
Alfonso mengetuk pintu kamar Alicia namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. Alfonso mencoba menarik gagang pintu ternyata pintu kamar tidak terkunci. Sebelum masuk ia menyebul kepalanya masuk ke dalam melihat Putrinya ternyata Alicia sedang berbaring diata ranjang, Alfonso pikir Alicia masih bangun karena ada orang bernyanyi dari layar ponsel. Alfonso masuk ke kamar dia mengernyit ternyat benar Alicia sedang melakukan video cal, pria yang sebentar lagi memasuki usia 65 tahun itu berjalan mendekati arah ranjang putrinya dia menatap ke arah ranjang ternyata Alicia sudah tertidur lalu Alfonso mengangkat kepalanya menatap layar ponsel ternyata Rey masih bernyanyi sembari bermain gitar. Alfonso menatap tajam Rey. Alfonso baru tau mungkin ini kebiasaan Alicia, sebelum tidur melakukan video call hingga dia tertidur dan pemuda itu kenapa pria itu masih bernyanyi, sementara Alicia sudah pulas?
Alfonso semakin mendekat kearah dimana ponsel diletakan, pemuda itu perlahan mengangkat kedua tanganya lalu menangkup didadanya sedikit menundukkan kepala seperti orang meminta maaf. Alfonso mengangkat jari telunjuknya lalu menggerakkan ke kiri-kanan memberi isyarat untuk segera mengakhiri panggilan video.
Rey menganggukkan kepala, sebelum mengakhiri panggilan Rey melambaikan tangan sementara bos mafia itu hanya diam menatap tajam Rey. Karena, tidak ingin mati sia-sia Rey akhirnya mengakhiri panggilan.
Alfonso mengambil ponsel putri sulungnya yang terletak diatas bantal dekat kepala Alicia. Dia lalu meletakkan ponsel Alicia diatas nakas.
Alfonso berdiri menatap wajah putrinya yang tidur persis sang istri, dia lalu mengusap rambut Alicia lagi, " Maafin Daddy yang masih mengingkari janji Daddy." Ia menghela napas, lalu menatap wajah Alicia sembari tersenyum, " Seandainya kau tau masa lalu Daddy pasti kau akan mengerti kenapa Daddy selalu was-was ketika kalian meminta izin keluar bersama teman-teman kalian. Bukan, tidak percaya hanya Daddy tidak ingin masalalu itu terulang lagi." Alfonso lalu mematikan lampu kamar menggantikan dengan lampu tidur.
"Sweet dream putriku. Percayalah apapun yang Daddy lakukan semua itu demi kebaikan kalian berempat. Daddy hanya ingin menepati janji Daddy pada mommy dan menepati sumpah Daddy kepada Tuhan." Usai mengatakan begitu Alfonso keluar dari kamar Alicia.
Sudah menjadi rutinitas Alfonso, mengecek keempat anaknya dari bayi sampai anak-anaknya berusia delapan belas tahun seperti sekarang ini. Dia masih mengecek kamar anak-anaknya apalagi diwaktu malam hari, dia ingin memastikan anak-anak tidur dan menyalahkan lampu tidur. Karena kebiasaan anak-anak terkadang mereka tertidur diatas meja belajar. Alfonso tidak tega membiarkan anak-anak pegal karena tidak nyaman tidur dia pasti akan menggendong anak-anaknya dan membaringkan diatas ranjang dengan baik dan nyaman itu kebiasaan sudah Alfonso lakukan semenjak anak-anaknya tidur sendiri hingga delapan belas tahun ini.
Setelah keluar dari kamar Alicia, dia berjalan ke ruang keluarga disana ada Aleijo yang sedang bermain game online bersama Alonzo. Alfonso duduk ditengah-tengah Aleijo dan Alonzo.
''Main game? Tugas sekolah sudah selesai? Sudah belajar untuk besok?'' Pertanyaan yang sama setiap malam ia tanyakan kepada keempat anaknya.
''Sudah, Dad. Daddy belum tidur? Sekarang sudah jam sepuluh loh dad.''ujar Aleijo yang masih fokus diponselnya.
''Anak daddy lagi serius main game? Sehingga berbicara dengan daddy pun tidak menatap daddy?'' Alfonso tersenyum. Dia tidak pernah marah jika ingin menegur Alfonso selalu berkata dengan lembut dan tersenyum. Walaupun ucapannya tidak pernah benada kasar anak-anaknya sudah mengerti dia pasti segera berganti melakukan hal yang tidak disukai Alfonso.
__ADS_1
''Maafkan kami daddy. Lagi seru soalnya.'' Aleijo dan Alonzo serentak meminta maaf lalu meletakan ponsel mereka diatas meja.
"Nggak apa-apa, Daddy mengerti." Alfonso mengangkat kedua tangan yang tadi ia rentangkan dibelakang kedua putranya. Dia lalu mengusap punggung kedua anak lelakinya itu, " Sudah remaja anak-anak Daddy. Andai saja mommy kalian masih bersama kita dia pasti orang yang sangat bahagia." Matanya berembun ketika berbicara sang istri.
"Daddy," lirih Aleijo.
"Nggak apa-apa Boy, Daddy baik-baik saja. Hanya terkadang Daddy susah mengendalikan perasaan kangen untuk mommy kalian." Akhirnya air mata itu luruh membasahi pipinya. Pria itu menjadi cengeng akhir-akhir ini, setelah mengetahui kedua anak gadisnya mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya.
"Daddy..." Aleijo berdiri mengambilkan minum untuk sang Ayah.
"Thanks, sayang."
"Ya, Daddy."
''Jo, sebentar lagi tamat sekolah menengah atas masih saja sibuk dengan game online? Daddy berharap anak-anak daddy tidak melupakan tugas utama sebagai seorang pelajar.'' Alfonso membungkukkan badanya membuka paperbox, '' cheese cake? Kesukaan mommy.'' Alfonso menghela napas lagi, dia lalu mengambil sepotong cheese cake itu lalu menyuapkan ke mulutnya. Jujur sebenarnya Alfonso tidak suka cake ataupun roti tapi sejak menikah dengan Leticia ia pun akhirnya belajar makan cake karena sang istri menyukai cake.
''Iya tadi dibawakan Alicia untuk Alisha tapi karena Alisha uda tidur.Cakenya Alicia kasihkan untuk Jo.'' jelas Aleijo dia lalu mengambil satu potong cake dan menyuapkan dimulutnya juga.
''Hmm...Alisha dan Alicia selalu makan semua yang mommy suka.'' Ia menarik napas dalam lalu membuangnya dengan kasar.
''Daddy kangen mommy?'' tanya Alonzo.
__ADS_1
''Hmm...daddy selalu merindukan mommy disetiap helaan nafas daddy.'' Alfonso menatap langit-langit ruangan.
Rindu itu semakin menggebu-gebu setelah tadi dia mendapati Alicia sedang melakukan video call dengan Rey hingga putrinya itu tertidur. Alfonso merasa gagal dan takut tidak bisa mendidik kedua anak gadisnya. Dia sadar dia seorang ayah bukan seorang ibu sementara anak gadis akan lebih nyaman jika di nasihati seorang ibu karena sesama wanita pasti lebih memahami perasaan mereka.
''Ada masalah apalagi, Daddy?'' Aleijo yang seperti mengetahui kegelisahan hati Alfonso segera bertanya pada inti permasalahan.
''Daddy takut kecolongan mendidik kedua adik perempuanmu. Kau sendiri tau kedua adik perempuanmu sudah memiliki kekasih, daddy takut daddy gagal menjadi seorang ayah yang baik.'' Alfonso mengusap kasar wajahnya.
Dia tidak munafik dan tidak melupakan siapa dia dimasa lalu. Masa lalu ini yang selalu menghantui dirinya seandainya ada Leticia disampingnya dia pasti akan di tenangkan sang istri. Karena, hanya Leticia yang bisa menenangkan Alfonso.
''Daddy tenang aja ada Alonzo yang siap jaga mereka dua puluh empat jam. Al, hanya minta daddy izinin Al untk mengambil tindakan jika ada yang berani menggangu mereka berdua.'' Rahang Alonzo sudah mengeras.
Alfonso menggelengkan kepala dia menolak karena dia tau putranya pasti akan bermain hakim sendiri.
''Kenapa daddy menggeleng? Daddy tidak percaya, Al?'' Alonzo tampak kecewa.
''Bukan begitu, Nak. Daddy tidak suka bermain hakim sendiri. Maksud daddy itu kalian berdua cukup jaga kedua saudari mu dari kenakalan kekasih mereka bukan berarti tidak mengizinkan mereka tidak didekati pria. Daddy paham ini masa-masa kalian saling jatuh cinta kepada lawan jenis, hanya saja tau batasannya. Karena, tadi daddy mengikuti Alicia di mall daddy melihat pemuda itu tidak pantas menjadi kekasih Alicia. Kalian berdua awasi Alicia dari pria itu tapi ingat jangan main hakim terutama kamu Alonzo. Daddy udah bosan di panggil guru BP mu tiap hari.'' ujar Alfonso panjang lebar.
"Baik, Dad. Kami mengerti. Aleijo dan Alonzo akan menjaga mereka dari kenakalan kekasih mereka." jawab serentak Aleijo dan Alonzo.
Alonzo tersenyum sinis dia sudah paham maksud sang ayah. Ketiga pria itu menikmati cake cheese yang dibawa Alicia. Usai makan cakenya mereka berpamitan tidur karena jam sudah menunjukkan dua belas malam.
__ADS_1
''Selamat tidur anak-anakku.'' ucap Alfonso saat tanganya hendak menarik gagang pintu kamarnya
''Sweet dream daddy.'' balas keduanya serentak.