Maaf, tapi saya diberitahu peliputan ini hanya untuk majalah pernikahan dan bukan untuk ditayangkan melalui acara televisi seperti ini?“
“Kami minta maaf, tapi kami sudah memberitahukan tentang acara susulan ini kepada Bapak Widyaya dan sudah memperoleh ijinnya. Tapi kalau Ibu tidak bersedia, …“
“Papa mengijinkan hal ini? Bolehkah saya mengkonfirmasi hal ini kepada Beliau dulu?“
Cindy mempersilahkan Linda meninggalkannya dan juga krunya.
“Memangnya apa sih bedanya?“
“Kau, …! Apa kau benar-benar sepolos itu? Apa yang harus kukatakan pada saudara Daniel atau saudaraku yang menonton acara itu nantinya. Kekacauan akan segera terjadi!“
“Tapi penolakanmu ini juga membuat para wartawan itu sama gelisahnya denganmu.“
“Aku menolak untuk setuju! Kembali saja pada rencana awal. Lagipula apa sih hebatnya sampai mereka meliput dan menayangkan berita pernikahan kita?“
“Kau lupa status sosial dan keluargaku? Kami adalah salah satu orang terkaya dinegara ini, tentu mereka ingin melihat siapa wanita yang berhasil memikat bujangan paling diminati abad ini!“
“Percaya diri sekali!“
“Silakan menolak percaya tapi kenyataannya memang seperti itulah!“
“Pa, apa Papa menyetujui wartawan itu melakukan peliputan secara on air untuk penayangan di televisi?“ tanya Linda setelah teleponnya diangkat.
“Mereka telah membujukku agar setuju dan tidak ada satu alasanpun yang bisa mencegah mereka mendapat ijin dari Papa.“
“Tapi Pa, saya benar-benar merasa tidak nyaman dengan peliputan ini. Apa yang akan terjadi bila salah seorang kerabat Daniel menyaksikan acara itu? Saya tidak mau menambah masalah yang sudah ada.“
“Kau benar juga. Baiklah, batalkan saja acara peliputan untuk televisi itu dan lakukan sesuai dengan rencana sebelumnya.“
Linda merasa lega setelah dapat membujuk Pak Widyaya.
“Kita akan kembali pada acara semula.“
“Sayang sekali!“
“Apa maksudmu? Sudah, ayo kita keluar sekarang.“
Cindy sangat kecewa mendengar penolakan atas peliputan yang sudah mereka siapkan.
Ia mencoba membujuk dengan segala cara tapi Linda tetap berkeras.
__ADS_1
Bosnya sangat kecewa ketika ia menyampaikan penolakan Linda tapi akhirnya menerima dan menyuruhnya kembali ke rencana awal.
“Apa ada alasan khusus anda menolak peliputan on air, Bu Linda?“
“Saya tidak suka privasi saya, diumbar media. Saya percaya setelah peliputan yang anda lakukan, akan ada banyak wartawan yang mengganggu kehidupan rumah tangga kami dengan permintaan lainnya.“
Akhirnya Cindy bisa memahami alasan Linda dan memulai sesi tanya jawab.
Linda membiarkan ketika Marco terus menerus mengelus jemarinya dihadapan wartawan dan sesekali mencium anak rambutnya ketika mereka sama-sama memberikan jawaban yang berbeda.
Dia mencoba bersikap setenang mungkin menghadapi sentuhan-sentuhan Marco.
“Tampak sekali Marco sangat mencintai anda, anda adalah wanita yang sangat beruntung!“ komentar Cindy tidak henti-hentinya menatap Marco.
Kening Linda mengerut mendengar komentar wartawati itu.
Marco tersenyum manis sambil menciumi jemari Linda saat dia meliriknya.
Wajah Linda memerah mendengar kesimpulan yang diambil Cindy.
“Dan tampaknya anda mengagumi ketampanan suami saya,“ sahut Linda dengan tenang.
Wajah Cindy memerah karena ketahuan mengagumi ketampanan Marco.
Dia tidak bisa percaya dan menyayangkan Marco, pengusaha muda yang sukses telah mendapatkan wanita yang telah berhasil memenangkan hatinya.
“Sayang sekali bukan?“
“Maaf?“
“Sekarang Marco tidak bisa membagi perhatiannya lagi kepada wanita lain,“ kata Linda sambil terang-terangan menatap Marco.
Ini adalah kerugian besar baginya! Apa Marco tidak merasa rugi karena semuanya ini?!
Dia benar-benar bingung karena Marco tampaknya menikmati sandiwara yang mereka lakukan.
“Seandainya sejak dulu, aku bertemu denganmu, aku bisa lebih beruntung lagi.“ Marco menggigit telinga Linda dengan jahil.
Linda tersenyum kecut sambil meremas tangan Marco.
“Apa kau tidak merasa sayang melepaskan masa lajangmu, Marco?“
Marco merasa lucu dan ingin marah mendengar celoteh yang menurutnya tidak perlu dijawab itu.
“Sebenarnya ingin sekali aku mengumumkan kepada seluruh dunia tentang pernikahanku dan tidak ada sedikitpun penyesalan tentang pengakhiran masa lajangku. Aku sangat bahagia. Linda adalah wanita yang luar biasa bagiku.“
“Saya setuju. Anda berdua tampak sangat serasi dan sangat mesra. Boleh saya mengambil gambar kamar anda sekarang?“
__ADS_1
“Tentu, silahkan.“
Linda dan Marco menemani Cindy dan kru masuk kedalam kamar mereka.
“Wow, tentu kamar ini membuat anda berdua merasa sangat nyaman. Apakah anda menggunakan jasa desain interior terkenal untuk mendapatkan kesan seperti ini?“
“Iya,“ sahut Marco sambil meremas bahu Linda.
Linda hanya tersenyum tidak bisa mengatakan apapun.
“Oh, yah! Boleh saya menanyakan namanya sebagai referensi bagi pembaca kami?“
“Namanya Linda Angelica Martinus,“ kata Marco dengan bangga.
Linda tersenyum lebar sambil menatap Marco.
“Nyonya sendiri yang mendesain kamar ini?! Luar biasa! Bisakah kami mereferensikan nama anda sebagai salah satu desainer kamar pengantin?“
“Lebih membantu jika anda juga mencantumkan nama showroom kami, kepada pembaca.“
“Tentu saja, hal itu sudah pasti kami cantumkan.“
“Terima kasih.“
“Pertanyaan terakhir kalau boleh saya tambahkan?“
Linda menatap Marco lalu mengangguk.
“Kapan rencana anda dan pasangan untuk memiliki anak?“
Linda menatap Marco karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Yang jelas, secepat yang kami bisa!“ jawab Marco dengan percaya diri.
“Kami sangat menikmati setiap prosesnya.“
Linda merasa kikuk mendengar jawaban Marco yang lugas.
Cindy mencatat jawaban Marco sambil menyembunyikan senyuman gelinya.
“Aku akan kembali ke showroom,“ kata Linda setelah Cindy dan kru meninggalkan rumahnya.
“Tapi ini sudah sore?“
Linda hanya tersenyum tanpa menjawab lalu mencari sopirnya.
Marco senang karena acara wawancara berjalan lancar. Apalagi Linda mulai terbiasa dengan setiap sentuhan curi-curi-nya. Marco bersorak dalam hati!
__ADS_1