
"Zane!"
"Lucky, tolong percaya padaku, Aku tidak melakukan apa-apa" ungkap Zane kini masih saja takut. Di saat sebuah pistol milik Lucky, masih saja di kepala Zane.
"Heh, sepertinya memang Zane tidak tau, apa-apa" batin Lucky
"Baiklah, Aku akan percaya padamu, namun Zane, jika kau ini masih ingin hidup, cepat segera Kau tinggalkan Kota Australia" pinta Lucky
"Ha? Apa maksudmu Lucky? Apa maksud semua ini, kenapa Aku sungguh tidak mengerti!"
"Bangsat, brengsek kau Zane, begitu tolol sekali Anada" hardik Lucky
"Tapi Aku tidak mengerti Apa maksudmu, Lucky, jadi Aku tidak tau apa-apa!"
"Anjing, sialan, ya sudah Aku akan menyuruh Cose untuk membuangmu saja ke laut" ancam Lucky "Pokonya kau harus tau Zane, jika Aku masih melihatmu, berada di dalam hotel, Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu, Aku tidak peduli, siapa kamu dan siapa Aku" ancam Lucky lagi, hingga kini Lucky memilih untuk pergi saja.
"SIALAN"
Lucky yang sudah ingin pergi dari club Oppa Jonathan, dan akan segera pergi ke sebuah club Dady Abraham, yang di mana tempat kejadian Lucky menjebak Gibran adalah di Club Dady Abraham.
Mobil Bentley kuning kini, sudah di lanjukan oleh Lucky, yang di mana dia akan segera pergi ke club Dady Abraham. Untuk mencari tau, siapakah yang sebenarnya sudah membongkar rahasia miliknya.
Lucky saat ini masih saja di mana dia masih melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Lucky kini langsung tersenyum tipis di saat dia baru saja datang di club Dady Abraham, kini ada mobil Zeep hitam, yang di mana mobil itu milik Gibran.
Tidak mau menunggu lama, yang di mana Lucky, kini langsung saja untuk segera turun dari mobil Bentley berwarna kuning, milik Cose untuk segera menuju ke dalam.
Lucky hari ini, dia tidak ingin mencari gara-gara, yang di mana dia memilih untuk segera masuk saja ke dalam untuk mencari tau semuanya.
Yang di mana saat ini, Lucky, sudah di ruangan Cctv club Dady Abraham, untuk melihat siapakah yang sudah membongkar semau ini.
"Aseh, bangsat! Ternyata dia?" Lucky yang sudah mengepalkan tangannya di saat dia melihat sebuah cctv Zane.
Yang ternyata memang bener, jika Zane, yang sudah membongkar semua itu, dalam keadaan mabuk, dan bisa di katakan juga Zane, tidak sengaja melakukan itu semua.
"Apa yang harus Aku lakukan" keluh Lucky "Apa Aku harus mebunuh Zane, ahhh, tapi dia tidak sengaja untuk melakukan ini semua! Lalau apa yang harus Aku lakukan sekarang"
Bugh!
Bugh!
Kini Lucky yang sudah seperti orang gila, yang di mana dia sudah memukuli sebuh tembok hingga sekarang tangan Lucky berdarah.
Saking keras, pukulan Lucky ke tembok itu, berhasil membuat tangan Lucky, kini mengeluarkan darah segar yang masih saja mengerusud sungguh deras.
Plok...
__ADS_1
Plok...
Suara tepuk, tangan dari seorang lelaki yang baru saja datang menghampirinya yang di mana laki-laki itu adalah Gibran.
"Bagaimana Lucky!" Kini Gibran sudah terseyum penuh dengan dendam
"Cih, Apa maksudmu?"
"Tidak, Aku hanya ingin mengatakan saja, bagaimana anak buahmu itu, sungguh keren sekali, bukan menyimpan rahasia ini" ledek Gibran
"Aseh, Sialan, kau Gibran"
Bugh!
Kini Lucky yang sudah emosi, di saat Gibran kini sudah memancing emosi, Lucky.
"Tua!"
"Tuan Kau tidak apa-apa!"
"Tidak, Zekay, Bimo, tapi kau tau bukan apa yang harus kau lakukan" ucap Gibran
"Tentu saja Tuan"
__ADS_1
Bugh!Tuan