Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Reuni


__ADS_3

"Mommy Karla, dad." sahut Alicia.


"Mommy Karla kesini nggak nnagsi kabar?" protes Alonzo dia memeluk Karla


"Sayang, sini peluk Mommy, aaahh...Mommy kangen bangat. Mommy kasih kabar berarti bukan kejutan," Karla berjongkok untuk menyamai tingginya dengan anak-anak seraya melebarkan kedua tangannya dia menunggu keempat anak Leticia juga anak Stefani datang memeluk dirinya.


Kali ini Aleijo tidak ikut, tidak seperti biasanya dia begitu antusias menyambut kedatangan mommy Karla. Aleijo hanya diam di dalam gendongan Alfonso, tangannya masih melingkar di leher sang Ayah. Karla, memeluk anak kembar Leticia dia mencium kepala, hidung, pipi bergantian.


"Hei...jagoan Mommy Karla, kenapa diam aja? Sini sama Mommy. Duh... Mommy kangen bangat." Karla berdiri, dia berjalan mendekati Alfonso dan Aleijo yang masih berdiri menunggu Ketiga adiknya melepas rindu bersama Mommy Karla.


"Sini digendong Mommy."Karla mengambil ahli menggendong Aleijo. Anak sulung Leticia itu pun langsung mau ketika Karla mengulurkan tangannya.


"Kenapa sih.. digendong Daddy terus, hmm?" Karla membawa Aleijo ke ruang keluarga untuk bertemu dengan putra semata wayangnya dan Daddy Stewart.


"Dek...lihat siapa yang mommy gendong?" Karla memanggil Fidel. Anaknya.


Fidel yang sedang bermain di samping Steward duduk menoleh, "Kakak Jo," sahut Fidel.Ia pun berlari menyambut Aleijo.


"Ayo peluk adek," ucap Karla seraya berjongkok agar putra nya bisa menjangkau pipi Aleijo.


Cup.


"Kakak..." Fidel memeluk erat leher Aleijo.


Memang Karla dan Leticia ataupun Nabila dan Stefani. Mereka menanamkan kasih dan sayang untuk keluarga kecil mereka. Bagi ke empat ibu muda itu, mereka tidak membedakan ini anak siapa. Kelompok mafia itu memang sangat kompak mendidik anak-anak mereka. Karena itu, sebelum meninggal Leticia selalu berpesan kepada kedua sahabat dan adiknya, jika kelak dia tiada mereka harus mencintai anaknya sama seperti mereka mncintai anak mereka. Janji itu pun terpenuhi baik Karla, Stefani, dan Nabila mereka sangat mencintai anak-anak Leticia.


Alfonso pun masuk mengikuti Karla dari belakang.


"Hei...pak duda? Pak duda makin ganteng aja," goda Kevin. Dia berdiri merangkul sahabatnya itu.


"Ganteng apanya." sela Alfonso seraya membalas pelukan Kevin.


"Apakabar?" Kevin menepuk-nepuk bahu Alfonso.


"Baik. Kamu ke sini jam berapa?" tanya Alfonso dia beralih memeluk Steward suami Karla.


"Aku tadi ke sini jam delapan pagi jam Spanyol. Kalau jam London jam sepuluh pagi tunggu anak-anak pulang sekolah," jelas Kevin.


"Minum," tawar Kevin seraya mengangkat cangkir berisi wine.

__ADS_1


"Lanjutkan aja, aku masih urus anak-anak. Biasanya pulang sekolah mereka masih mandi lalu makan siang, dongenin mereka baru tidur siang." Alfonso menjelaskan jadwal dia menjadi Ayah sekaligus ibu untuk keempat anak kembar seraya menepuk-nepuk bahu Steward.


"Kamu benaran nggak mau minum lagi? Aku pikir setelah Leticia ngga ada kamu akan kembali minum," celetuk Kevin.


"Nggak lah. Kasihan anak-anak kalau aku mabok terus siapa yang urus mereka? Baiklah. Kalian lanjut dulu, aku masih urus anak-anak." Alfonso pun pamit dia mengangkat tangannya ke atas, seraya berjalan masuk ke kamar nya.


Di sana Fidel, Clarinda dan Diego pun sedang bermain bersama keempat anak Alfonso. Mereka melompat-lompat diatas ranjang saudara kembarnya. Jangan tanya kondisi kamar seperti apa saat ini bayangkan saja pecahan kapal.


Alfonso, perlahan menarik gagang pintu. Dia masuk ke dalam kamar lalu berdiri didepan pintu penghubung akamr anak-anak.


Alfonso tersenyum bahagia, tanpa ia sadari setetes bening asin jatuh membasahi pipinya. Dia kangen Leticia ketika melihat Karla dan Nabila sibuk mengurus keempat anaknya. Alfonso kembali melangkah keluar membiarkan Karla dan Nabila mengurus keempat anaknya.


'Sayang... seandainya kamu masih disini. Lihat anak-anak sangat ramai di kamar. Semua anak-anak kita berkumpul di sini. Sayangnya, kamu nggak sayang aku dan anak-anak kamu pergi meninggalkan kami seperti anak ayam kehilangan induknya." Alfonso menyeka air matanya dia berjalan menunduk dia tidak ingin sahabatnya tau dia sedang bersedih.


"Sudah selesai?" Kevin yang super cerewet langsung melemparkan pertanyaan kepada Alfonso.


"Oh...itu Nabila dan Karla yang urus keempat anakku." Alfonso menghela napas seraya mendudukkan tubuhnya di sofa panjang.


"Tadi sudah aku bilang mereka pasti kangen kedua mommy mereka. Udah biarin aja sekali-kali anak-anak itu lepas dengan orang lain. Asal masih di circle kita aja," terang Kevin.


"Kamu bicara gampang, Vin. Semua yang melihat berpikir aku egois tidak mengizinkan orang lain menyentuh anak ku, tapi aku sebagai suami juga seorang ayah aku harus menepati janjiku. Berat, kadang capek tapi mau giman lagi ini darah dagingku, ini buah cinta kami kepada siapa aku melepas tanggung jawabku.Terus jika aku melepaskan tanggung jawabku bagaimana dengan janjiku kepada mendiang istriku? Semua tidak semudah pandangan orang." Alfonso menggosok-gosok dagunya.


"Andre dan Gareth kemana? Aku datang sudah mau dua jam lebih belum lihat kedua jomblo sejati itu?" Kevin mengalihkan pembicaraannya.


"Masih di markas. Sekarang mereka lebih betah nginap di markas daripada di apartemen mereka sendiri," sahut Gareth.


"Oya? terus apartemen mereka siapa yang urus?" sambung Stewart.


"Siapa lagi kalau bukan asisten rumah tangga nya," Glen menggelengkan kepalanya.


Dia tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu. Mau sampai kapan mereka bertahan dengan sumpah mereka akan menjomblo seumur hidup?


"Cariin jodoh buat mereka," celetuk Kevin.


"Udah kemarin aku sarankan dekati Dokter Cathlyn. Gareth menolak katanya itu milik Alfonso," celetuk Glen seraya melirik Alfonso sebentar lalu berkedip kepada Kevin.


"What? Aku lagi yang dibawa-bawa. Aku sudah bicara dengan dokter Cathlyn, aku ingatkan dia jangan menunggu aku atau berharap dari wasiat Leticia, karena aku tidak mungkin mengingkar janjiku," sela Alfonso dia mengambil sehelai tisu lalu membentuk menjadi bulat kemudian melemparkan kepada Glen.


Glen berhasil menangkap gulungan bola tisu itu.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama kali ini Alfonso tertawa begitu lepas. Wajahnya tidak sedih lagi, tidak murung lagi jika dia sendiri. Biasanya, Alfonso ceria kecuali didepan anak-anaknya. Tapi, hari ini dia benar-benar bahagia tertawa tanpa beban.


"Betul. Dokter Cathlyn cantik bangat loh. Dia kurang apa coba? Pintar, baik hati, mencintai anak-anak." Steward menghitung jarinya, dia menyebut kebaikan dokter Cathlyn.


"Eits..jangan lupa bodynya, bodynya! Bohay." Glen melebarkan mulutnya ketika mengucapkan kata bohay.


"Bicara apa? Sepertinya tadi aku dengar ada bohay- bohay begitu?" Tiba-tiba ada suara datang dari belakang sofa.


"It__" Glen gelagapan, dia bingung akhirnya jarinya menunjuk ke arah Alfonso.


"Aku lagi," celetuk Alfonso.


"Dia, Mama." Jari Glen berpindah menunjuk ke arah Kevin seraya bibirnya dipaksa tersenyum.Tapi jujur sebenarnya hatinya lagi dag dig dug ser!!!


Stefani melotot matanya seraya tersenyum paksa, ia menganggukkan kepalanya, "Hmmm, kali ini papa Glen dipercaya. Lepas kangen nya nanti dulu sekarang makan siang dulu, makanan sudah di sajikan. Anak-anak biarin ada dua baby sitter baru yang urus," canda Stefani.


Dua baby sitter yang dimaksud Stefani adalah Nabila dan Karla.


"Baiklah. Setelah itu mandi siap-siap karena nanti anak-anak panti bersama Romo sebentar lagi pasti mereka tiba di sini. Karena, pukul tiga sore untuk misa. Lalu, kita adakan pelepasan balon." Keempat mafia serta Mason mertua Alfonso. Mereka, berjalan menuju ruang makan, seraya mendengar urutan cara yang dijelaskan oleh Alfonso.


"Kalian juga pasti capek. Jarak tempuh kalian ke sini pun cukup makan waktu yang lama. Istirahat sebentar nanti yang bereskan semuanya anak buah aja," sambung Glen.


"Nggak capek. Didalam pesawat tadi kami tidur lumayan cukup," sahut Stewart.


Ya Stewart memang capek karena perjalanan dari California ke Spanyol sembilan jam lamanya. Tapi untungnya mereka menggunakan pesawat pribadi jadi ketiganya bisa tidur sepuasnya didalam pesawat tapi namanya perjalan tetap saja capek.


"Itu betul." sahut Kevin.


"Kamu juga dong," sela Alfonso.


"Aku nggak capek, aku hanya dua jam dari London ke Spanyol," jelas Kevin.


Hari ini anggota mereka lengkap semua datang di Spanyol untuk memperingati hari kematian Leticia.


Alfonso seperti menemukan hidup baru lagi walaupun hatinya pedih. Namun, ketika melihat teman-teman semuanya semua datang bersama keluarga mereka. Ia sangat bahagia, Alfonso pun tau Leticia juga pasti tertawa dari tempat keabadiannya.


♥️♥️♥️♥️


Kasih tau ya jika cerita ku jelek.Karena aku tidak tau jika kakak-kakak hanya diam. saya pun manusia dimana saya punya batas kemampuan. Saya sadar akan tulisan saya karena itu mohon kritik dan sarannya🙏.

__ADS_1


Terima kasih♥️🥰


__ADS_2