Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Daging Lezat.


__ADS_3

Ethan di bantu beberapa anak buah mereka memindahkan kelima tawanan ke ruang eksekusi, sempat salah satu diantara tawanan itu memberontak namun begitu di bentak Glen, tawanan itu pun diam, patuh bak seekor anjing terhadap tuannya. Mereka di paksa duduk berjongkok, hanya dengan mengenakan celana tanpa baju.


"Roarr..." Raungan suara harimau menyambut kedatangan mereka. Para tawanan itu saling menatap, mereka ketakutan bayangan gigi taring harimau mencabik tubuh mereka membuat mereka menelan saliva dengan kasar. Benar, siapa pun yang mendengar raungan harimau itu pasti akan di buat lari. Begitupun dengan para tawanan itu, siap atau tidak hanya bisa pasrah.


Hewan buas peliharaan Alfonso itu, terus meraung tidak sabar menunggu sajian daging lezat. Mereka mengibas-ibaskan ekor, Alfonso tertawa.


"Kenapa, kalian jadi heboh? Lama nggak dikasih makan daging lezat? Lihat mereka tidak berisi lebih banyak urat dan tulang." Alfonso memasukkan tangannya ke dalam kandang dia mengelus-elus punggung belakang harimau nya, matanya menatap kelima tawanan itu bergantian sembari menaikkan satu alisnya.


"Lihat hewan peliharaan itu, mereka tidak sabar ingin mencabik-cabik tubuh kalian semua." ujar Andre menakut-nakuti lima tahanan itu.


"Tuan, tolong ampuni saya. Saya janji, saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan, asal Tuan kasih saya satu kesempatan lagi untuk bertobat." Satu tahanan berjalan ngesot menghampiri Alfonso lalu tangannya langsung memeluk kedua kaki Alfonso. Dia tidak tahan lagi, melihat penderitaan yang akan dia hadapi, ia mengiba belas kasihan.


Alfonso memejamkan matanya, "Lepaskan kaki ku, kesempatan itu sudah habis. Apa tadi kau tidak dengar? Apa yang aku tawarkan tadi di ruang penyiksaan?" Alfonso menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis.


"Maafkan saya itu karena saya mengikuti saran teman saya, tapi kali ini saya tidak akan menurut apa kata dia," jawab tawanan itu.


"Semuanya sudah selsai. Sekarang waktunya aku menghabisi kalian semua," Alfonso berjongkok begitu juga ketiga temannya. Tangannya mengangkat dagu salah tawanan itu. Pria berbadan kurus itu menatap Alfonso.


Sreet...


Alfonso menggoreskan belatih berwarna keemasan itu, di bagian mata, bola mata Pria itu pun langsung jatuh di lantai.


"Argh..." jerit tawanan itu, dia masih bisa bernapas.


"Itu baru bola matamu, belum ginjal, jantung serta anggota tubuh lainnya," Alfonso berdiri dia menendang pria itu hingga jatuh terlentang.


"Sudah, cukup Tuan. Lebih baik tembak saja aku," mohon pria itu.


Sret...


Bagian ginjal diambil, pria itu masih bertahan.


"Huftt..." keempat temannya yang lihat susah keringat dinginz mata mereka melotot dengn mulut terbuka.

__ADS_1


Glen, Andre dan Gareth tertawa jahat ketika melihat para tawanan itu ketakutan.


Sret...


Ketika, tangan Alfonso hendak mengeluarkan bagian jantung, Pria itu masih mamou menahan tangan Alfonso, tangannya gemetaran, Ia menangis. Lalu, perlahan dia menganggukkan kepalanya, iklas menerima kematian itu. Alfonso pun memejamkan matanya, pesan Leticia kembali teriang ditelinganya.


"Cukup anak-anak mu mengenal Alfonso yang sekarang bukan Alfonso yang dulu." Alfonso menjatuhkan belatih dari tangannya. Ia pun memejamkan matanya , Alfonso tidak tega melihat pria itu, lalu Alfonso melirik Glen ia menganggukkan kepalanya.


"Aku masih ke kamarku. Jangan, ada yang panggil," pesannya. lalu Alfonso berdiri. Dia menatap lagi Andre dan Gareth.


"Ndre..lanjutkan!" perinta Alfonso lalu ia pun pergi meninggalkan ruang eksekusi. Langkahnya lunglai menuju kamarnya. Alfonso berjalan terus ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah sepuluh menit berada di dalam kamar mandi, Alfonso keluar dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Maafin aku sayang. Aku terpaksa melakukan ini, demi melindungi keempat anak kita. Kamu pasti masih ingat aku pernah mengatakan, aku akan membunuh jika ada yang menyentuh orang-orang berharga dalam hidupku." Alfonso menghela napas lalu perlahan dia memejamkan matanya.


Di ruang eksekusi, Glen, Andre, dan Gareth melanjutkan tugas yang ditinggal Alfonso, satu persatu organ tubuh dari kelima tawanan itu sudah selesai dikeluarkan. Potongan tubuh para tawanan itu dilempar masuk ke kandang harimau. Hewan buas itu menyambut dengan gembira mereka mengambil bagian tubuh itu lalu mencabik-cabik. Darah berceceran dimana-mana. Sementara organ yang sudah di ambil, di simpan di lemari pendingin khusus untuk menghindari kerusakan salah satu saraf dari organ tubuh itu. Gareth seperti biasa dia menghubungi dokter Kim menawarkan organ yang barusan mereka eksekusi.


♥️♥️♥️


Setelah satu jam Alfonso berisitirahat di kamarnya, Ia pun merasa cukup hatinya kembali tenang. Alfonso bangun dari tempat tidur dia melangkah keluar dari kamarnya, karena waktu sudah hampir pagi, kwatir anak-anak bangun, apalagi hari ini mereka akan masuk sekolah.


Pintu dibuka, Ketiga sahabatnya menoleh menatap Alfonso.


"Yuk...pulang!" ajak Glen.


"Sudah selesai?" tanya Alfonso.


"Sudah beres semuanya. Organnya langsung dibeli dokter Kim. Nanti Andre dan Gareth yang urus semuanya. Kita berdua sebaiknya segera pulang sebelum anak-anak mu bangun." Glen memasukan ponselnya ke dalam kantong celana seraya bersiri dari sofa.


"Baiklah. Urus semua sampai selesai barulah kamu berdua pulang.Jangan lupa tinggalkan bonus untuk mereka yang di sini," pesan Alfonso kepad Andre dan Gareth.


"Baiklah." sahut Andre dan Gareth.


Heli sudah bersiap di landasan markas Pinus. Alfonso dan Glen bergegas naik. Seperti biasa untuk menghindari kebisingan suara Helikopter Keduanya mengenakan earphone.

__ADS_1


Helikopter segera terbang menuju mansion Alfonso. Dua puluh lima menit tepat Heli mendarat tepat di taman belakang mansion. Alfonso dan Glen bergegas turun dari Heli.


"Al..." panggil Glen ketika mereka hendak masuk ke dalam mansion.


" Kamu tidak hubungi mertua mu dulu? Biar mereka keluar dari kamar mu barulah kamu masuk," ujar Glen.


"Hahaha..Iya aku hampir lupa. Tapi, biasanya Daddy jam segini uda bangun jogging didepan mansion. Tapi, nggak tau hari ini jogging apa nggak?" jawab Alfonso. Dia pun menurut apa kata Glen. Alfonso segera mengeluarkan ponselnya, lalu dia menggeser layar benda pipih itu kemudian menempelkan ditelinga bagian kirinya.


"Al...Kamu sudah pulang." Suara jawaban dari sambungan telepon itu sangat pelan.


"Iya Dad. Maaf jika Al membangunkan Daddy. Jika, Daddy masih tidur nggak apa-apa Al tunggu di ruang keluarga," sahut Al.


Mason sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Nak...sudah selesai?" tanya Mason. Dia berjalan mendekati Alfonso dan Glen.


Mason paham benar dunia hitam seperti apa. Jika, musuh belum tewas maka pantang bagi seorang mafia pulang ke markas.


"Sudah, sayangnya mereka tidak mengaku sendiri siapa yang mengutus mereka menyerang anak-anakku," jawab Alfonso.


"Biarin saja. Intinya sekarang kita sudah tau siapa dalang dibalik semua ini. Sekarang yang terpenting, kita lebih berhati-hati lagi," jawab Mason, dia menepuk pelan bahu Menantunya.


Felisia pun susah bangun, Ia bergegas keluar dari kamar. Felisia, berjalan ke dapur pagi ini Felisia ingin memasak makanan kesukaan keempat anak Alfonso dan Belinda anak Glen.


"Morning," sapa Felisia.


Wanita paruh, berambut pirang itu masih begitu gesit walaupun usianya sudah hampir satu abad. Tapi, karena rajin olahraga dan menjaga pola makan wanita itu masih segar bugar, hanya terdapat keriput dibaginya wajah dan tangan.


"Morning, mom." jawab Glen dan Alfonso.


"Sudah pulang? Mommy mau masak dulu," ucap Felisia.


"Sudah beres Mom. Terima kasih sudah bantu jaga anak-anak. Al, mau ke kamar dulu," pamit Alfonso.

__ADS_1


"Baiklah. Daddy juga mau jogging kentaman belakang. Hati ini ke atian Leticia," Umar Mason.


"Benar Dad." lirih Alfonso.


__ADS_2