Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Kemajuan.


__ADS_3

Sebagai orang tua tentu menginginkan anaknya berhasil, menjadi yang terbaik begitupun dengan Alfonso, sedari Aleijo terapi dia terus tersenyum apalagi melihat kemajuan yang baik. Tangannya tak hentinya mengusap rambut Aleijo.


'Semangat sayang...'batinnya.


Ia tersenyum dan hampir menitikkan air matanya ketika Aleijo sudah bisa berinteraksi dengan Psikiater Merry dengan baik. Alfonso menarik napas lega, dia memejamkan matanya membayangkan senyum indah Leticia. Itulah yang setiap kali dia lakukan setiap ia melihat kemajuan pada anak-anaknya, Alfonso pasti pejamkan mata lalu membayangkan kehadiran Leticia. Bagi Alfonso istrinya itu selalu ada di samping mereka.


Karena sibuk memikirkan kehadiran Leticia, Alfonso tidak menyadari ada sosok yang mengamati dia, Dokter itu meremas ujung tasnya, karena selalu diabaikan Alfonso.


Selesai melakukan terapi, Merry pun sengaja meletak'kan semua gambar tadi diatas meja dengan berantakan.


"Jo, boleh bantu Tante merapikan semua gambar ini?" tanya Merry.


"Okey. Aleijo bisa merapikan semuanya dengan baik. Biasanya di kamar selesai bermain, Kami harus merapikan semua mainan sendiri tanpa bantuan pelayan," cerita Aleijo.


Aleijo pun mulai meletakkan gambar sesuai urutan nomor dengan baik. Bahkan, Aleijo mampu memisahkan setiap warna gambar itu.


"O...ya? Aleijo hebat," Merry memberi aplous.Ya, sebagai orang tua jika anak berhasil melakukan hal baik, kita harus memberikan pujian bukan dengan hadiah melainkan dengan tindakan agar anak merasa dirinya telah berhasil melakukan hal baik dan itu dihargai. Karena sesungguhnya anak kecil itu akan mengingat apa yang mereka lihat dan itu yang terekam di memori mereka, bukan hadiah yang dikasih sebagai bentuk apresiasi.


Merry menatap Alfonso, "Benar?" Dia meyakinkan ucapan Aleijo tadi kepada Alfonso.


Alfonso terlihat sedikit kesal, karena Merry seperti tidak yakin dengan ucapan Aleijo. Padahal Alfonso selalu menerapkan kejujuran kepada anak-anaknya, "Ya benar, keempat anakku selalu merapikan mainan sendiri tanpa bantuan pelayan. Kecuali mainan yang berat. Baru aku melarang mereka melakukannya." jelas Alfonso.


Merry menganggukkan kepala dia kagum dengan didikan Alfonso. Dia baru berapa hari bertemu Alfonso namun banyak hal yang dia pelajari dari Alfonso. Menurut cerita Dokter Cathlyn, Alfonso pria yang kaya raya, hartanya berlimpah tapi dari cara dia mendidik anaknya tidak seperti anak orang kaya pada umumnya, dimana mereka selalu mengandalkan pelayan. Berbeda dengan Alfonso dia selalu ingin anaknya mandiri, Alfonso tidak hanya bicara dia langsung memberi contoh, buktinya dia sendiri yang merawat anak-anaknya . Dia tidak pernah merepotkan pelayan.


"Selesai." ucap Aleijo sembari bertepuk tangan , karena berhasil merapikan semua gambar itu dengan baik, dia pun berlari ke arah Alfonso.


"Jagoan Daddy hebat!" Alfonso mengangkat kedua jempol nya ke atas, dia memeluk Aleijo lalu mengecup ujung kepala putra sulungnya.


Merry segera memasukan gambar yang tadi Aleijo rapikan ke dalam tasnya. selesai merapikan semuanya, Merry menatap Aleijo.


"Tante boleh minta pelukan dari Aleijo?" tanya Merry seraya membuka kedua tangannya. Karena terapi hari ini sudah selesai.


"Boleh." Aleijo menghampiri Merry, dia memeluknya begitu erat.


"Sebenarnya Tante masih ingin bermain lagi dengan Aleijo, sayangnya ini udah pukul sembila malam. Tante harus pulang, tapi nggak apa-apa besok Tante ke sini lagi. " Merry menyentuh kedua bahu Aleijo, dia menatap bola mata biru milik Aleijo.


Besok Merry akan mengajak Aleijo ke taman. Merry ingin melihat reaksi Aleijo apakah dia masih takut atau tidak? Karena terapi pertama ini hanya di ruang keluarga, Merry juga baru melakukan pendekatan dan melihat interaksi Aleijo.


Ternyata semua sesuai harapan, Aleijo sangat cepat menyesuaikan diri walaupun awal-awal ia sempat takut, itu masih di maklumi Merry. Sebagai Psikiater terkenal tentunya dia tau reaksi anak trauma.


"Besok, Aleijo ingin bermain bola." Aleijo menunjuk ke belakang taman.

__ADS_1


"Tentu. Nanti bermain bolanya dengan Tante. Sekarang Tante pamit pulang ya," Merry menyentuh pipi Aleijo.


"Okay..bye...bye..." Aleijo melambaikan tangannya.


Lalu, ia kembali ke arah sofa dimana Alfonso duduk.


"Daddy..." Dia menatap Alfonso.


"Sayang...Yuk sama Daddy antara Tante pulang." Alfonso menggendong Aleijo. Mereka berempat keluar ke halaman depan mansion, untuk mengantar dokter Cathlyn dan Psikiater Merry pulang.


"Tuan, Aleijo sudah ada kemajuan. Kemungkin dua kali pertemuan lagi Aleijo sudah sembuh," ucap Merry. Sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih ibu." Alfonso tersenyum


"Sama-sama, tuan." balas Merry.


"Dokter, terima kasih," ucap Alfonso


"Sama-sama, senang bisa membantu," balas dokter Cathlyn.


Setelah Dokter Cathlyn dan Merry masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka. Alfonso pun mengajak Aleijo masuk ke dalam mansion lagi.


Alfonso tak henti-hentinya tersenyum, ia mendaratkan kecupan di pipi Aleijo berulang kali.


"Gimana hasilnya?" tanya Glen. yang sudah menunggu diruang keluarga.


"Aleijo ada kemajuan, dia berinteraksi dengan baik." Alfonso tersenyum, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Wah sangat bagus. Akhirnya hal yang kita takutkan tidak terjadi." Glen meraih cangkir Winenya lalu menyesapnya.


"Hmmm... sepertinya hal yang kita bicarakan kemarin perlu aku terapkan di anak-anak ku," ujar Alfonso dia menghela napas Panjang.


"Itu harus Al. Nanti aku juga akan mengajarkan kepada Belinda, karena kita selalu dikelilingi musuh sampai kapanpun itu sudah pasti," jawab Glen.


Glen dan sahabat Alfonso lainnya, tadi mereka sengaja masuk ke kamar untuk tidak mengganggu proses terapi Aleijo. Karena, itu mereka tidak tau kemajuan Aleijo terapi tadi.


"Benar. Dimana Kevin?" tanya Alfonso


" Masih dikamar. Mungkin masih menyelesaikan masalah tadi," Glen tersenyum geli.


"Hmmm...Kau mulai mengada-ada." Keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Aleijo sudah kembali ke ruang bermain bersama saudara-saudaranya. Kevin, Andre, Gareth, dan Steward kembali bergabung bersama Alfonso dan Glen.


Para Mafia itu melanjutkan membahas masalah markas dan pekerjaan.


♥️♥️♥️


Pagi ini semua sibuk, kedua sahabat Alfonso bersama anak dan istri mereka akan pulang ke California dan Paris.


Karla, Stewart, dan Fidel Kembali California. Kevin, Diego, Clarinda dan Nabila kembali ke Paris. Alisha dan Alicia sangat sedih, keduanya diam mengamati Karla dan Nabila sibuk kesana-kemari.


"Mommy Karla mau pulang?" tanya Alisha.


"Iya sayang. Mommy pulang dulu," Karla berjongkok menanami tingginya dengan Alisha.


"Kapan datang lagi." Alisha menunduk Sedih.


"Mommy janjiz nanti Fidel libur sekolah Mommy dan Fidel akan ke sini lagi, hmm." Karla menggendong Alisha dia mencium pipi chubby anak dari kakaknya itu.


"Janji." Mata Alisha berkaca-kaca, dia ingin menangis.


Karla menyentuh pipi chubby Alisha.


"Jangan menangis dong!" Karla memeluk Alisha.


"Alisha sepi lagi, Mommy pasti lama kembali ke sini," Alisha mencebik.


Karla menyeka air matanya. Dia menatap Stewart suaminya, Karla tidak tega melihat anak-anak Leticia sedih seperti ini. Tapi, dia juga punya Fidel yang sekolah di California. Begitupun dengan Nabila kedua anaknya harus segera pulang karena sekolah di Paris.


Alfonso menghela napas, hal ini yang dia takutkan jika Karla dan Nabila datang. Di saat mereka pamit pulang, kedua anak perempuannya akan sedih.


Alfonso menggendong Alisha, sementara Alonzo dan Aleijo sedang bermain game bersam Diego dan Fidel di ruang keluarga. Mungkin mereka anak laki jadi tidak seberapa peka.


Usai bersiap-siap kedua sahabat Alfonso segera pamit berangkat ke bandara. Kevin menghampiri Alfonso dia memeluk sahabatnya itu, "Aku pulang dulu, jangan terlalu mengurung diri di mansion sesekali kau dan anak-anak jalan-jalan. Jangan terlalu bersedih, hidup mu terus berjalan bersama keempat anakmu." Kevin menepuk-nepuk punggung Alfonso.


"Baiklah. Mungkin besok aku akan ajak anak-anak naik kapal.Kami akan jalan-jalan." Alfonso ingat kapal pesiar yang dulu dia hadiahkan untuk Leticia tidak sempat dipakai untuk jalan-jalan bersama Leticia karena waktu itu kondisi Leticia semakin memburuk. Jadi, besok dia dan anak-anak yang akan mewakilkan Leticia.


"Ide bagus. Berapa malam?" tanya Kevin.


"Mungkin dua malam," sahut Alfonso.


"Baiklah. Tapi, ingat selalu hati-hati." Kevin melepas pelukannya.

__ADS_1


"Hmm.."


Alfonso bersama Keempat anaknya, Glen bersama anak istrinya, mereka mengantarkan kedua sahabat mereka sampai di bandara.


__ADS_2