Kemelut Cinta

Kemelut Cinta
Kemelut Cinta by Lucy Ang bab 32 judul menarik garis tegas!


__ADS_3

Bab 32


Marco terus-terusan gelisah menunggu Linda kembali.


Dia juga tidak menghubunginya untuk memberinya kabar, sudah tiga hari, bayangkan!


“Sebentar lagi dia akan pulang, bersabarlah.“


“Paling tidak, seharusnya dia mengabariku!“ kata Marco dengan kesal.


“Kau kurang berusaha sepertinya?“ goda Widyaya.


“Pa!“


“Baiklah, baiklah!“ kata Widyaya sambil tertawa.


“Menurutmu Linda akan kembali kesini?“ godanya lagi.


“Pa!“ erang Marco lagi, bertambah cemas.


Widyaya tertawa lagi dengan keras.


“Tapi Papa heran, bagaimana kau bisa kehilangan semua pesonamu ketika menghadapinya. Apa kualitas percintaanmu tidak memuaskan Linda waktu itu?“


“Tentu saja kami sama-sama merasa kepuasan!“


“Lalu kenapa Linda begitu dingin menghadapimu setelah semua yang terjadi?“


“Rupanya Darmi yang memasukkan obat perangsang kedalam minuman Linda.“


“Dan kau yang menyuruhnya!?“


“Apa Papa pikir aku bisa sepicik itu? Tentu saja tidak, aku juga baru tahu besok siangnya. Aku curiga melihat sikap Linda pagi harinya ketika melihatku tidur diranjangnya!“


Widyaya tertawa lagi, membayangkan anaknya yang jadi rebutan gadis-gadis cantik diusir begitu saja dari kamar wanita yang sudah semalaman menghabiskan malam bersamanya!


Marco meninggalkan rumah ayahnya dengan kesal dan tidak berniat untuk ke kembali kantor hari ini.


Memikirkan Linda sedang bersama suaminya, membuatnya tidak berselera untuk melakukan apapun juga!


Saat sampai dirumahnya, ia bingung melihat mobil Linda melintas berlawanan arah dengannya. Tidak mungkin Linda sudah kembali, pikirnya. Tapi mau tidak mau dia bergegas masuk kedalam rumahnya.


“Linda?!“ tanyanya kepada Darmi yang sedang menyapu dihalaman depan.


“Nyonya barusan pergi kekantor setelah meletakkan kopernya.“


Marco masuk kedalam mobilnya lagi dan langsung tancap gas ke showroom Linda.


Linda memanggil perwakilan dari masing-masing devisi untuk melaporkan perkembangan usahanya.


3 hari yang berlalu tanpanya!


Linda merasa sangat menyayangkan hal itu terjadi tanpanya, karena kemajuan yang dialami usahanya sangat signifikan dan terus menambah target omzet maka ia rela kehilangan moment itu.

__ADS_1


Permintaan untuk penggunaan gedung hampir penuh untuk setiap minggunya, sedangkan bridalnya dan penginapan juga berjalan seperti yang ia ingini.


Target promosi yang dia lancarkan rupanya mendapat sambutan yang cukup baik dari setiap pengunjung yang datang.


“Linda! Kau sudah pulang!“ kata Marco langsung menghampiri dan memeluk Linda yang sedang meeting.


Ingin rasanya Linda menjauhkan tubuh Marco darinya tapi melihat tatapan dari karyawannya, ia hanya bisa menghela napas.


“Iya Marco, aku sudah pulang dan sekarang sedang meeting,“ kata Linda mengingatkan Marco.


“Oh iya maaf, aku tidak memperhatikan,“ kata Marco sambil tersenyum.


“Aku merindukanmu,“ desah Marco sambil mencium bibir Linda.


Dengan cepat, Linda mengalihkan wajahnya dan ciuman Marco hanya menyentuh pipinya.


“Sayang, aku sedang meeting sekarang!“ kata Linda dengan nada penekanan agar Marco benar-benar menyimak kata-katanya dan tidak mempermalukan dirinya didepan karyawannya.


“Kalau begitu, boleh aku bergabung?“


Linda menghela napas panjang.


“Apa kau tidak kekantor hari ini?!“


Ia benar-benar harus menahan diri agar tidak menendang kaki Marco.


“Malas, bagaimana kalau kita makan siang keluar setelah ini?“


“Marco!“


Linda berusaha tidak mengindahkan Marco lalu mempersilahkan karyawannya untuk meneruskan masing-masing laporan mereka.


Linda merasa ada yang aneh yang menyentuh kakinya. Merayap perlahan, keningnya mengerut lalu melihat kebawah meja lalu melotot kearah Marco yang sedang menggodanya.


Ia menginjak kaki Marco sambil berusaha tetap fokus dengan laporan para karyawannya.


Karena tidak berhasil akhirnya Linda berdiri dan berusaha untuk tidak menatap Marco dan memberikan pandangan-pandangan kepada para karyawannya.


Setelah meeting selesai, Linda langsung menutup pintu rapat-rapat dan mendekati Marco dengan marah.


“Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya!? Apa kau gila?!“


Linda mendengus kesal.


“Aku hanya merindukanmu,“ kata Marco tanpa merasa bersalah.


“Kau dilarang untuk merindukan aku! Katakan apa maumu? Aku sibuk!“


“Papa mengajak kita makan siang.“


“Katakan saja aku sibuk.“


“Katakan saja sendiri! Sejak kejadian itu Papa masih terus marah padaku.“

__ADS_1


Linda memejamkan matanya berusaha menahan diri.


“Baiklah, jam berapa?“ tanyanya pada akhirnya.


“Setengah jam lagi bagaimana?!“


Linda menghela napas berat.


“Baiklah.“


“Bagaimana dengan pengaturan suamimu disana?“


“Semua akan berjalan seperti rencana tapi Marco please, jangan pernah berharap lebih dari hubungan kita.“


“Jangan bilang, kalau kau tidak merasa puas dengan percintaan kita!“


Wajah Linda memerah mendengar kata-kata Marco.


Marco mendekati Linda dengan berani sambil tersenyum.


“Aku tahu kau sama menikmatinya, sama seperti aku bisa merasakannya. Kau begitu lembut, …“


“Marco! Cukup. Itu adalah sebuah kesalahan yang tidak perlu diingat-ingat lagi. Aku minta dengan sangat, tolong hargai aku sebagai wanita yang sudah menikah!“


“Kesalahan yang menggiurkan, bukan?!“ kata Marco sambil menyentuh bibir Linda.


“Marco!“ seru Linda sambil mendorong Marco menjauh.


“Biarkan aku menciummu Linda dan katakan semuanya hanya kesalahan satu malam,“ desah Marco mendekati bibir Linda yang agak bergetar.


“Baik, cium aku dan akan aku buktikan, ciumanmu tidak akan berpengaruh apapun padaku!“ tantang Linda dengan berani.


Linda berusaha untuk bersikap sedingin mungkin saat bibir Marco menyentuh bibirnya.


Marco tahu Linda berusaha membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ciumannya tidak membawa dampak apa-apa maka ia tidak segan-segan mengulum dan membujuk bibir Linda agar mau merenspon ciumannya.


Linda berusaha keras untuk menahan diri untuk tidak membalas ciuman Marco.


“Sudah selesai?“ tanyanya dingin.


Marco mencoba lagi.


Kali ini dengan penuh gairah, ia memaksa bibir Linda membuka dengan lidahnya.


Linda tetap menahan diri sambil masih terus menatap Marco tanpa ada sedikitpun perasaan untuk membalas ciuman Marco.


“Sudahlah Marco, kau sudah lihat sendiri, aku tidak merasakan hal yang sama denganmu. Malam itu hanya murni kesalahan! Entah dari mana perasaan itu berasal tapi aku benar-benar menghargai hubungan professional kita dan aku harap, kau juga bisa melakukan hal yang sama denganku.“


Marco benar-benar merasa kesal karena tidak bisa mengoyahkan pertahanan yang Linda buat.


“Aku tidak percaya, kau tidak merasakan hal yang sama denganku!“


“Itulah yang sebenarnya,“ kata Linda sambil menyerahkan tissue kepada Marco dengan tenang lalu duduk dikursinya.

__ADS_1


“Aku masih harus memeriksa beberapa laporan. Apa kau mau menungguku disini atau bagaimana?“ tanya Linda dengan tenang.


Marco mengerang kesal lalu keluar dari ruangan Linda.


__ADS_2