
Bab 42
Ia tidak mau kehilangan Linda tapi ia juga tahu Linda tidak akan mau hidup lagi jika kehilangan bayinya.
“Kami akan pulang.“
“Tapi Tuan …?“
“ Saya yang akan bertanggung jawab atas keselamatan jiwa istri saya. Sekarang, biarkan kami pulang.“
Marco menepati janjinya dan membawa Linda pulang kerumah.
“Terima kasih,“ kata Linda sambil tersenyum.
“Sekarang aku ingin makan.“
“Aku akan menyuruh pelayan memasakkan sesuatu untukmu.“
“Aku ingin, kau yang memasakkan sesuatu untukku.“
“Aku tidak bisa masak,“ kata Marco mencoba tersenyum.
“Cobalah,“ kata Linda sambil menyakinkan Marco.
“Tapi …“
“Tolonglah, dan aku pasti bisa tahu kalau pelayan yang memasakkannya.“
“Linda …,“
“Apa perlu aku menemanimu, didapur?“
“Tidak, berbaringlah aku akan memasakkan sesuatu untukmu.“
“Terima kasih. Aku akan tidur sebentar sambil menunggumu.“
Sebenarnya Marco tidak mau meninggalkan Linda tapi ia ingin Linda makan dan membuatkan sesuatu untuk menambah tenaganya.
Setelah semua yang terjadi, Marco tidak tahu bagaimana Linda bisa setenang ini!
Dengan mengikuti instruksi dari pelayannya dia membuatkan, soup cream dan roti panggang untuk Linda.
__ADS_1
Marco memanggil Linda dengan cemas karena Linda tidak juga membuka matanya.
Dan kemudian merasa lega setelah Linda mengerang sambil menguap.
“Masakan sudah siap,“ katanya sambil tersenyum lega.
“Tampaknya enak.“
“Sepertinya begitu," kata Marco.
Linda tertawa pelan sambil mencoba mengatur posisinya.
Marco segera membantu Linda bersandar dan berkeras menyuapi Linda karena tahu Linda masih lemas karena kehilangan banyak darah.
“Panas,“ gumam Linda sambil tersenyum.
“Maaf yah, aku akan …!“ Marco benar-benar merasa bersalah.
Linda terkekeh pelan.
“Aku hanya bercanda,“ katanya lagi.
“Kau ini!“ kata Marco merasa lega dan kembali meniupkan soup cream untuk Linda.
Marco tahu satu-satunya orang yang akan didengarkan Linda adalah Daniel, suaminya.
Bila Daniel datang kesini dan membujuk Linda untuk melepaskan bayinya maka Linda pasti akan menurut.
Tanpa setahu Linda, Marco langsung memesan tiket pesawat dan berangkat menemui Daniel.
Daniel benar-benar tidak mengerti mengapa Marco mencarinya dan membujuknya untuk menemui Linda.
“Dan kenapa aku harus melakukan hal itu?“ tanyanya tidak mengerti.
Marco tidak percaya dengan tanggapan Daniel setelah apa yang telah ia ceritakan kepadanya.
“Jiwa Linda berada dalam bahaya bila kau tidak bisa membujuknya untuk melepaskan bayi kalian, dia bisa …“
“Bayiku?“ sela Daniel sambil tertawa.
“Kalau saja dia lebih memilihku dibandingkan bayi haram itu! Maka semuanya ini tidak akan terjadi.“
__ADS_1
“Apa maksudmu!?“ tanya Marco dengan geram, mendengar umpatan Daniel terhadap Linda.
“Dia tidur dengan pria lain dan hamil karenanya, apa kau idiot!?“
“Jangan membuatku tertawa! Jelas-jelas itu bayi kalian …!“
“Setiap kali kami berhubungan, Linda selalu memintaku mengenakan pelindung. Dia belum mau memiliki anak saat itu, katanya, tapi sungguh ironis, ketika ia berhubungan dengan pria lain malah sampai membuatnya melupakan akal sehatnya dan memilih mempertahankan bayi itu dibandingkan menyelamatkan pernikahan kami!“ sahut Daniel tidak kalah geram.
Marco tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan Daniel!
Itu berarti … ! Mata Marco mengerjap.
Di rumah sakit Linda meminta Marco menyelamatkan bayi mereka dan semua itu bukan formalitas tapi sebuah kenyataan!
Marco benar-benar merasa kaget dan marah kepada Linda kenapa menutupi hal ini darinya!
“Kalau saja Linda memberitahuku siapa pria bajingan yang telah menghamilinya itu …!“
“Aku, adalah ayah dari bayi itu!“ kata Marco sambil tersenyum bahagia.
“Kau?!“ Daniel menggeram lalu melayangkan tinjunya kewajah Marco.
Tapi ketika Daniel mencoba memukulnya lagi.
Marco menahan serangan Daniel sambil memberi peringatan.
“Kali ini aku akan membalas bila kau memukulku!“ kata Marco dengan sungguh-sungguh.
Daniel tahu Marco bisa mengalahkannya dengan mudah karenanya ia mundur.
“Pergilah!“
“Tidak sebelum kau menandatangani surat perceraian.“
“Lucu sekali! Oh, seandainya saja hal itu belum terjadi, aku pastikan aku tidak akan …!“
“Maksudmu kalian sudah bercerai?“
“Apa kau benar-benar dungu atau tuli!? Surat cerai kamipun sudah keluar, dua bulan yang lalu atas permintaan Linda!“ umpat Daniel dengan kesal.
Seharusnya dia tidak terlalu emosi saat itu dan menceraikannya! Tapi dia juga tidak bisa menerima kekeraskepalaan Linda atas bayi haramnya!
__ADS_1
Marco tidak menunggu Daniel mengusirnya.