
Akhirnya Mason membelokkan mobil masuk ke mansion Glen. disana Belinda sudah menunggu, putri Glen dan Stefani itu sudah tidak sabar ingin bermain salon-salonan dengan Alicia. Namun, tidak bagi Alonzo fotocopy Alfonso itu tampak tidak semangat karena dia tau korban dari permainan ini pasti dirinya dan Papa Glen.
Stefani berlari kecil menuju mobil Mason, diikuti Belinda yang mengajar dari belakang. Fani sudah kangen sekali dengan anak sahabatnya itu. Sesuai janjinya pada Leticia dia akan menjadi ibu bagi keempat anak Leticia juga.
"Sayang-sayangku. Yuk turun itu mama Fani sudah masak makanan kesukaan kalian, Papa Glen juga sudah siapin bubble dan kolam renang," Stefani sudah bersemangat dia cerita panjang lebar didepan jendela mobil, menunggu pintu dibukakan lalu menggendong anak sahabatnya itu.
Tampak Alisha mempertimbangkan keputusannya lagi ingin bermain di mansionnya Oma. Dia bingung setelah mendengar cerita mama Fani. Pasti menarik dan seru. Tapi, dia menatap lagi wajah Felisia yang mulai murung.
"Alisha dan kakak Jo. Main dimansion Oma. Kakak Cia dan kakak Alonzo yang main disini, mama Fani." ucap Alisha pasti.
"Oh, gitu. Ya udah, ngga apa-apa lagian Oma dan Opa juga pasti kangen ingin main dengan Alisha," jawab Fani, dia membuka pintu mobil Mason untuk Alicia dan Alonzo turun.
"Iya,'kan Oma?" sambungnya lagi melirik Felisia.
"Iya, Oma juga kangen pengen main dengan Alisha." Felisia menunjukkan raut wajah sedih.
Alicia dan Alonzo segera turun dari mobil. Tidak lupa sebelum turun kedua anak Alfonso itu mengecup pipi Opa dan Oma.
"Cia turun dulu. Thanks Oma Opa. See you again," Alicia dan Alonzo bergantian mencium pipi Oma dan Opanya.
"Iya sayangku, jangan nakal ya, dengar apa kata mama Fani dan apa Glen," pesan Felisa dia menyentuh pipi halus milik Alicia.
"Siap. Cia janji!" jawabnya tersenyum.
Setelah berpamitan keduanya turun dari mobil. Stefani menggendong Alicia. Glen yang melihat anak Alfonso sudah turun dari mobil, dia juga berlari dari taman menyambut mereka. Dia segera menggendong Alonzo. kemudian berdiri melambaikan tangan ke arah mobil Mason dibalas lambaian tangan dari Alisha dan Felisia.
"Bye... hati-hati ya sayang," teriak Fani. Begitulah Fani, dia tidak bisa menahan air matanya.Walaupun tertawa tapi air bening itu menetes dengan lancar membasahi pipinya. Mereka memandang mobil mason sampai menghilang dari pandangan mereka.
"Yuk..Masuk," ajak Fani seraya mengecup pipi Alicia.
__ADS_1
Alicia yang memang anak cerdas menatap lekat wajah Fani," Mama Fani please don't cry," pintanya menggeleng.
"No. Mam Fani nggak nangis sayang," bohong Fani. Namun, didalam dada sana terasa begitu sesak. Hancur hatinya melihat anak-anak Leticia lalu ia menatap Belinda.Fani seakan takut nasibnya sama dengan Leticia meninggalkan anaknya masih kecil seperti ini. Seketika Fani bergidik ngeri.
Setelah masuk didalam mansion.Fani mengajak ketiga anak itu masuk ke ruang bermain.
"Mau main apa dulu? Salon-salonan atau bermain bubble ditaman?" tawar Fani.
"Main salon-salonan dulu." sahut Belinda dan Alicia serentak.
"Terus, siapa yang dimake-up'in," Belinda menatap Glen yang duduk berhadapan dengan mereka diatas karpet bergambar princess yang digelar diruang bermain itu sembari memangku Alonzo.
"Papa Glen!" tunjuk Fani tertawa puas.
"Okey...Kakak Alonzo turun dulu. Nanti gantian dengan kamu ya kak," ucap Belinda.
Glen mulai bergeser mendekati dua anak perempuan kecil ini, yang berlagak layaknya MUA profesional.
Alicia dan Belinda mulai bergantian make over papa Glen. Fani mulai merekam moment itu untuk dikirimkan ke Nabila dan Karla yang saat ini sudah tinggal berbeda negara dengan dia.
*****
Di Mansion, Felisia.
Alisha dan Aleijo sedang bermain bola dengan paman Willy. Anak bungsu Felisa dan Sergio.
"Paman...lempar bolanya ke arah Sha," pekik Alisha.
Mason dan Felisia tertawa. Mereka duduk dikursi yang disediakan ditaman untuk mengamati cucu dan anaknya bermain.
__ADS_1
Dikeliling taman tentunya sudah ada pengawal berseragam hitam dengan senjata lengkap.
"Paman...Yuk ke sana itu ada banyak kupu-kupu.Sha mau nangkap." Alisha menarik ujung baju Willy. Seraya tangannya menunjuk ke arah dekat kolam renang.
"Iya tunggu, paman ambil jaring dulu." Willy melempar bola kebawah. Lalu berjalan ke arah dimana tempat letaknya jaring kupu-kupu dan beberapa permainan yang disediakan khusus untuk bermain ditaman.
"Sha, ikut." Alisha berlari mengejar Willy.
" Hati-hati. Jangan lari Sha, nanti jatuh!" ucap Willy. Remaja yang kini sudah duduk di bangku SMA kelas dua sangat sayang dengan ponakannya.
Willy menoleh dia menghentikan langkahnya menunggu ponakannya itu.
Mason dan Felisa tersenyum mereka saling menatap.
"Dad... seandainya Leticia tidak menikah dengan Alfonso. Pasti kita tidak berkumpul lagi seperti ini dan tidak melihat cucu-cucu kita. Mommy...tidak tau hidup mommy seperti apa? Leticia...juga pasti akan terus salah paham dengan Mommy dan Dad. Kita banyak hutang Budi dengan Alfonso." Felisia butiran kristal itu jatuh membasahi pipi Felisia. Dia menyekanya dengan tangan yang kini sudah berkeriput.
"Karena itu mulai sekarang habiskan sisa hidup kita, dengan bermain bersama kelima cucu kita," sambung Mason menghela napas.
"Tembak saja!" Tiba-tiba terdengar suara perintah dari balik batas tembok yang sengaja dilubangkan sedikit untuk ukuran senjata berlaras panjang itu masuk, oleh orang-orang bertopeng itu.
"Sebentar kata bos target kita keempat anak kecil itu.Tapi, disini hanya dua anak kecil," sahut orang yang sudah mengarahkan senjata tepat dikepala Aleijo yang sedang memutar bola dikakinya.
"Ambil foto yang tadi dikasih bos itu," perintah satu pria bertopeng lagi.
Dengan cepat pria itu mengeluarkan foto satu lembar kira-kira berukuran 1R. Dia menatap dengan seksama.
"Benar lelaki kecil itu yang ini,'kan?" Pria itu menunjuk Aleijo yang berdiri paling depan difoto itu.
"Iya benar anak itu salah satu target kita. Ya udah tarik pelatuknya, brengsek!!! Tunggu apalagi kau!" perintah Pria bertopeng itu.
__ADS_1