Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Kabar gembira


__ADS_3

Alfonso tersenyum seraya menepuk tangan, memberi isyarat kepada salah satu dari kedua anaknya untuk menendang bola itu. Dia heran kenapa kedua anaknya hanya saling pandang bukan merebut bola yang yang ada didepan mereka?


"Sayang... lihat kedua putra kita mereka tidak saling mendorong ketika hendak merebut bola. Aleijo berdiri diam begitupun dengan Alonzo. Ahhh...mungkin mereka tidak ingin saling mendahului atau tidak ingin salah satu diantara mereka menang dan satu kalah. Aku berharap ini tidak hanya sekadar di permainan bola, tapi semoga mereka berempat saling merangkul, selalu bersama terus seperti ini." Alfonso mengajak istrinya bicara sembari tersenyum. Dia berdiri dari kursi berjalan kearah kedua anaknya yang sementara tertawa ditengah lapangan bola.


"Hey...Boy, kenapa bolanya hanya dilihat aja? Bolanya di ditendang ke gawang," perintah Alfonso.


Kedua anaknya tetap berdiri diam, didepan bola baik Aleijo ataupun Alonzo tidak ingin mengambil bola yang sudah digilir oleh Aleijo didekat gawang Alonzo.


"Nggak. Jo, nggak mau tendang ke gawang Adek." tolak Aleijo.


"Nggak apa-apa, ini permainan harus ada yang menang juga ada yang kalah. Bisa juga ada hasil imbang jika kedua tim sama-sama kuat," jelas Alfonso dia menyentuh kedua bahu Aleijo.


"Emang ada?" tanya Aleijo memastikan.


"Ada. Nanti malam nonton sepakbola bareng Daddy, biar Aleijo dan Alonzo tau bagaimana cara bermain bola." Alfonso menepuk bahu Aleijo dan Alonzo bergantian. Dia pikir mungkin ini salah dia juga, tidak pernah mengajak kedua anaknya nonton bola. Dia sering menasihati keempat anaknya untuk selalu bersama entah dalam hal sulit atau bahagia. Mungkin karena pesan itu kedua anaknya tidak ingin saling mengalahkan satu sama lain.


Disisi lain Alfonso bangga kepada anak-anaknya, walaupun masih kecil mereka sudah mengerti semua nasihat dirinya.


Alicia dan Alisha datang menghampiri Alfonso yang sedang berbicara dengan kedua saudaranya.


"Ada apa Daddy?" Alisha bertanya dengan napas tersengal-sengal, efek tadi berlari mengejar kupu-kupu.


"Nggak ada apa-apa sayang," Alfonso mencium ujung rambut Alisha.


"Kakak, kenapa bolanya nggak ditendang?" Dia berlari lalu melayangkan kaki kecilnya di benda bundar itu. Benar saja bola itu langsung menembus gawang Alonzo.


Aleijo dan Alonzo saling memandang, " Adek!" pekik keduanya bersamaan seraya memegang kepala mereka masing-masing.


Alfonso terkekeh melihat tingkah lucu anak-anaknya.


"Adek. Lihat, jadinya Alonzo kalah," protes Aleijo.


"Sorry," ucap Alisha dengan wajah polosnya.


Alonzo hanya diam, terlihat diraut wajahnya ia sangat kecewa. Alfonso berjongkok dihadapan keempat anaknya untuk menyamai tinggi mereka.


"Alonzo, kalah bukan berarti Alonzo tidak bisa. Kalah berarti Alonzo harus berusaha lebih baik lagi biar nanti main lagi Alonso bisa menang. Alonzo anak hebatnya Daddy." Alfonso menepuk bahu Alonzo. Putra keduanya itu hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Prok...prok...prok...


Merry yang sejak tadi mengamati mereka dari makam Leticia, datang menghampiri Alfonso dan anak-anak, "Wow...hebat sekali anak-anak Tante Merry,"


Alfonso dan keempat anaknya menoleh, menatap Merry yang sangat bahagia melihat kemajuan Aleijo.


"Ibu, sudah lama datangnya?" tanya Alfonso.


"Barusan mungkin sekitar lima menit yang lalu," sahut Merry.


"Tanta Merry," Aleijo berjalan menghampiri Merry. Aleijo sama sekali tidak ragu ataupun takut seperti awal dia bertemu Merry.


"Sayang." Merry melebarkan tangannya menyambut pelukan hangat dari Aleijo.


"Maaf, Tante telat datangnya." ucap Merry menyesal. Dia merapatkan pelukannya.


Aleijo menggelengkan kepalanya, "Nggak apa-apa, Jo tadi main bolanya dengan Alonzo." Setelah merasa cukup berpelukan dengan Merry, Aleijo melepas pelukannya. Lalu keempat anak itu kembali bermain kejar-kejaran membiarkan kedua orang dewasa itu berdiri mengawasi mereka.


Saat keduanya mengawasi anak-anak bermain, Merry pikir dia harus mengatakan hasil terapi Aleijo selama ini kepada Alfonso.


"Ya, ada apa ibu?" tanya Alfonso penasaran.


"Saya ingin menyampaikan kabar gembira." Merry tersenyum.


Alfonso mengernyit, "Kabar gembira?" Dia menatap Merry.


"Aleijo, sudah sembuh. Saya bisa jamin itu, terbukti tadi dia tidak ragu memeluk saya dia juga sudah enjoy bermain diluar. Saya harap kedepannya tidak ada lagi hal buruk yang menimpa keluarga Tuan." Merry menghela napas. Dia beruntung mendapat kesempatan mengenal keluarga Alfonso, keluarga yang nyaris sempurna menurut Merry bahkan semua yang melihat.


"Sungguh?" Alfonso tersenyum bahagia. Sumpah ini bukan hanya berita gembira tapi ini berita luar biasa. Mendengar anaknya sembuh Alfonso kembali hidup, rasanya dia ingin berlari ke makam sang istri lalu memeluk lukisan itu.


"Benar. Saya jaminannya jika Aleijo tidak sembuh total." Merry berani bicara seperti itu karena dia tau benar Aleijo sudah pulih, sudah kembali seperti semula bahkan lebih berani dari semula.


Oh Tuhan, Alfonso mengusap wajahnya, Dia melipat tangan didadanya satu tangan ditopang didagunya. Merry bisa melihat kebahagiaan terpancar di wajah Alfonso. Tidak seperti awal Merry datang, Pria dingin itu bicara seperlunya, bahkan raut wajahnya sangat sedih. Itu dulu, berbeda dengan hari ini, Mery seperti melihat sosok yang berbeda namun Merry suka sosok Alfonso hari ini. Pria itu terus saja tersenyum.


"Terima kasih, Ibu."


"Sama-sama, Tuan." Merry tersenyum.

__ADS_1


Ahh...


Alfonso bingung ingin meluapkan kebahagiaan ini kepada siapa? Apa dia harus memeluk Merry atau?


Oh God, ternyata perasaan bahagia itu sangat luar biasa.


"Sayang, anak kita sembuh!" Dia memejamkan matanya membayangkan kehadiran sang istri.


"Baik. permisi tuan." pamit Merry.


"Ahh...Aku pikir kita akan makan malam bersama di mansionku," tawar Alfonso.


Dia pria kaku, yang tidak pernah berbicara dengan wanita selain istrinya. Apalagi menawarkan makan malam bersama seperti hari ini.


"Mungkin lain waktu. Maafkan saya, Tuan." Merry menundukkan kepalanya.


"Hanya sebentar. Kita merayakan kesembuhan Aleijo." lanjut Alfonso


"Baiklah.Jika anda memaksa,"


Alfonso tersenyum, " Terima kasih." ucap Alfonso.


Lalu, ia melambaikan tangan kepada keempat anaknya mengajak mereka kembali ke mansion.Karena hari sudah semakin sore.


"Anak-anak sudah sore ayo pulang," panggil Alfonso.


"Okey, Daddy." sahut keempat anaknya.


Merry kagum, "Anak-anak tuan sangat pintar." Aku Merry. Dia tau bagaimana aktifnya anak-anak seusia Aleijo dan ketiga adiknya. Biasanya mereka akan menolak jika diajak pulang apalagi lagi asyik bermain, tapi berbeda dengan anak-anak Alfonso begitu dipanggil Alfonso, mereka langsung menurut tanpa ada kata menolak.


"Kadang-kadang. Lebih banyak cerewet dan aktifnya." celetuk Alfonso.


"Tapi, saya tidak menemukan itu semua di anak-anak Tuan," sambung Merry.


Alfonso tertawa, keduanya harus menghentikan obrolan mereka karena keempat anaknya sudah datang. Alisha seperti biasa dia dia langsung bergelayut di tangan Alfonso.


Mereka pun kembali ke mansion. setibanya di dalam mansion, Alfonso mengajak keempat anaknya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh anak-anaknya. Sementara, Merry menunggu di ruang keluarga sembari menikmati minumannya.

__ADS_1


__ADS_2