
Bab 34
Setelah memastikan ukuran kamar Marco. Linda mulai membuat sketsa kasar dan kebutuhan yang ia perlukan untuk mengatur ulang kamar Marco. Berhubung dia juga akan menempati kamar yang sama, ia sama sekali tidak berminat untuk meminta pendapat Marco.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu?“
“Karena kau akan tahu hukuman atas kata-katamu.“
“Apa maksudmu?“ tanya Marco sambil tertawa.
“Aku akan memilih semua perabot dan desain kamar sesuai dengan keinginanku!“
“Baiklah,“ sahut Marco dengan enteng.
Linda sedikit kecewa karena Marco membiarkan semua rencananya berjalan lancar tanpa protes sama sekali!
Sungguh mengecewakan. Ia ingin sekali melihat Marco mencegah pilihannya tapi Marco dengan tenang hanya menemaninya berbelanja dan membayar semua pengeluarannya dengan senyuman manis.
Harusnya Linda memilih perabotan yang agak aneh dan konyol untuk menyenangkan hatinya agar bisa melihat reaksi Marco tapi hal itu sama juga dengan menghina seleranya sendiri!
Akhirnya dia memilih perabotan berwarna lembut dan senada. Dan dia puas saat melihat perubahan total isi kamar Marco.
“Bagaimana“ tanyanya saat semua perabot sudah disusun sesuai dengan keinginannya.
“Sangat nyaman,“ kata Marco sambil memperhatikan desain kamar barunya.
Meskipun sangat berbeda dengan desain kamar lamanya tapi ia suka dengan semua pengaturan yang dilakukan Linda.
Kamarnya sekarang menjadi tampak begitu hangat dan mewah.
“Begitu?“
“Apakah aku harus memujimu?“
“Bukan begitu tapi kamar ini sangat berbeda dengan desain kamarmu yang lama.“
“Jadi kau mengharapkan complain?“
“Paling tidak, aku sudah menyiapkan diri untuk itu.“
“Sayangnya, aku menyukainya. Kamar ini tampak begitu hangat dan mewah.“
“Kau juga merasa begitu?“
Mau tidak mau, Linda merasa bangga dengan dirinya sendiri.
“Yah, apalagi sekarang ada kau yang akan menemaniku.“
__ADS_1
“Ha-ha! Lucu sekali. Ngomong-ngomong aku akan tidur disofa bed ini dan kau akan tidur diranjang.“
“Ada ranjang baru dan empuk seperti ini kenapa kau lebih memilih tidur disofa bed?“
“Jangan membuat aku tertawa! Karena sudah selesai, aku akan pergi ke showroom lagi.“
“Tapi ini ‘kan sudah malam?“
“Jadi?“
“Tidak bisa!“
“Kenapa?“
“Kita masih harus menyamakan cerita mengenai pernikahan kita.“
“Aku akan diam saja, sementara kau yang mengatur semuanya.“
“Apa itu mungkin?“ tanya Marco menantang Linda.
“Baik-baik, apa yang perlu kita katakan pada wartawan nanti?“
“Ini daftar pertanyaan yang akan ditanyakan nanti.“
Linda mengerang sambil membaca daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada mereka.
“Karena itu, kita saling bertukar jawaban untuk mengetahui jawaban masing-masing. Dengan begitu kita bisa saling mencocokkan jawaban.“
“Baiklah, aku akan mengisinya dikantor.“
“Tidak, sekarang saja. Apalagi kita masih harus mencocokkan jawaban.“
“Baik-baiklah!“ kata Linda pada akhirnya.
Setelah selesai menulis jawaban para sehelai kertas, mereka saling bertukar jawaban dan mulai berdebat mengenai penyatuan jawaban tentang mereka.
“Baiklah, jawab saja dua bagaimana?“
Linda menjawab satu anak yang diinginkan tapi Marco menginginkan lima orang anak!
“Tidak. Aku ingin memiliki keluarga besar karena aku sudah merasakan sepinya menjadi anak tunggal.“
“Tapi mustahil hal ini dapat terlaksana! Dengan segudang kesibukanku, akan meragukan bagi pengunjung di showroomku untuk percaya padaku. Kapan lagi aku akan mendapatkan lima orang anak diumurku ini? Setahun satu!?“
“Aku tidak keberatan!“ timpal Marco sambil mendekati Linda.
Linda menahan kepala Marco.
__ADS_1
“Mustahil! Sudah nanti kita jawab saja dua. Sekarang pertanyaan selanjutnya.“
“Aku akan tetap menjawabnya lima!“
“ Baik terserah saja padamu!“ sahut Linda merasa jengkel dengan kekeraskepalaan Marco lalu menuliskan angka lima pada pencocokan jawaban mereka.
“Apa kau tidak suka anak-anak?“ tanya Marco sambil memandangi
Linda yang sedang meyatukan jawaban-jawaban mereka yang lainnya.
“Bukannya tidak suka, hanya saja membayangkan memiliki anak tanpa bisa memberikan perhatian seutuhnya sebagai seorang ibu, hal itu membuatku merasa bersalah.“
Marco terdiam mendengar kata-kata Linda.
“Apa kau mengalaminya sendiri?“ tanyanya dengan hati-hati.
Seharusnya Linda tidak menghiraukan pertanyaan Marco tapi saat ini, ia merasa Marco begitu memperhatikannya dan benar-benar perduli mendengar cerita masa kecilnya.
“Seperti itulah. Aku menjadi lebih dekat dengan pengasuhku dari pada orang tuaku sendiri.“
“Berapa saudara yang kau miliki?“
Linda berhenti menulis lalu tersenyum sebentar.
“Coba tebak?“
“Empat?“
Linda menggeleng.
“Delapan.“
“Berapa?!“
“Kau sudah mendengarnya!“
“Wow, sebuah keluarga besar yang menarik!“
“Sama sekali tidak membuatku tertarik!“ sahut Linda, meneliti kembali catatannya.
Marco tertawa sambil berbaring menyamping sambil menatap Linda.
Linda ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi dan membahas pertanyaan lainnya.
Marco tidak mendesak Linda lagi untuk kembali pada topik sebelumnya.
Ia akan menunggu sampai Linda merasa nyaman untuk berbagi kehidupannya dengannya.
__ADS_1
“Baiklah, bagaimana kalau kita pakai bandara!“