Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Liburan.


__ADS_3

"Ya, ya! kakak datang," sahut Aleijo dari dalam kamar. Seraya tangannya menarik gagang pintu kamarnya.


Ceklek...


Brugh...


"Argh...Kakak, hati-hati dong buka pintunya," rintih Alonzo sembari mengusap pantatnya. Karena menyenderkan tubuhnya dipintu, Aleijo yang tidak mengetahui langsung membuka pintu kamarnya hingga membuat Alonzo terjatuh diatas lantai.


"Adek! Lagian kamu ngapain nyender didepan pintu? Nguping ya?" Aleijo kaget. Dia bergegas mengulurkan tangannya membantu sang adik berdiri.


"Maafkan kakak." ujarnya seraya memeluk Alonzo, "Bagian mana yang sakit?" tanya Aleijo merasa bersalah.


"Pantatku, argh sakit bangat!" Alonzo meletak'kan tangannya dibahu Aleijo.


"Kamu juga salah, kenapa bersender dipintu?" Dia tidak tega melihat wajah sang adik yang menahan sakit, "Masih bisa jalan?" Aleijo menggandeng tangan Alonzo keduanya bergegas ke ruang keluarga.


"Aku penasaran, ingin tahu kakak menelpon siapa. Bicaranya seperti orang lagi jatuh cinta." Alonzo tersenyum sembari mengedipkan matanya.


"Kena kualat karena curiga kakak yang bukan-bukan makanya kamu jatuh, 'kan?" sela Aleijo. Wajahnya kini merah, dia kwatir sang adik mendengar percakapan dia dengan gadis itu.


"Lantas, apa namanya jika bukan jatuh cinta? Tadi, Al sempat dengar Kakak mengatakan ingin menjemput dia, siapa gadis itu?" selidik Alonzo.


"Diam! Kita hampir sampai di ruang keluarga. Kamu tau, 'kan Daddy dan kedua gadis bawel itu, mereka pasti akan berubah menjadi detektif dadakan untuk mengintrogasi kakak." Aleijo melirik Alonzo. Benar kata Aleijo, Alfonso pasti kwatir jika mengetahui anaknya jatuh. Begitupun dengan kedua gadis itu, mereka pasti ingin mengetahui siapa gadis yang ditelepon Aleijo.


"Tapi, janji didalam kapal nanti kakak harus menceritakan semuanya kepada Al. Jika, tidak ingin aku mengatakan yang sebenarnya kepada Daddy dan kedua gadis itu." Alonzo tersenyum sembari berkedip.


"Sejak kapan kamu jadi kang kepo, dek?" sindir Aleijo. Dia memutar mata malas.


"Sejak tadi. Setelah, menguping pembicaraan kakak." Lagi-lagi Alonzo tertawa puas. Dia berhasil menggoda calon dokter itu.


Aleijo langsung menutup mulut Alonzo dengan salah satu tangannya. Karena, mereka sudah dekat ruang keluarga, " Diam. Jangan bicara apapun." Aleijo menatap Alonzo.


"Baiklah. Ingat, janji harus ditepati."


Alfonso yang tengah bercerita dengan kedua putrinya di ruang keluarga, kaget. ketika melihat Alonzo dipapah Aleijo, dia langsung berdiri dari sofa dan menghampiri kedua putranya.


"Boy, ada apa ini? Kenapa, kamu memapah adekmu?" tanya Alfonso kwatir. Dia langsung menggendong Alonzo lalu membawanya ke sofa.

__ADS_1


"Dad, turunin Alonzo. Al, nggak kenapa-kenapa." Alonzo melingkarkan tangannya di leher Alfonso. Ia pun meminta sang ayah menurunkan dia, karena pantatnya tidak terasa sakit lagi. Namun, Alfonso yang sangat kwatir mengabaikan permintaan Alonzo, Pria itu selalu dihantui dengan rasa bersalah. Karena, itu dia tidak ingin kecolongan lagi.


"Duduk, disini. Apa yang sakit? Biar daddy obatin sebelum kita berangkat atau Daddy menelepon dokter Louis, minta dia kesini?" Alfonso memerhatikan bagian tangan, kaki, wajah namun ia tidak menemukan bekas luka ataupun lecet.


''Dad, sungguh, Alonzo nggak sakit.'' Alonzo berdiri dari sofa. Dia melompat kecil agar sang ayah tidak kwatir lagi, '' Lihat, Al, bisa melompat.'' Alonzo meyakinkan sang ayah.


''Kamu jatuh? Kenapa bisa jatuh?'' Wajahnya masih kwatir, tanganya menyentuh pantat Alonzo lembut. Alfonso tau efek jatuh, apalagi jatuh diatas lantai mengenai dipantat akan berakibat fatal.


''Tadi waktu Alonzo ke kamar kakak. Al, mendengar_'' Alonso belum selesai berbicara. Aleijo yang sedari berdiri, langsung memotong pembicaraan Alonzo.


''Dad, Kita berangkat sekarang.Jo, ingin melihat ombak dipagi hari.'' Aleijo tidak ingin Alonzo mengatakan kejadian sebenarnya. Dia tidak ingin berbohong, karena itu Aleijo memilih mengalihkan pembicaraan. Aleijo tahu sang daddy tidak menyukai kebohongan.


''Baiklah. Ayo, berangkat.'' Mereka pun bergegas ke halaman depan mansion dimana mobil sudah disiapkan Bale, melupakan kejadian barusan. Aleijo menghela napas, dia mengusap dadanya pelan karena bebas dari ledekan kedua adik perempuannya.


♥️♥️♥️♥️


Setelah perjalanan satu setengah jam, Alfonso dan keempat anaknya pun tiba di pelabuhan Madrid. Disana ada beberapa anak buah Alfonso yang bersiaga di tepi pantai. Bukan itu yang menjadi pusat perhatian keempat anak Alfonso.


Namun, Hamparan pasir putih nan indah terbentang luas membawa pandangan menuju birunya lautan lepas. Pepohonan teduh bergoyang tertiup angin semilir seolah meliuk-liuk untuk menari. Suara hembusan angin pun senada dengan irama pukulan ombak yang menghantam karang-karang yang berada di tepi pantai memberi kesejukan di sela pancaran sinar matahari pagi.


,


Alisha masih ingat, waktu itu Alfonso mengajak dia dan ketiga saudara kembarnya datang, setelah satu minggu meninggalnya Leticia. Alfonso mengajak mereka duduk diatas hamparan pasir putih. Dia berada ditengah-tengah mereka berempat, pria paruh baya itu menatap lurus memandangi birunya laut. Namun, waktu itu, dia tidak menceritakan apa-apa, dia hanya diam. Karena, anak-anak masih berusia empat tahun. Alfonso hanya menangis sesekali ia mengambil pasir lalu melempar masuk ke dalam laut. Itu dulu dua belas tahun silam.


Sementara keempatnya berada dalam pikiran mereka masing-masing. Alfonso datang dia berdiri ditengah-tengah keempat anaknya. Mereka berdiri menatap ke dalam lautan lepas masih dengan mata terpejam. Alfonso menyentuh bahu Alicia dan Alonzo.


"Tiga belas tahun silam, waktu itu usia kalian masih empat bulan didalam rahim Mommy Leticia. Di sini, Mommy menulis nama kalian lengkap dengan artinya masing-masing. Mommy tidak hanya menulis dia juga mendoakan agar kelak kalian dewasa nanti bisa berhasil sesuai dengan arti nama yang diberikan Mommy." Alfonso menarik napas, sembari mengusap kasar wajahnya.


"Dulu, Mommy menulis nama kami. Apakah Daddy tahu perasaan Mommy seperti apa? Bahagia? Sedih? Karena, Daddy mengatakan, waktu itu Mommy sudah mengetahui sakitnya tidak bisa sembuh." ujar Alisha. Dia ingin tahu perasaan Leticia waktu itu.


"Mommy sangat bahagia. Dia selalu meminta Daddy jangan bersedih apalagi sampai menangis didepan Mommy." lanjut Alfonso.


Alonzo perlahan membuka matanya dia menatap wajah yang sudah mulai keriput yang berdiri ditengah-tengah mereka itu. Tangannya mengusap air mata Alfonso yang diam-diam jatuh membasahi pipinya.


Saat sedang mengenang sang Istri. Ada suara yang menggangu mereka.


"Tuan,"

__ADS_1


"Hmmm...Sudah siap?" Alfonso membuka matanya dia menatap pria berbaju serba hitam itu.


"Sudah.Silakan, kapal akan segera berangkat."


"Baiklah."


"Anak-anak, kita berangkat. Lihat, kapal itu milik Mommy kalian. Daddy menghadiahkan untuk Mommy karena waktu itu mommy mulai membuka hati untuk Daddy." Kelimanya masuk ke dalam kapal dengan bantuan anak buah Alfonso.


"Apa sebesar itu cinta Daddy untuk Mommy?" Alisha memandangi setiap ruangan kapal, " Wow."


Sementara Alfonso, masih berdiri diam di dek satu. Dia memandangi sebuah tulisan yang belum terhapus.


"I love you, Alfonso De Armando." Tulisan tangan dari Leticia.Yang belum terhapus walaupun sudah tiga belas tahun lamanya.


''Tuan.''


''Hmmm..?'' Alfonso, ia segera mengenakan kaca mata hitamnya.


"Kamar, tuan lewat sini.'' Anak buahnya itu menunjukkan arah kamar Alfonso Karena Mafia itu bukannya berjalan ke arah kamarnya.Tapi, ia berjalan berjalan ke arah tulisan tangan Leticia.


"Saya tahu. Jangan awasi saya tapi awasi keempat anak saya," perintah Alfonso.


"Baik, Tuan."



Visula Alisha celana pendek.


Alicia dres.



Aleijo tidak bertopi.


Alonzo bertopi.


__ADS_1


Daddy duda mafia.


__ADS_2