
Masih dimansion Mason.
"Daddy..." panggil Alisha.
Alisha berlari ke kamar dimana Alfonso dan Aleijo sedang bercerita.kedua tangan kecilnya langsung menopang diata kedua paha Alfonso.
"Sayangnya Daddy...uda bangun?" Alfonso mengangkat tubuh kecuali Alisha lalu mendudukkan diatas pangkuannya.Ia pun mengecup kening Alisha.
"Iya. Dad... yuk pulang. Sha nggak mau di sini lagi. Takut ada orang jahat datang lagi." Alisha menatap wajah Alfonso.
"Baiklah. Kita pulang. Pamit dulu sama Opa dan Oma," titah Alfonso.
"Okey...yuk Kakak, kita pamit Oma dan Opa, berdua." Alisha melompat turun dari pangkuan Alfonso, dia menarik lembut tangan Aleijo. Kedua anak Leticia itu berjalan ke ruang tamu dimana Mason dan Felisia sedang duduk bersama Andre. Alfonso mengawasi dari belakang, karena dari gerak tubuh Aleijo masih ketakutan. Ia melirik kesana-kemari mengikuti langkah sang Adik.
"Opa, Oma. Sha pulang dulu ya." pamit Alisha.
"Sha, mau pulang sekarang?" Felisia, menangkup kedua sisi wajah imut Alisha.
"Iya, Oma." Alisha mengangguk.
"Baiklah. Nanti malam Oma dan Opa ke mansion Alisha. Kemarilah peluk Oma sebentar." Felisia memeluk Aleijo dan Alisha bersamaan. Kemudian mengecup ujung kepala keduanya bergantian. Mason, ikut mengelus rambut kedua cucunya.
"Okey... Goodbye Oma, Opa." sahut Aleijo dan Alisha bersamaan.
Setelah berpamitan kedua anak itu langsung di gandeng Alfonso. Mereka melangkah keluar menuju mobil.
__ADS_1
Setelah masuk di dalam mobil. Alfonso menurunkan kaca jendela mobil, membiarkan kedua anaknya melambaikan tangan kepada Oma dan Opa. Sedangkan, Andre menggunakan mobilnya, dia pun mengawal sahabatnya itu dari belakang bersama satu mobil pengawal lagi.
"Bye..." Kedua anak Alfonso melambaikan tangan kepada Mason dan Felisia. Kemudian, Alfonso mulai menginjak pedal gas mobil.
Ting-ting...
Alfonso membunyikan klakson mobil. Dia melambaikan tangan kepada Mason dan Felisia.
"Hati-hati, ya !" pesan Felisia.
Alfonso mengangguk, mengiyakan pesan Felisia.
Dalam perjalanan Aleijo tidak tenang. Matanya melirik kesana-kemari. Ia was-was, kwatir ada orang jahat datang mengganggunya bahkan terkadang dia menyembunyikan wajahnya di belakang Alisha, " Dek...sembunyi biar nggak tertembak." ucapnya pada Alisha.
"Huftt...!" Dia membuang nafasnya kasar.
Bingung. Harus cari psikiater dulu atau menghabisi para penjahat itu. Alfonso mengusap pelan kepala Aleijo bergantian kepala Alisha.
"Ada Daddy. Tidak ada orang jahat yang berani mendekat. Okey?" Alfonso tersenyum namun wajahnya benar-benar dingin. Sulit di tebak.
Aleijo mengangguk, "Daddy... Alicia dan Alonzo diantara papa Glen aja ya. Soalnya Aleijo mau cepat tiba di mansion. Jo, mau di kamar saja!" pintanya.
"Iya sayang. Tapi, biasanya kamu suka main di mansionnya papa Glen. Jo, juga suka, 'kan main dengan Belinda?" Alfonso menggoda Aleijo untuk mengalihkan perhatian anaknya itu.
__ADS_1
Benar, Aleijo sangat menyukai Belinda anak Papa Glen. Bahkan, dia akan marah jika paman Gareth atau paman Andre menggoda dia, sengaja mengajak Belinda menjauh dari Aleijo setiap kali semua berkumpul di mansion Alfonso.
"Nggak! Aleijo nggak mau." Aleijo mengangguk kepalanya. Dia melirik Alfonso.
"Baiklah. Tadi, Daddy uda minta tolong Papa Glen yang antar Alicia dan Alonzo pulang." Alfonso menambah kecepatan mobil.
Dalam perjalan Alfonso melakukan panggilan melalui sambungan melalui layar mobilnya.
Alfonso menekan layar berbentuk kotak segiempat itu, dekat stir mobil. lalu dia melakukan panggilan.
"Dok, Ada kenalan psikiater yang bagus? Jika ada tolong nanti pukul 19.000 nanti antarkan ke mansion saya!" ucapnya melalui sambungan panggilan.
"Baik pak Alfonso. Saya sudah mendengar kabar itu dari dokter Louis. Saya ikut prihatin. Kebetulan, psikiater itu teman saya sendiri. Beliau sudah menangani banyak kasus seperti Aleijo alami saat ini." jawab dokter itu. Dia berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup semakin kencang.
Selama ini dia berusaha untuk tidak menghubungi Alfonso lebih dulu. Dia takut, tidak bisa mengontrol perasaan nya. Karena, setiap kali dia memberi sinyal, Mafia itu menanggapinya biasa saja. Bahkan tidak sedikitpun dia melakukan pendekatan dengan Alfonso. Pria itu selalu datang membawa serta keempat anaknya.
'Duh...ni hati mesti bergejolak. Kenapa sih seperti ini?' gerutu dokter cantik itu.
"Terima kasih. Jangan lupa, cari yng terbaik di kota Spanyol ini!" tekan Alfonso.
Lalu, dia menekan layar itu lagi. Tidak peduli, dokter itu mendengar atau tidak intinya dia membutuhkan psikiater terbaik.
Ting!
Panggilan diakhiri Alfonso.
__ADS_1