
Alisah yang sedaritadi menyimak, menatap Alfonso.
"Dad? itu tante__"
"Ssttt....Sayang. Sebentar lagi kita tiba di mansion." Alfonso menyentuh pipi Alisha. Dia tersenyum mengalihkan pembicaraan anak itu. Karena, Alisha akan terus bertanya jika Daddynya berbicara dengan wanita. Alisha tadi mendengar dengan jelas, itu suara wanita. Alisha juga hafal suara itu dimana sering mengajak mereka jalan-jalan bersama Alfonso.
"Okey!" lirihnya. Terlihat raut kecewa diwajahnya. Tapi. daddynya sudah meminta dia untuk diam.
Padahal dia hanya ingin tau. Kenapa Daddynya minta dibawakan orang ke mansionnya. Harusnya Alfonso tau Alisha itu anaknya 'ingin tau'. Masih menjanggal dihatinya, Alisha belum lega jika Alfonso tidak mengatakan sebenarnya, apalagi menghentikan pertanyaannya begitu saja. Baiklah. Setelah di mansion dia akan bertanya lagi siapa wanita itu. Mungkin, daddynya akan jawab?
Akhirnya Alfonso membelokkan mobil masuk halaman mansion miliknya. Di halaman mansion sudah ada beberapa pelayan menunduk menunggu kepulangan Alfonso dan kedua anaknya. Begitupun, Bale sudah siaga didepan pintu mobil dengan senjata lengkap bahkan bukan hanya Bale tapi empat orang pengawal lagi dengan senjata lengkap berjaga satu meter dari mobil Alfonso berhenti.
Mereka sudah tau, perasaan Alfonso sedang tidak baik-baik saja. Para pelayan itu berusaha melakukan tugas mereka sebaik mungkin agar mereka tidak kena imbas dari amarah Alfonso.
"Tuan!" Semua menyapa dengan kepala tertunduk.
Ketika Alfonso menggendong kedua anaknya keluar dari mobil.
"Hmmm..." Dia hanya berdehem kemudian berlalu masuk Mansion. Ia menaiki anak tangga mansion satu-persatu.
__ADS_1
" Daddy..."
Alicia dan Alonzo berlari menyambut kedatang Alfonso dan kedua saudaranya.
"Loh...uda pulang?" Alfonso berjongkok, dia mendudukkan Alisha dan Aleijo di paha kiri-kanannya. Lalu, Ia segera merentangkan kedua tangannya memeluk kedua anaknya itu. Membawa Keempatnya masuk kedalam dada bidangnya. Lega. Alfonso memejamkan matanya sesaat.
"Iya. Cia dan Alonzo diantara Papa Glen dan Mama Fani. Itu, Belinda dan Cia lagi bermain salon-salonan ditemani mama Fani." Alicia berbalik melihat ke belakang, jarinya menunjuk ke arah ruang Playground.
"Okey. Papa Glen dimana?" Alfonso perlahan melepaskan pelukan. Membiarkan keempat anaknya berlari masuk Playground seperti biasanya. Namun, tidak bagi Aleijo. Anak itu terus memeluk leher Alfonso semakin erat," Jo, nggak mau main dengan Belinda?" tanya Alfonso, dia menatap Aleijo sembari berdiri.
"Nggak mau." Aleijo menggeleng. Ia menolak. Mendengar itu Alfonso memejamkan matanya lagi, menahan emosi.
"Al..." Stefani dan Glen keluar dari Playground bersama Belinda.
"Ya. Thanks sudah antarin kedua anakku." Alfonso menunduk sedih. Ini kali kedua dia menundukkan kepalanya setelah kematian Istri tercinta.
"Fan...entar malam aku titip anak-anak sebentar." Dia mengusap kasar wajahnya.
Mereka melangkah bersama masuk ruang Playground lagi. Membiarkan kelima anak itu bermain lagi.
__ADS_1
"Kamu, harus tenang, Al. Jangan terbawa emosi. Ingat, kamu harus jaga keempat anakmu juga." Stefani memberi saran.
"Aku tau itu. Tapi, ini tidak bisa dibiarkan. Ini menyangkut mental kedua anakku, Fan!" Alfonso menggaruk-garuk kepalanya.
"Belinda... Belinda...ajak Jo main bersama kamu," panggil Stefani.
"Baiklah, Mami." Belinda datang menghampiri Aleijo.
"Jo...yuk kita main." Belinda tersenyum.
Aleijo mengangguk. Perlahan melepas tangan dari leher Alfonso, lalu Aleijo digandeng Belinda. Keduanya bergabung bersama ketiga saudara Aleijo yang sedang asyik bermain 'PEE KA BOO'
"Rencananya bagaimana?" Glen menatap Alfonso.
"Uhufft," Alfonso menghela napas.
Dia sudah berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi. Dia sudah berjanji tidak akan membunuh lagi. Lalu, mengapa? Penjahat itu datang dan mengancam nyawa keempat anaknya? Apa dia harus diam? Membiarkan para penjahat itu berkeliaran? Bagaimana reaksi Leticia mengetahui suaminya kembali lagi ke dunia hitam? Marah kah? Sedihkan? Diam? Nangis?. Alfonso tidak akan marah jika penjahat itu menyerang dirinya atau merampok Markasnya lalu membawa seluruh hartanya pergi. Tapi, ini nyawa dari jiwanya. Ini buah cinta dari cintanya. Keempat anak ini harapan dan keinginan Leticia waktu awal mereka menikah dia ingin segera ada anak, Leticia ingin menjadi wanita sempurna sebelum ajal menjemput dirinya. Waktu itu, Alfonso tanpa menolak padahal Alfonso tau akibat jika Leticia hamil. Tapi, ia juga tidak bisa menolak permintaan Leticia.
Semua berputar dikepalanya seperti mesin yang memberi dia pilihan fifti-fifti. Dia tau Leticia, istrinya itu jika marah tidak pernah menunjukkan aura marahnya. Leticia pasti hanya diam dan tersenyum sinis. Wanita itu akan memberi sindiran pedas jika sudah terlalu kesal. Alfonso dengan sendirinya datang dan tanpa aba-aba dia mengakui kesalahan dengan sendirinya seraya memeluk wanita itu dari belakang membisikkan kata "MAAF" tepat di telinga Leticia.
__ADS_1
Akan tetapi, bagaimana caranya? Alfonso akan memeluk wanita itu lagi? Untuk meminta izin, memberi pelajaran kepada kelima penjahat itu? Kini, dia dan istrinya telah berbeda dunia. "Oh Tuhan," Lirihnya. membuat Glen dan Stefani saling memandang. Mereka tau Alfonso sedang berperang dengan hatinya.