
Alfonso dan keempat anaknya pun pulang ke mansion. Setelah satu jam dalam perjalanan Bandara-Mansion, akhirnya mereka pun tiba. Alfonso menghentikan mobilnya didepan halaman Mansion. Melihat mobil Tuannya datang, Bale, security Mansion menghampiri mobil, dia membantu membukakan pintu mobil.
"Telima kasih Paman Bale," ucap keempatnya serentak. Saat melihat Bale membukakan pintu untuk mereka. Alfonso selalu mengajarkan kepada anak-anaknya, untuk selalu menghormati orang yang lebih tua dari mereka entah itu Maid ataupun penjaga mansion. Karena, bagi Alfonso, semua yang berada di mansion itu sama hanya saja para maid dan anak buahnya kurang beruntung saja.
"Sama-sama," balas Bale. Dia melangkah mundur, memberi jalan untuk anak-anak lewat.
Alfonso masih didalam mobil, dia menoleh mengawasi keempat anaknya dari kursi kemudi, anak-anaknya sedikit tidak sabaran keluar dari mobil, membuat Alfonso menggelengkan kepalanya.
"Hati-hati, jangan rebutan nanti jatuh." Ia memperingatkan keempat anaknya.
"Okey, Daddy." seru anak-anak.
Alfonso pun bergegas turun dari mobil, dia menunggu didepan pintu mobil.
"Berbaris," titah Alfonso.
Alfonso memang tegas, salah tetap salah. Dia tidak pernah, mengikuti kemauan anak-anak jika menurutnya itu salah, Alfonso langsung menegur tentunya dengan caranya dimana tidak melukai hati anaknya, dia memberi pengertian dengan bahasa yang menurut Alfonso bisa diterima anak-anak, terbukti apa yang di sampaikan Alfonso, semuanya didengar oleh keempat anaknya, mereka menjalankan sesuai apa yang diajarkan sang Ayah.
Keempat anaknya pun langsung berbaris, mereka saling berpegangan bahu melangkah masuk Mansion membentuk rel kereta. Sesampainya di dalam mansion keempat anaknya langsung berlari masuk ke ruang bermain. Alfonso tersenyum.
"Cuci kaki tangan dulu, setelah itu baru boleh bermain. Bukannya anak-anak Daddy, baru saja pulang dari airport?" Alfonso mengangkat jari telunjuknya ke atas dia menggerakkan ke kiri-kanan, memberi isyarat larangan.
Alisha yang tadi bersemangat ingin bermain, hanya bisa menghela napas lalu mereka pun bergegas ke kamar mandi menuruti perintah Alfonso.
"Antri, Dek!" pekik Alicia.
Ketika melihat Alisha yang hendak mendahului dirinya.
"Kakak, ngalah," cebik Alisha.
"Adek. Ngg boleh gitu, ayo sesuai barisan." Alfonso datang dia berdiri di depan wastafel mengawasi keempat anaknya. Alisha pun kembali ke barisan belakang.
Memang seperti itu anak-anak, walaupun mereka saling sayang terkadang mereka juga bisa bertengkar.
"Baiklah," Alisha menunduk. Melihat anaknya mencelos Alfonso mengusap rambut putri bungsunya itu seraya tersenyum. Alisha memang sangat mirip Leticia, bahkan suara cempreng Alisha seperti Leticia.
__ADS_1
Selesai mencuci tangan mereka pun kembali ke ruang bermain, menikmati permainan yang disediakan oleh Mommy Leticia dan Daddy Alfonso dulu. Anak-anak sangat ceria, Alfonso duduk diatas karpet yang digelar di lantai ruangan bermain. Memang diruangan ada sofa, namun Alfonso lebih memilih duduk diatas karpet.
Saat mengawasi anak-anak Alfonso mendapat telepon dari Walker, orang yang dipercaya Alfonso menjadi CEO di perusahaan milik Orang tua Alfonso. Katrindof. Usai menerima panggilan, Alfonso berdiri dari karpet, dia berjalan ke kamarnya mengambil laptop lalu kembali ke ruang bermain.
Alfonso meletakkan laptop diatas meja sofa, Ia mengawasi anak-anak sembari mengecek laporan masuk. Alonzo yang melihat sang Ayah sedang menatap layar laptop, dia datang menghampiri Alfonso.
"Daddy, lagi ngapain?" tanya Alonzo, seraya duduk disamping Alfonso.
"Daddy kerja," sahut Alfonso, jarinya terus menari diatas keyboard laptop.
"Kerja?" Alonzo mengulang perkataan Alfonso, putra kedua Alfonso itu memang selalu memperhatikan Alfonso diam-diam.
"Ya, Daddy kerja. Karena itu, Al, harus rajin belajar agar besar nanti bisa gantikan posisi Daddy di kantor." Alfonso menatap Alonzo dia menampilkan senyum khasnya dimana sudut matanya pun ikut tersenyum.
"Al, besar ingin seperti Daddy." tegas Alonzo. Dia tidak tahu ayahnya dulu seperti apa, yang Alonzo tau, Alfonso, ayah yang hebat yang patut dicontoh oleh dirinya.
Alfonso mengernyit, dia heran kenapa anaknya tiba-tiba ingin menjadi seperti dirinya? Alfonso menutup layar laptopnya, dia memutar tubuhnya sedikit berhadapan dengan Alonzo, tangannya menyentuh bahu Alonzo, " Sayang, menjadi seperti Daddy itu bukan cita-cita. Tapi, Al harus belajar supaya menjadi anak yang cerdas. Okey?" jelas Alfonso, dia terkekeh melihat tingkah polos anaknya. Mungkin menurut anak-anaknya dia ayah yang baik tapi mereka tidak tau kehidupan dia sebelumnya. Alfonso kwatir, Alonzo mengikuti jejaknya karena jika dilihat Alonzo pendiam, tapi anak itu sering mengamati Alfonso diam-diam.
Setelah berbicara dengan sang Ayah, Alonzo kembali bermain dengan ketiga saudaranya. Dia mengabaikan ucapan sang Ayah tadi.
Alfonso kembali fokus mengecek laporan masuk, memang sekarang dia bekerja dari Mansion, jika benar-benar mendadak barulah dia ke perusahaan itu pun tidak sendiri, Alfonso selalu mengajak keempat anaknya. Biasanya di perusahaan anak-anak bermain diruangannya tentu dengan penjagaan ketat dari Anak buah, sementara Alfonso meeting atau bertemu dengan klien.
Hari pun semakin siang, waktunya anak-anak tidur siang. Alfonso menutup layar laptop nya dia berjalan mendekati keempat anaknya yang sedang bermain perosotan.
"Waktunya tidur siang," ucapnya. Ia melipat kedua tangannya kebelakang, menunggu keempat anaknya berhenti bermain perosotan.
"Daddy." protes Alisha. Dia memonyongkan bibirnya kedepan.
"Eits...tadi udah janji sama Daddy. Yuk, tidur siang nanti sore kita akan bermain ditaman belakang sekalian kita mengunjungi Mommy," ucap Alfonso.
"Hore...main dirumah Mommy," girang keempatnya.
Benar, sejak kejadian yang menimpa Aleijo, Alfonso tidak mengajak anaknya ke makam sang Istri karena dia takut Aleijo masih trauma, apalagi makam Leticia terletak di taman belakang kecuali kemarin Aleijo ketaman belakang itu pun karena memperingati kematian Leticia.
Mereka pun bergegas ke kamar, sebelum ke kamar seperti biasa anak-anak mencuci kaki-tangan sesuai aturan yang sudah Alfonso terapkan kepada mereka sejak kecil. Selesai mencuci tangan dan kaki mereka berlari ke kamar.
__ADS_1
Anak- anak sudah diatas ranjang masing-masing. Alfonso mengambil kursi dia meletakkan ditengah-tengah keempat ranjang anaknya. Dia mendudukkan tubuhnya diatas kursi lalu mulai membacakan dongeng untuk keempat anaknya. Benar saja, baru saja dua lembar cerita yang dibacakan Alfonso keempat anaknya sudah pulas.
Alfonso meletakkan lagi bukunya di laci nakas. Siang ini dia tidak kembali ke kamarnya tapi Alfonso memilih menunggu anak-anak, dia membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang disediakan di kamar keempat anaknya, dengan kedua tangan diletakkan diatas keningnya.
♥️♥️♥️♥️
Tepat pukul empat sore keempat anaknya pun bangun, Alfonso sudah selesai mandi, tadi setelah berbaring sebentar Alfonso memilih membersihkan tubuhnya.
"Yuk...kita ke taman, selesai main baru mandi," ucap Alfonso. Dia mengajak keempat anaknya keluar dari kamar berjalan ke taman.
"Daddy, Tante Merry jadi, 'kan main bola dengan Aleijo?" tanya Aleijo. Dia menatap Alfonso.
"Tentu sayang. Tante Merry pasti datang." Alfonso tersenyum. Dia senang, karena Aleijo masih ingat janji dia dan Merry.
Alisha menghentikan langkahnya, dia menoleh menatap Aleijo dan Alfonso yang berjalan mengikuti mereka.
"Kakak mau main apa, ditaman belakang? Kejar kupu-kupu atau tangkap capung?" Matanya berbinar-binar. Anak itu sudah tau kebiasaan mereka bermain ditaman selain menangkap kupu-kupu yang indah mereka juga hobi menangkap capung.
"Kakak mau main bola dengan Tante Merry," sahut Aleijo. Alfonso tersenyum ternyata anaknya masih ingat janji dia dan Merry tadi malam
"Alisha, boleh ikut bermain?Please..." Alisha menangkup kedua tangan didadanya , dia memohon semoga sang kakak setuju.
"Boleh, nanti kita main bersama." Aleijo tersenyum.
"Hore..." Alisha melompat girang, tapi ada yang mengganjal dihatinya. Perlahan Alisha mendekati sang Ayah, tangannya bergelayut di lengan Alfonso, " Dad, Tante Merry itu siapa?" Ia menatap Alfonso. Alisha benar-benar lupa, dia hanya sekali bertemu dengan Merry karena setelah itu Alisha sibuk bermain dengan saudara-saudaranya.
"Tante Merry yang biasa datang di sini bersama dokter Cathlyn, Alisha masih ingat?" Alfonso mengusap ujung kepala Alisha.
Alisha meletakkan jari telunjuknya di dagu dia mengetuk-ngetuk dagunya," Sha, lupa." Dia tersenyum, lalu menggandeng tangan Alfonso mereka berjalan menuju taman belakang.
Setibanya dimakam Leticia, seperti biasa mereka mencium pigura lukisan Leticia.
"Mommy, We Miss you," ucap keempat anaknya. Lalu, mereka pun mulai bermain ditaman.Kedua anak perempuan Alfonso berlari mengejar kupu-kupu sedangkan Aleijo dan Alonzo bermain bola. Ada lima Pria berbadan kekar dengan senjata lengkap mengawasi anak-anak Alfonso.
"Sayang, hari ini aku ajak anak-anak main disini. Aleijo diajak ke taman oleh psikiater Merry, doain ya semoga anak kita cepat sembuh." Alfonso mengusap lukisan cantik wajah Leticia. Dia membalas senyum Leticia dilukisan itu. Setelah cukup memandangi lukisan sang istri . Alfonso duduk dikursi yang disediakan di makam Leticia sembari mengawasi anak-anak bermain.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️
Apakabar? kangen bangat dengan kakak-kakak disini. Jika, alurnya lambat silakan komentar ya biar aku percepat alurnya 🙏🙏. Terima kasih, salam sayang dariku😘🙏🥰♥️.