
di malam hari yang sunyi hanya terdengar suara jangkrik yang bersautan,Rina sedang duduk termenung memikirkan perkataan Baron tentang Joy.
"apa yang aku pikirkan!"
"tidak mungkin anakku Joy melakukan hal itu"sendu Rina.
sudah lama Rina termenung tidak terasa malam berganti dengan pagi hari,saat itu pintu kamar terbuka seseorang datang dengan nampan makanan di tangannya.
Rina menoleh kearahnya malas menatap wajahnya itu"untuk apa kamu kesini"tanya Rina tanpa menoleh.
"apa kamu tidak lihat?aku membawakan kamu makanan"
"jadi cepatlah makan!"ucap Baron.
Rina tidak kuat lagi untuk berbicara dengannya, akhirnya Rina memakan makanan yang dibawakan Baron.Baron terus menatap Rina yang sedang makan, teringat masa-masa saat mereka pacaran dulu.
"Airi... maksudku Rina,apa kamu tahu aku selau mengawasi keluargamu.aku sangat marah melihat keluargamu selalu harmonis dan bahagia,seharusnya posisi margan adalah aku!"
Rina tersedak mendengar perkataan Baron,Baron melihat Rina tersedak langsung memberikannya air minum"apa yang kamu bicarakan"ucap rina.
Baron menatap wajah Rina lekat"Rina...Rina.. saat margan mengalami kecelakaan aku merasa senang tetapi sesaat aku merasa sedih karena kamu juga ada disana"
"aku merasa frustasi jika aku kehilanganmu tetapi sepertinya tuhan sedang memihak ku kamu sadar dari koma dan sedangkan margan mati"ucapnya tertawa saat menyebutkan nama margan.
"jangan menyebut nama marganku dengan mulutmu yang kotor itu!"tegas Rina.
"cih...apa kamu tahu, waktu itu seharusnya margan hidup.."belum selesai bicara Rina langsung memotong perkataan Baron.
"apa maksudmu!"ucapnya dengan mata yang melotot.
"tenang...tenang dulu.sebenarnya margan sadar sebelum dirimu,saat aku mendengar kabar bahwa margan sadar aku langsung membunuhnya"ucapnya tersenyum kearah Rina.
__ADS_1
Rina yang tadinya duduk sekarang berdiri dan menghampiri Baron"kenapa?apa kamu senang jika aku membunuh margan?"ucap Baron.
Tanpa Baron sadari Rina mengangkat tangannya dan menampar pipinya dengan keras, meninggalkan bekas merah di pipinya.baron memegang pipinya yang sakit seperti terbakar api tetapi bukannya marah melainkan Baron tertawa dengan keras.
"Iblis, brengsek, pembunuh!!"umpat Rina.
"Apa kau gila!kenapa kau membunuh marganku!aku sangat kehilangannya..manusia bejat!"ucap rina yang sedang memukul lengan Baron.
Sedih, sakit itu yang Rina rasakan.dia tidak tahu apa yang harus dilakukan?jika dia membunuh Baron juga tidak ada artinya.
Rina menangis tersedu-sedu dilantai"Baron apa yang kamu lakukan!kenapa kamu tidak ingin aku merasa bahagia!"ucapnya dengan pipi yang basah akibat air mata yang terus bercucuran.
"Cih... berhenti menangis!kenapa kamu selalu menangisinya! seharusnya yang menjadi suamimu adalah aku,aku!!"ucapnya mencengkeram pipi Rina.
"Aku sangat mencintai margan"ucap rina.
Baron menghempaskan tubuh Rina,sehingga Rina tersungkur dilantai"aku tidak ingin mendengar nama margan di mulutmu!jika aku mendengarnya aku tidak akan segan-segan"ancam Baron.
"Cih sial!"umpat Baron.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Ansel yang melihat Joy masih tidur dirinya membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk kedalam kamar.
"Hmmm..."Joy menggeliat saat matahari menyilaukan matanya.
"Joy bangun sudah pagi"ucap ansel lembut.
Joy mengerjapkan matanya dan menatap wajah ansel yang tersenyum lembut kearahnya"bangun dan bersihkan dirimu"ucap ansel.
Joy menuruti perintah ansel,seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya.selesai membersihkan diri Joy menghampiri ansel.
__ADS_1
"Sini duduk"ucap ansel mengajak Joy duduk disofa.
"Aku sudah membuatkan mu roti sandwich,cepat makan "ucap ansel.
"Kamu tidak makan?"tanya Joy disela makannya.
"Nanti saja selesai kamu makan"ucap ansel.
Tanpa bicara Joy menyodorkan roti sandwich bekas gigitannya kepada ansel"kita makan bersama-sama"ucap joy.
Ansel merasa senang rencananya berhasil, sebenarnya dirinya sengaja hanya membawa satu roti sandwich agar dia bisa makan bersama-sama dengan Joy.
Dengan bibir yang tersenyum lebar ansel menggigit roti sandwich itu"sekarang giliran mu"ucap ansel mengambil roti tersebut dan menyuapi Joy yang dimana dia gigit tadi.
"ansel...apa kamu sudah menemukan mama?"tanya Joy disela makannya.
senyuman yang tadinya terukir di bibirnya perlahan pudar"aku...aku belum..."belum selesai bicara Joy langsung menyela.
"aku mengerti...biarkan aku sendirian"ucap joy.
"Joy.."
bibir ansel dibungkam dengan tangan joy"aku ingin sendiri dulu"ucapnya.
ansel menghela nafas panjang menatap wajah joy"baiklah...aku mengerti"
ansel merapikan nampan makanannya dan segera pergi dari kamar joy"aku tidak berguna"batin ansel
semoga kalian suka 😊
dukung selalu author 💪
__ADS_1