Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Tembakan.


__ADS_3

Kletek..


Sinar berwarna merah itu berada tepat di kepala Aleijo.


Cuss...


Tiba-tiba bunyi lemparan granat asap mengepul ditempat pria-pria bertopeng itu. Kelima pria itu kaget karena mereka tidak menduga akan mendapat_.


Dorr... dorr...


Namun, senjata itu berhasil melepaskan peluru. Timah panas itu berlari lurus menuju kepala Aleijo.Tetapi...tunggu dulu, kenapa ada dua tembakan ditempat berbeda? Ada musuh lagi? Ahh entahlah...


"Daddy..." Aleijo histeris. Suara tangisnya begitu kencang.Namun, perlahan suara itu menghilang. Aleijo jatuh pingsan.


Bukan hanya Aleijo yang histeris tapi Alisha juga. Entah bagaimana Alfonso sudah berada di mansion bahkan Aleijo sudah berada di gendongan Alfonso.


"Jangan takut, Daddy disini." ucapnya begitu tenang. Namun, jujur tangannya gemetaran dia takut perkiraan dia salah dan peluru itu mengenai tubuh anaknya. Jika iya, maka Alfonso tidak akan memaafkan dirinya. Ini sudah kali kedua Alfonso kecolongan. Dulu Istri tercintanya hilang diculik Mason. Ayah Leticia sendiri. Hari ini ada yang ingin menembak Aleijo?


Mason datang menggendong Alisha.


"Daddy...Sha takut! Sha mau pulang!" Ia menangis kaki tangannya gemetaran. Alisha sangat takut walaupun ini kali kedua Alisha mendengar suara tembakan. Tapi, hari ini lebih mengerikan dibandingkan suara tembakan Daddy Alfonso menembak waktu Leticia mengembuskan napas terakhir.


Suasana mansion milik Mason mencekam. Anak buah yang diutus Alfonso menjaga Mansion Mason lari mengejar musuh. Sebagian masih tetap stay berjaga di mansion, dengan senjata siap menembak.


Alfonso membawa Aleijo berlari masuk mansion Mason. Dia membawa Aleijo ke kamar Leticia sewaktu masih belum menikah.


"Ada apa ini Nak Alfonso?" tanya Mason yang mengikuti Alfonso dari belakang.


"Nanti, aku jelaskan dad. Saat ini fokus mental Aleijo dan Alisha dulu.Kedua anakku syok bangat makanya Aliejo sampai pingsan seperti ini," jawab Alfonso, seraya membaringkan Aleijo diatas ranjang.


"Bagus. Kau sudah datang?" ucap Alfonso pada pria berkaca mata yang sedang meletak'kan tasnya diatas nakas.


"Iya. Aku langsung meluncur ke sini setelah mendapat telepon dari Ethan." sahut Louis dokter pribadi Alfonso seraya memasang tetoskop ditelinganya.


"Pastikan ditubuh anakku tidak ada yang terluka," titah Alfonso.

__ADS_1


"Baik.Tuan." sahut Louis.


Alfonso tidak tenang bukan karena takut di serang musuh, namun dia kwatir dengan mental kedua anaknya. Alfonso menatap sendu Alisha yang terus menangis , anak bungsunya itu memeluk erat leher Mason.


"Sini sayang." Alfonso merentangkan tangannya.


"Dad. Biar Al yang gendong Alisha saja," pintanya.


"Daddy...Sha takut. Kakak Aleijo gimana Daddy?" Alisha sudah berada dalam gendongan Alfonso. Dia melingkarkan tangannya dileher Alfonso.


"Jangan takut. Ada Daddy bersama kalian, hmm?" Alfonso mengecup kening anaknya tatapannya meyakinkan putri bungsunya kalau Aleijo baik-baik saja. Dia tenang tapi hatinya gundah. Selain itu, Alfonso juga bersyukur untungnya Alicia dan Alonzo bermain di mansion Glen jadi dia bisa mengatasi Aleijo dan Alisha.


"Kakak, nggak kenapa-kenapa, sayang. Udah jangan nangis ada Daddy disini," pintanya.Tangannya menyeka air mata putri bungsunya.


"Sha...takut orang jahat itu datang lagi. Sha nggak mau main di mansion Opa lagi," jawab Alisha. Dia semakin mengeratkan kedua tangan kecilnya di leher Alfonso. kepalanya diletakkan diatas bahu daddynya.


"Nggak ada orang jahat. Mereka hanya main tembak-tembakan sama seperti Daddy, kakak Aleijo dan Alonzo bermain tembak-tembakan dimansion,'kan?" hibur Alfonso.


Namun, amarah Alfonso sudah sampai diubun-ubun, seandainya saja anak-anaknya tidak ada bersama dia saat ini. Alfonso pastikan para penjahat itu sudah berpisah dengan organ tubuh mereka masing-masing.


Alisha memeluk erat leher Alfonso. Tidak menunggu lama kedua sahabat Alfonso datang. Andre dan Gareth. Mereka langsung masuk ke kamar Leticia dimana Aleijo saat ini diperiksa.


"Al," panggil Gareth.


"Benar. Mereka sudah di Spanyol," ujar Alfonso.


"Sialan... Perkiraan kita sedikit meleset," sahut Andre.


"Ya...Tapi semua rencana kita berjalan dengan lancar." Alfonso tersenyum getir.


"No...! Sha maunya dengan Daddy! Sha ngga mau lagi ke mansion Opa, disini banyak orang jahat, Daddy !" Alisha menangis lagi membuat Alfonso mengepal.


"Iya sayang. Sha lagi digendong Daddy. Lihat, ada paman Andre dan paman Gareth juga disini. Daddy janji orang jahatnya sudah pergi. Okey?" bujuk Alfonso.


"Sha takut!!!" teriak Alisha.

__ADS_1


Alfonso menatap keatas langit-langit kamar. Tanpa ia sadari butiran bening itu jatuh dari sudut matanya. Dalam kondisi seperti ini dia merindukan istrinya. Wanita yang selalu tenang menghadapi setiap permasalahan. Tidak seperti Alfonso yang hanya menggunakan emosi.


'Sayang...bantu aku tenangkan anak-anak," pintanya dalam hati.


Benar saja tidak menunggu lama Alisha yang tadi histeris langsung diam. Putri bungsu Alfonso itu perlahan memejamkan matanya, seperti kepalanya habis dielus lembut oleh Leticia.


Alfonso tersenyum, 'Makasih sayang. Ternyata aku masih belum bisa mengurus anak-anak kita,' batinnya lagi. Dia tersenyum getir.


"Alisha tidur?" tanya Felisia. Wanita paruh baya itu tadi syok berat hingga jatuh dari kursi tapi dengan sigap salah satu anak buah datang menolong Felisia.


"Iya, baru saja tidur. Mungkin ketakutan dengan suara tembakan tadi." ujar Alfonso.


"Alisha biar Mommy yang pangku." ucap Felisia.


"Terima kasih, Mom." Alfonso memberikan Alisha kepada Felisia.


Felisia mengambil alih menggendong Alisha.


"Mommy baringkan saja diatas ranjang," ucap Alfonso.


"Nggak apa-apa Nak Al. Biar mommy pangku saja." Felisa duduk diatas sofa . Dia terus memangku Alisha dengan hidung terus menempel diujung kepala cucu bungsunya itu.


"Maaf... seperti ini sayang, jika punya orang tua yang dulu bergelut dengan bunyi-bunyian ini. Tapi, Daddy mu orang hebat. Kamu harus percaya kepada daddymu, dia pasti akan menyelesaikan kekacauan ini secepat mungkin," gumam Felisia. Dia menitikkan air matanya. Felisa tidak bisa membayangkan seandainya tadi peluru mengenai Aleijo. Mungkin lebih baik dia yang mati saja daripada harus melihat Aleijo menderita.


"Mommy..." Aleijo tiba-tiba memanggil Leticia dengan keadaan masih tertidur pulas.


Alfonso menatap Aleijo, Ia menghela napas dengan kedua tangan menopang kepalanya. Alfonso tertunduk sedih, seraya menunggu dokter Louis memeriksa Aleijo.


"Sayang...Kenapa? Kamu kangen Mommy?" lirihnya. mengusap lembut kepala Aleijo.


"Hmmm...Reth, kamu segera susul mereka ke hutan Pinus. Hajar mereka sampai babak belur nanti aku yang akhiri hidup mereka." perintah Alfonso.


"Baiklah. Andre tinggal disini saja," sahut Gareth.


" Iya. Andre tetap disini," balas Alfonso.

__ADS_1


Kelima Mafia ini mulai beraksi lagi setelah lima tahun mereka tidak terjun langsung ke Medan pertempuran. Hari ini pertama kali mereka mengulang masa gila mereka, dimana mereka membunuh musuh dengan kasar, menyiksa dan mengeluarkan organ tubuh tanpa membunuh lebih dulu sengaja mereka lakukan itu agar musuh merasakan kesakitan yang tiada Tara.


__ADS_2