
"Aku harus pergi dari sini, Aku sungguh malu, Aku tidak ingin di ucap perempuan murahan ataupun perempuan *****" uacapnya dan langsung ingin segera pergi saja dari kamar hotel ini.
Ahhhh...
Key'li yang sudah tidak kuat lagi akan sakit yang tidak bisa iya tahan lagi, di saat itu juga Gibran pun bangun dan membuka matanya.
"Siapa kau?" Kaget Gibran di saat di ini baru saja bangun, dan di saat itu juga langsung matannya itu tertuju ke pada Key'li yang sedang duduk di tepi ranjang, sambil memenggi sebuah selimut, untuk menutupi tubuhnya itu yang sudah tidak memakai sehelai benang pun.
"Harusnya Aku yang bertanya kepadamu, kenapa kau melakukan ini padaku, apa salahku padamu" lirih Key'li yang langsung saja menangis di hadapan Gibran.
"Apa maksud mu? Aku melakukan apa padamu?" Tanya Gibran kepada Key'li, tanpa menyadari jika dirinnya ini sudah tidak memakai sehelai benang pun, alis telanjang.
"Apa aku sudah melakukan" resahnya dan langsung melihat sebuah lantai yang dimana di sana sudah ada berceceran sebuah baju milikinya dan juga baju Key'li.
Ahhhh....
Arghhh....
Kesal Gibran di saat dia ini sudah melakukan hal yang tidak di inginkan itu di antara Gibran dan juga Key'li.
"Apa yang sudah terjadi di antara kita?" Tanya Gibran kepada Key'li.
__ADS_1
"Sudahlah, Aku akan pergi dari sini" ucap Key'li kepada Gibran untuk segera pergi saja dari kamar hotel, dan akan kembali ke apertemen yang dia inap di kota Australia. Tapi Gibran hanya diam saja.
Ahhhhh....
Gibran yang sudah emosi di saat Key'li ini sudah tidak ada di dalam kamar hotelnya lagi.
"SIALAN, SIAPA YANG SUDAH MEMBUATKU SEPERTI INI" hardiknya yang sudah tidak bisa Gibran urungkan lagi.
"APA INO SEMUA ULAH LUCKY?" Tanya Gibran kepada dirinnya sendiri.
Parang!
Brug!
Brug!
"HEH, JIKA BENAR INI SEMUA ULAH LUCKY, AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN UNTUK MEMBALAS SEMUANYA" pekik Gibran sambil terus tersenyum dengan senyuman yang sudah meyiapkan sebuah rencana besar untuk Lucky.
"Heh sudahlah, Aku akan pulang ke mension Oppa, karena aku tau, apa mungkin saja ini juga rencana Oppa" curiga Gibran kepada Oppa Jonathan.
***
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain yang dimana di mension Abraham, dia ini masih tetap resah saja akan perbuatan Gibran anaknya itu yang sudah menghabiskan uang satu milyar di satu malam, dan tak bisa di terima Gibran ini melakukan ciuman bersama Zane bocah ***** itu.
Tak hanya memikirkan itu saja Abraham juga memikirkan rencana Oppa Jonathan yang ingin menjebak Gibran itu, apakah berhasil atau tidak.
"Apa yang harus aku lakukan" resah Abraham
"Heh, baikalah, dari pada Aku ini diam saja, lebih baik aku pergi ke mension Oppa Jonathan saja" ucapnya langsung berdiri dari duduknya untuk segera menuju ke mension Oppa Jonathan
"Hallo Noel, tolong kau siapkan mobil untukku, Aku akan pergi ke mension Oppa Jonathan hari ini" pinta Abraham kepada Noel sang bodyguard Abraham yang dimana pun Abraham pergi dia ini selalu ada di sampingnya, tak hanya Noel saja bahkan bersama Mark juga tentunya.
"Baik Tuan" jawabnya
"Dady!" Panggil Lucky kepada Dady Abraham yang baru saja keluar dan tentunya sudah membawa sebuah pistol dan juga pisau.
"Kenapa Lucky?" Tanya Dady Abraham kepada Lucky
***
Mampir yuk Kaka 🥰🥰
__ADS_1