Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 33 judul perasaan bersalah


__ADS_3

Bab 33


Seharusnya Linda tertawa penuh kemenangan melihat kepergian Marco sebagai tanda kekalahannya tapi saat pintu tertutup.


Tubuhnya bergetar hebat sambil menyentuh bibirnya dan memejamkan mata.


Ia merasa, kalau ia tidak menyinggung harga diri Marco, dia pasti akan kalah dan membalas ciuman Marco.


Lantas apa yang akan terjadi padanya!? Pada pernikahannya! pekik Linda. Beruntunglah dia, bisa menahan diri.


Merasakan ciuman Marco saja bisa membuatnya melambung seperti ini!


Benar-benar tidak bisa dibiarkan!


Ia tidak boleh lengah sedikitpun.


Untunglah, ia sedikit terbantu dengan segala kesibukan pekerjaannya.


Andai saja, Bapak Widyaya tidak ikut campur dengan masalahnya, keluh Linda dalam hati. Pasti menjauhkan diri dari Marco bukan hal sulit baginya.


Linda membiarkan Marco memeluk pinggangnya saat berjalan ataupun menggandeng tangannya.


Ia berusaha untuk merasa kebal dengan sentuhan Marco.


Ia tahu, kemanapun dia berjalan, orang-orang selalu memperhatikan mereka.


Bapak Widyaya masih mempertahankan sikap dinginnya kepada Linda agar Linda mengikuti semua permainan yang ia buat.


Marco meneleponnya dan memberitahu tentang rencana Marco yang mengajak Linda makan siang atas undangannya.


Ia segera membatalkan makan siang dengan relasinya dan segera berangkat ketempat yang disebutkan Marco.

__ADS_1


Linda merasa sangat bersalah melihat perubahan sikap Bapak Widyaya kepadanya.


Ia tahu, mereka telah membuat kesalahan yang besar dan dia akan berusaha keras untuk memastikan semua rencana mereka tidak terbongkar dan merusak nama baik Bapak Widyaya.


“Bagaimana persiapan kamar pengantin kalian?“


Linda hampir tersedak mendengar pertanyaan Bapak Widyaya.


Cepat-cepat ia meneguk minumannya.


“Saya yakin semuanya sudah diatur Marco.“


Bapak Widyaya menatap anaknya dengan galak.


Meskipun tahu hanya pura-pura, Marco sedikit takut menghadapi sikap ayahnya itu. Tapi ia tahu semua itu harus ayahnya lakukan untuk melancarkan rencana mereka.


“Aku masih belum memutuskan.“


Dia benar-benar tidak berani menatap Bapak Widyaya karenanya!


Widyaya menggeram kesal, berusaha seolah-olah menahan diri untuk tidak menegur mereka.


“Setelah ini, pergilah bersama Linda dan belilah semua yang kalian butuhkan. Hari ini bisa selesai?“


Dengan takut-takut Linda mengangkat kepalanya dan menatap Bapak Widyaya.


“Tapi hari ini …“


“Lusa sudah harus dilakukan pemotretan dan sesi wawancara, apa kalian mau membuatku malu?!“


Linda tahu Bapak Widyaya sangat marah dan menambah rasa bersalahnya.

__ADS_1


“Baik, kami akan menyelesaikannya hari ini juga.“


“Dan bagaimana dengan kamar Linda sebelumnya?“


“Maksudmu?!“


“Linda tidak mau tidur dikamar yang sama denganku,“ kata Marco dengan polos.


Linda benar-benar merasa kesal dengan sikap kekanak-kanakan Marco.


Kenapa harus mengatakan hal itu didepan Bapak Widyaya!?


“Linda, saya mengerti masalahmu tapi dirumah itu juga, ada banyak pegawai yang bisa bicara mengenai keanehan yang terjadi didalam rumah tangga kalian. Apa kau mau, hal itu sampai terjadi dan mengakibatkan rumor diluar sana?“ tanya Widyaya dengan tenang sambil menatap Linda.


Linda menggigit bibirnya sambil berpikir keras lalu menghela napas berat, tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang dikatakan Bapak Widyaya tidak salah juga sepenuhnya. Sambil meremas tangannya. Ia mengangguk.


“Baiklah, kami akan tidur dalam satu kamar yang sama.“


“Bagus. Kuharap, kau tidak mengecewakan aku. Kau harus menempatkan diri sebagai seorang istri Marco yang benar-benar terpandang. Penuhi lemarimu dengan gaun-gaun mewah dan perhiasan-perhiasan mahal untuk menaikkan citramu sebagai istri Marco.“


“Tapi apa tidak bisa kita merancangkan sebuah perpisahan?“ tanyanya ragu.


Bapak Widyaya dan Marco menatap Linda secara bersamaan.


“Saya tahu semakin lama kami bersama, kami akan sama-sama dirugikan apalagi Marco sama sekali belum menikah,“ kata Linda memberanikan diri.


“Dikeluarga kami, sangat menentang adanya perceraian! Apa kau mau memulai tradisi itu?!“ tanya Widyaya dengan marah.


“Baiklah, saya minta maaf hanya saja …“


“Teruskan saja semuanya ini dan semuanya akan baik-baik saja, terlebih lagi untukku sendiri!“

__ADS_1


Linda mengerang dalam hati lalu mengangguk pasrah.


__ADS_2