Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 6 judul Bertemu Big Bos


__ADS_3

Bab 6


Ternyata Bapak Widyaya adalah orang yang sangat menyenangkan dan sangat mendukung ide bisnisnya.


“Sangat menarik!“ katanya setelah Linda mengungkapkan semua keseluruhan rencananya terhadap gedung miliknya.


“Yah, saya juga berpikir begitu,“ sahut Linda sambil tersenyum.


“Konsep yang akan kita kembangkan pasti nanti akan menghasilkan banyak pemasukan.“


“Kira-kira berapa dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan konsep itu?“


“Untuk gedung pertemuan dan penginapan membutuhkan dana lebih kurang lima ratus juta,“ kata Linda dengan cepat.


“Lima ratus cukup?“ tanya Widyaya memastikan.


Baginya nominal tersebut sangat meragukan untuk mewujudkan apa yang Linda terangkan padanya.


“Lebih dari cukup menurut perhitungan saya,“ kata Linda dengan yakin sambil tersenyum.


“Lalu desain interior mana yang akan disewa untuk merancang desain ruangan?“ tanya Widyaya.


Linda tersenyum lebar sambil menggeleng.


“Saya rasa, saya cukup percaya diri untuk menangani masalah ini.“


“Kau?!“


Widyaya mulai menyukai wanita pilihan anaknya itu.


Linda tersenyum yakin.


“Yah dan saya sudah menyiapkan desain ruangan yang akan kita persiapkan nanti.“


Linda mengeluarkan sketsa kasar yang telah ia buat.


Marco melirik Linda dan bertambah kagum.


“Kapan kau membuatnya? Bukannya baru tadi pagi kita melihat showroom itu?“


“ Itulah kelemahanku, meskipun belum tahu akan terealisasi atau tidak, otakku ini sudah bekerja dan merancang semuanya.“


Linda tersenyum lagi.


“Sungguh menarik. Apa kau sudah memikirkan warna wall paper yang akan digunakan?“ pancing Widyaya sambil menahan senyumnya.


“Sudah,“ sahut Linda cepat.


“Warnanya …“


Widyaya tertawa lebar sambil menepuk-nepuk bahu anaknya dengan bangga.


Linda tidak mengerti melihat Bapak Widyaya menertawakan rancangannya dan merasa tidak senang karenanya.

__ADS_1


“Jangan tersinggung. Aku sangat menyukaimu! Semangat dan rancanganmu sungguh sangat menyakinkan aku. Baiklah, aku akan mendanai proyekmu ini!“


Linda merasa lega lalu tersenyum sambil berterima kasih kepada Bapak Widyaya.


“Tapi ada yang harus kita bahas sebelumnya.“


“Katakanlah.“


“Setelah lima tahun berjalan, saya ingin tahu berapa harga sewa yang akan dikenakan kepada saya nantinya.“


Kalau untuk tempat tinggal dimanapun dia dan Daniel bisa mencari tempat yang baru dengan mudah tapi tempat usaha lebih baik menetap disatu tempat agar lebih dipercaya.


Widyaya tidak mengerti mengapa Linda menanyakan hal itu kepadanya lalu menatap Marco dengan heran.


“Saya harap Bapak Widyaya tidak tersinggung dengan pertanyaan saya tapi kontrak kerjasama yang kita buat itu untuk masa lima tahun. Maka dari itu, saya harus tahu berapa dana yang harus saya sediakan untuk membayar sewa tempat untuk tahun-tahun berikutnya karena kalau terlalu mahal lebih baik saya mulai mencari tempat lain yang lebih terjangkau dari sekarang sebagai tempat untuk merintis usaha ini.“


Widyaya sungguh sangat kagum dengan pemikiran Linda dan mulai sadar meskipun Linda jauh lebih muda darinya tapi pemikiran bisnisnya sangat matang dan terencana.


“Bagaimana kalau aku ingin membuat kontrak seumur hidup denganmu?“


“Maksudnya kontrak kerjasama selamanya?“


“Benar. Bagaimana menurutmu? Apakah kau tertarik?“


“Menurut saya hal itu mungkin saja tapi kalau begitu saya harus meminta kompensasi yang lebih untuk bisa dijadikan pegangan saya.“


“Apa itu?“ tanya Widyaya sangat tertarik dengan negosiasi yang diajukan Linda.


“Saya meminta rumah tinggal, showroom, dan dua buah mobil. Satunya jenis mobil sedan dan satu lagi mobil keluarga. Semuanya diatas namakan atas nama saya. Tapi semua surat-surat legalitasnya akan dipegang oleh Bapak Widyaya.“


Linda membutuhkan semuanya itu untuk memastikan, ia tidak mengingkari semua kesepakatan kerjasama meskipun ia mengingkarinya, Linda bisa menuntut semua hak yang dimilikinya tapi Linda juga memberikan semua surat-surat itu kedalam tangannya untuk menjaga kepercayaannya.


Menarik, sungguh sangat menarik, pikirnya dengan kagum dalam hati sambil melirik Marco.


“Apa menurutmu itu pantas dijadikan kompensasi atas kerjasama ini?“ kata Widyaya mau tahu pendapat Linda lebih lanjut.


“Menurut saya, ini sangat pantas sekali karena saya akan menghasilkan banyak keuntungan, yang akan menguntungkan kedua belah pihak untuk jangka waktu yang sangat panjang. Bisa dibilang selama saya masih bisa berkarya, saya masih terikat kontrak kerja dengan Bapak. Tapi ada tambahan lagi, setelah lima tahun kedepan system persentase konsinyasi diantara kedua belah pihak akan berubah menjadi 30 % untuk Bapak dan 70 % untuk saya.“


“Kenapa bisa begitu?!“ tanyanya tertarik untuk mendengar lebih lanjut.


“20% akan digunakan untuk mengganti interior atau menambah fasilitas gedung atau penginapan sehingga saya tidak perlu meminta tambahan investasi lagi kepada Bapak nantinya.“


“Apa itu juga berlaku untuk usaha bridalmu?“


“Kecuali usaha bridal saya. Karena dana investasi yang saya gunakan untuk bridal berasal dari perusahaan maka kontrak kerjasama akan dibuat hanya untuk lima tahu kedepan dan jika ingin melanjutkan kontrak kerjasama, perusahaan harus menambah uang investasi yang sudah saya tetapkan nantinya.“


“Jadi keuangan untuk bridal berbeda dengan investasi yang saya lakukan?“


“Berbeda. Uang yang Bapak investasikan akan dikembangkan khusus untuk gedung pertemuan dan penginapan sedangkan dana investasi yang sudah disetujui akan dipergunakan sesuai dengan rencana awal pengembangan usaha bridal.“


“Kau yakin bisa menangani hal itu, seorang diri?“


“Dengan bantuan staf, tidak ada yang tidak mungkin!“

__ADS_1


“Kau sangat yakin rencana ini bisa berjalan lancar, iya ‘kan?!“ kata Widyaya sambil tersenyum kagum.


“Sangat yakin!“ kata Linda dengan yakin.


“Kenapa kita tidak membuka hotel sekalian?“


“Saya rasa belum saatnya dan saya merasa belum sanggup untuk menangani bisnis perhotelan yang benar-benar membutuhkan penanganan khusus untuk menjaga standar perhotelan.“


“Begitu?“ sahut Widyaya menyayangkan pendapat Linda.


Ia mengira Linda akan menyambut gembira tawarannya.


“Yah. Mungkin kalau semuanya sudah berjalan lancar dan terkendali, tidak menutup kemungkinan, kita bisa mengembangkan usaha penginapan kita menjadi perhotelan,“ tambahnya lagi.


Senyum Widyaya merekah.


“Baiklah! Sepakat.“


Linda menyambut uluran tangan Bapak Widyaya yang terus menerus melirik Marco sambil mengangguk-angguk.


Linda merasa sangat aneh dengan sikap Bos Besarnya itu. Dan tambah bingung saat melihat Marco yang merasa begitu bangga akan sesuatu yang hanya bisa dimengerti ayah dan anak itu.


“Bagaimana kalau minggu ini kita pergi ke pulau dan memancing?“


“Maaf Pak, masih banyak yang harus saya kerjakan untuk mempersiapkan segalanya lagipula saya tidak terlalu suka mancing.“


Tidak ada yang pernah menolak ajakannya! Lagipula ia sangat jarang mengajak seseorang untuk menemani hobinya itu.


Widyaya merasa sangat kecewa mendengar pernyataan Linda yang tidak sesuai dengan harapannya sebelumnya.


“Kau tidak suka memancing?“


“Yah, karena itu adalah hobi yang membutuhkan banyak waktu dan kesabaran. Dan dua hal itu, tidak bisa saya lakukan,“ kata Linda terus terang.


“Menurut saya dengan segudang kesibukan yang harus saya persiapkan dan kerjakan, hal itu merupakan hal yang sia-sia untuk saya lakukan saat ini.“


Widyaya baru bisa tersenyum ketika Linda mengatakan alasannya.


“Kau tahu, anak muda tidak boleh terlalu giat bekerja.“


“Sebaliknya, menurut saya sedari muda itu, kita harus memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya agar nanti ketika saya sudah seumuran anda, saya bisa lebih menikmati waktu senggang saya dan belajar memancing.“


“Kau jujur sekali! Apa kau tidak takut menyinggung aku?“ kata Widyaya sambil tertawa.


“Aku percaya Bapak bukanlah orang yang berpikiran sempit dan mudah tersinggung. Buktinya sudah terlihat!“ kata Linda dengan percaya diri dan ikut tertawa.


“Buktinya?“


“Bapak terlihat begitu awet muda dan masih sangat gagah!“ kata Linda sambil tersenyum polos.


Widyaya tertawa keras sambil mengangguk-angguk mendengar komentar Linda.


Linda hanya tersenyum sambil melirik Marco yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan aneh.

__ADS_1


Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Marco tentang dirinya.


__ADS_2