Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 30 judul menerima hukuman


__ADS_3

Bab 30


“Kau tidak apa-apa?“


“Kuharap begitu. Beberapa patah tulang, layak untukku.“


“Dan untukku juga, kurasa. “


Linda duduk disamping Marco sambil termenung.


“Aku berharap, kau tidak mengatakannya.“


“Dan apa? Menambah masalah baru?! Ayahmu jelas-jelas, ingin kita menikah!“


“Sekarang apa?“


“Entahlah, aku tidak tahu. Kurasa sekarang, kau harus pulang dan merawat lukamu disana.“


“Maksudmu, kita?“


“Tidak akan ada lagi kita. Aku akan tinggal sementara dipenginapan sampai masalah ini, teratasi.“


“Hebat, benar-benar hebat! Sekarang kau bersikap pengecut dan menghindariku! Apa kau bermaksud untuk …!“


“Kejadian semalam merupakan kesalahanku,“ kata Linda memotong kata-kata Marco.


“Tidak, itu …!“


“Marco!“ kata Linda untuk menarik perhatian Marco.


“Aku mau, kita sama-sama melupakannya.“


“Apa maksudmu!? Tidak mungkin aku bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara kita dan mungkin saat ini, kau sedang hamil anakku!“


Linda sangat kaget mendengar kata-kata Marco.


Apa hal itu benar? Ia benar-benar harus mengingkarinya!


“Aku sudah mencegah hal itu terjadi,“ katanya tanpa sadar.


“Kau, apa?!“


“Lalu apa yang kau harapkan!? Aku adalah seorang wanita yang sudah bersuami!“ kilah Linda.


“Hebat, benar-benar hebat! Kau memang tidak pernah mempertimbangkan pendapatku, iya ‘kan!? Sama saja kau membunuh, anakku!“


“Itu tindakan pencegahan, Marco, bukan pembunuhan. Pencegahan atas apa, yang tidak seharusnya terjadi. Lagipula, aku sudah sangat merasa bersalah kepada Daniel atas perbuatanku!“


“Ceraikan dia dan menikahlah denganku!“


“Tidak mungkin.“


“Kenapa tidak mungkin?! Memangnya apa yang kau lihat darinya?!“


“Aku mencintainya, Marco. Dan apa yang terjadi pada kita semalam itu, hanya kesalahan!“ pekik Linda dengan kesal.


“Bagimu mungkin, tapi bagiku tidak!“


Marco memeriksa ponselnya yang berbunyi. Ia tidak berdaya untuk tidak mengangkat ponselnya.


“Ya, Pa?“ sahut Marco.

__ADS_1


Jantung Linda berdetak sangat kencang, menunggu Marco mengatakan apa yang Bapak Widyaya katakan padanya.


Marco menatap Linda sambil menghela napas.


“Baiklah, kami akan datang sekarang juga.“


Linda menghela napas lemas mendengar kata-kata Marco.


“Papa mau, kita kerumah sekarang.“


Linda hanya terdiam sambil mengangguk.


Rasanya perjalanan yang cukup jauh, terasa sangat cepat saat ini. Sebelum Linda berhasil menenangkan diri, mereka telah sampai dirumah Bapak Widyaya dan saat ini mereka sudah duduk dihadapan Bapak Widyaya dan menunggu hukuman atas kelakuan mereka.


“Kalian lihat? Semua ini adalah ucapan selamat atas pernikahan kalian. Dan aku yakin dirumah kalian juga penuh dengan berbagai ucapan seperti ini. Bagaimana aku harus mengatakan semuanya ini, hanya kesalahpahaman!? Apa kalian berniat mempermalukan aku!“ kata Widyaya dengan keras.


Linda merasa seperti tersengat listrik mendengar kata-kata Bapak Widyaya. Ia sudah berusaha menyiapkan diri, kehilangan semua yang telah dia usahakan selama ini dan akan menerima hukuman Bapak Widyaya dengan taat apapun itu.


“Tidak, tidak bisa!“ kata Widyaya sambil menghela napas berat.


“Kalian harus menjaga sandiwara ini untuk selamanya.“


“Apa maksudnya itu?“ tanya Linda dengan pelan.


“Kau harus mencegah suamimu datang kekota ini dan kau harus tinggal bersama Marco paling tidak sampai kita bisa merencanakan rencana yang selanjutnya untuk kalian berdua.“


“Tapi …“


“Kau bisa pulang satu atau dua hari kapanpun kau inginkan tapi kau tetap harus kembali! Bagaimanapun kita memiliki perjanjian bisnis, Ibu Linda.“


Linda menghela napas berat mendengar Bapak Widyaya menggunakan kalimat formal kepadanya.


“Tapi …“


Ingin rasanya Linda menjawab tidak tapi ia yakin semuanya akan bertambah runyam apalagi dengan adanya kejadian semalam.


“Yah Pak, saya akan berusaha.“


“Dan kau harus memastikan hal itu terjadi!“


Lagi-lagi Linda menjawab iya dengan pasrah.


“Aku benar-benar merasa kecewa padamu Linda karena aku berharap banyak darimu!“


Linda hanya menundukkan kepalanya.


“Tapi kalian …? Tinggal bersama, iya ‘kan?!“


“Itu …?“


“Kami tidur dikamar yang berbeda,“ sela Linda cepat.


“Kamar yang berbeda?!“


“Sampai tadi malam,“ sahut Marco.


Linda benar-benar tidak menyangka Marco mengatakan hal itu kepada ayahnya.


“Apa kalian sudah memiliki anak Linda?“


“Belum, Pak.“

__ADS_1


“Jadi, sudah tidak ada masalah lagi! Linda, kau harus menceraikan suamimu dan segera menikah dengan Marco.“


“Tunggu, pak. Maaf tapi itu, tidak bisa saya lakukan!“ bantah Linda dengan cepat.


“Apa kalian menggunakan pelindung semalam?“


“Iya!“ kata Linda.


“Tidak,“ kata Marco.


Marco dan Linda saling berpandangan.


“Apa maksudnya ini? Pakai atau tidak?!"


“Aku tidak menggunakan pelindung Papa dan kemungkinan Linda hamil, pasti akan ada.“


“Tapi saya sudah meminum pil yang akan mencegah hal itu terjadi!“


Nanti setelah aku pergi kekantor lagi, tambah Linda dalam hati.


Ia memang berniat untuk meminum pil pencegah dari apotik tapi berdasarkan apa yang telah dikatakan petugas kepadanya, pil yang dibelinya bisa membuat bayinya cacat bila nantinya bisa bertahan, itupun kalau benar sampai dia hamil!


Linda benar-benar berharap bisa memastikan secepatnya tapi yang mengesalkan, ia harus menunggu lebih kurang dua minggu untuk mengetahui hasilnya, jadi dia belum meminum pil itu.


“Baik, jadi sekarang apa maumu?“


“Saya hanya berharap Marco bisa melupakan semua hal yang terjadi tadi malam dan meskipun kami akan meneruskan sandiwara ini, saya akan tinggal dipenginapan untuk sementara.“


“Kurasa hal itu, tidak mungkin. Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau kau sampai tinggal terpisah dari Marco? Kau harus tetap tinggal bersama Marco. Mungkin beberapa hari ini, akan datang wartawan dari media pernikahan yang akan meliput kehidupan rumah tangga kalian. Mereka juga akan mengambil gambar kamar pengantin kalian dan kuharap, kalian tidak mengacaukan hal ini! Apa hal ini jelas Linda? Marco?“


“Tapi bagaimana kami bisa melakukan semuanya itu? Kami tidak benar-benar menikah?“ tanya Linda dengan putus asa.


“Hal itu harus kalian bicarakan sendiri. Dan kalau sampai kalian nantinya benar-benar memutuskan untuk membuat pernikahan sandiwara ini menjadi pernikahan sungguhan, kuharap akulah, orang yang pertama kali mendengarnya!“


“Itu tidak akan terjadi!“ kata Linda dengan cepat.


“Pasti!“ sahut Marco dengan cepat.


Linda mengusap keningnya.


“Linda kembalilah bersama supir, aku harus bicara berdua dengan Marco.“


Linda langsung permisi dan kembali kekantornya.


“Kau mencintainya?“


“Menurutmu Pa? Tentu saja aku mencintainya. Aku tergila-gila padanya! Aku ingin kejadian tadi malam menjadi babak baru dalam kehidupan kami tapi …“


“Kau sudah berhasil melakukannya sekali. Meskipun usaha kali ini belum membuahkan tapi kau bisa mencobanya lain kali!“ kata Widyaya sambil menepuk pipi anaknya.


“Maksud Papa? Apa Papa menginginkan aku dan Linda menikah?!“


“Kalian ‘kan sudah menikah? Hanya saja pestanya akan ditunda sampai kau berhasil menyakinkan Linda. Kau kira aku akan tinggal diam begitu saja melihatmu kehilangan wanita yang kau cintai! Pikir lagi, kalau begitu. Untuk apa aku repot-repot mempertahankan semua sandiwara ini!“


“Tapi Pa, aku pikir …?“


“Nama baikku? Cukup mudah bagiku untuk memberi sanggahan yang masuk akal. Sudah, sekarang berusahalah! Semuanya ada dalam tanganmu sekarang. Taklukkan dia!“


“Papa, aku menyayangimu!“ kata Marco sambil memeluk ayahnya.


“Aku sudah tahu.“

__ADS_1


__ADS_2