
Bab 18
Meskipun telah lama bersahabat dengan Rafael, Linda tidak bisa mengingat nomor telepon Rafael!
Itulah yang membuatnya merasa bersalah dan dia tidak mungkin meminta nomornya dari Daniel.
Ia tidak mau Daniel tahu, Marco menyabotase ponselnya. Apa yang akan dikatakannya? Ia menunggu Rafael datang ke showroomnya tapi ia tidak kunjung datang.
Marco bisa melihat, Linda sedang menunggu kedatangan sahabatnya itu. Dia tersenyum sambil menghampiri Linda dengan percaya diri.
Linda memalingkan wajahnya saat melihat Marco mendekatinya tanpa rasa bersalah sama sekali!
Ia pura-pura sibuk memperhatikan tukang yang sedang memasang wall paper.
“Istriku! Masih ngambek yah?“
Marco mencubit pipi Linda dengan gemas.
“Apa yang kau lakukan!? Mau jadi tontonan para tukang!?“ Linda memukul tangan Marco dengan cepat.
“Wajahmu merah sekali! Kau malu, yah?“
“Sudah, cepat katakan apa maumu!? Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, lebih baik jangan ganggu aku. Aku masih banyak pekerjaan.“
Cepat-cepat Marco menangkap tangan Linda dan menggandengnya.
“Temani aku makan siang, yah?“
“Ini kan, baru jam sebelas! Lagipula aku sibuk, tidak bisa.“
“Hei, ayolah! Aku belum makan apapun dari tadi pagi,“ kata Marco sambil membujuk Linda dengan mesra.
“Apa-apaan sih kau ini!? Malu tahu! Lepaskan tanganku,“ bisik Linda sambil melirik para tukangnya yang sedang berusaha menyembunyikan senyuman geli mereka.
Linda berusaha menarik tangannya tapi Marco mengapitnya terus.
“Sudahlah temani aku yah, istriku yang suka ngambek!“
Linda mendengus sampai akhirnya mengalah.
__ADS_1
“Jangan lama-lama karena masih banyak yang harus aku kerjakan.“
“Baik, Nyonya!“ kata Marco sambil sedikit menunduk.
“Kau ini benar-benar …!“
Marco tersenyum sambil berjalan beriringan dengan Linda.
Saat keluar mereka berpapasan dengan Widyaya!
Linda langsung menarik lepas tangannya dari genggaman Marco sementara Marco hanya senyum-senyum saja menyapa ayahnya dengan tenang.
“Kalian mau keluar?“ tanya Widyaya tampak bahagia, melihat rona kebahagiaan yang terpancar dari wajah anaknya.
“Aku meminta Linda untuk menemaniku makan siang. Papa mau ikut?“
“Dan mengganggu pasangan muda seperti kalian? Sudah kalian pergi saja. Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar.“
“Kalau begitu akan saya temani kedalam!“ kata Linda dengan cepat mencoba meninggalkan Marco.
Dengan cepat Marco meraih pinggang Linda sampai memutar dan masuk ke dalam pelukannya.
“Apa yang kau lakukan? Didepan Papamu!? Lepaskan aku!“ desis Linda cepat.
“Dah, Papa!“ kata Marco tanpa melepaskan pelukannya dari Linda, yang berusaha melepaskan diri darinya.
Widyaya tertawa melihat keusilan Marco. Lalu masuk dan melihat-lihat seisi ruangan yang sekarang, sebagian besar sudah berubah seperti yang digambarkan Linda kepadanya.
Dia benar-benar tidak percaya showroomnya yang dulu, tidak terurus dan kurang menjanjikan, bisa berubah menjadi seperti ini!?
Dia tahu semua janji yang dikatakan Linda benar-benar akan menjadi kenyataan. Dia memang yakin, mendengar kata-kata Linda tapi sekarang, ia lebih yakin dengan kemampuan yang dimiliki Linda.
Ia heran sekaligus kagum bagaimana Linda bisa menangani semuanya ini seorang diri!
Dia juga melihat para tukang bekerja dengan rajin tanpa membuang-buang waktu untuk mengobrol seperti yang biasa dia lihat selama ini.
Beberapa orang tukang permisi keluar untuk merokok diluar!
Ia benar-benar tidak dapat menahan senyumannya menyaksikan semuanya itu. Tidak bisa dibayangkan, semua tukang yang kasar bisa bekerja dengan giat dan memiliki sopan santun yang baik. Merokok diluar? Bayangkan!?
__ADS_1
Widyaya tertawa dan yakin itu karena peraturan yang diterapkan Linda kepada mereka. Tapi tanpa Linda ditengah-tengah mereka, bagaimana mereka bisa tetap mematuhi semua perintahnya?
Setelah bertanya kepada rata-rata tukang yang bekerja ternyata Linda adalah bos yang sangat ramah dan mau perduli dengan semua kebutuhan mereka.
Linda tidak akan segan-segan memaksa mereka beristirahat sebelum waktunya jika mereka sudah kelelahan.
Tapi satu hal yang tidak didukung Linda adalah aktifitas merokok.
Setelah hampir satu minggu bekerja dibawah komando Linda, mereka sudah bisa mengurangi kebiasaan merokok mereka tanpa mereka sadari.
Widyaya benar-benar kagum dengan cara kerja yang diterapkan Linda. Dia percaya, Linda pasti bisa menjadi bos yang dicintai seluruh karyawannya.
“Apa kau gila! Kenapa kau lakukan itu! Seharusnya aku menemani ayahmu untuk memperlihatkan kemajuan pembangunan showroom dan bukannya menghabiskan waktu bersamamu!“
“Jadi kau keberatan!?“ tanya Marco sambil melotot.
“Aku yang seharusnya marah kenapa kau yang lebih galak dibandingkan aku!?“
“Yah sudah, kalau kau mau pergi, pergi saja sana!“
Linda seperti kehabisan kata-kata menanggapi kata-kata Marco yang kini tampak lebih galak darinya.
“Jadi kau mengusirku!?“
“Kau ‘kan yang mau pergi dan meributkan hal kecil!?“ bentak Marco dengan kesal.
Linda merengut sambil mengalihkan pandangannya dari Marco.
“Sudahlah, aku pergi saja!“
“Baik, pergilah! Lagipula siapa yang membutuhkanmu untuk menemaniku. Banyak wanita yang berharap bisa menemaniku disetiap waktu! Kau sungguh tidak tahu seberapa beruntungnya dirimu.“
“Apa maksudnya itu!? Dan kenapa aku harus merasa beruntung menemanimu?!“ Linda benar-benar tidak mengerti kata-kata Marco.
“Aku pergi!“
“Kau …!“
“Apa? Bukannya kau sendiri yang menyuruhku pergi?! Kalau begitu aku pergi dulu, makan yang banyak yah!“ kata Linda cepat-cepat pergi sebelum Marco berubah pikiran.
__ADS_1