Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Flashback.


__ADS_3

Alfonso terus berada di samping Aleijo, dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Aleijo sedikitpun. Dokter Louis sudah selesai periksa Aleijo, ia menarik napas lega.


"Tidak ada yang terluka, hanya efeknya di mental Aleijo. Dia harus segera melakukan psikoterapi. Sebentar lagi Aleijo pasti siuman." ujarnya seraya memasukkan tetoskop ke dalam tas dokternya lagi.


"Itu sudah pasti, saya akan segera membawa dia atau memanggil psikiater terbaik di Spanyol, untuk melakukan Therapy mental kepada Aleijo dan Alisha. Aku tidak bisa bayangkan lima menit saja aku telat datang, Aleijo tidak bisa di selamatkan. Untung saja Ethan cepat menghubungi aku. Dia mengatakan ada sebuah mobil berwarna hitam sedang mengikuti mobil Daddy dari belakang." Alfonso mengusap kasar wajahnya. Ia memandangi wajah imut yang tak berdosa sedang berbaring lemah diatas ranjang Leticia.


Mafia itu Mengutuk dirinya, mengapa dulu dia harus terjebak kedalam dunia hitam. Mengapa dia harus menerima semua hukumanan atas kekejaman orang terhadap orang tuanya? Alfonso menatap sebuah pigura yang terpasang di dinding kamar Leticia, dia berdiri dengan gaya khasnya, kedua tangan berada didalam kantong celana.


'Anak kita mengalami shock mental, sayang.' batinnya, tanpa ia sadari butiran bening itu jatuh dari sudut matanya, dengan cepat ia menyeka dengan tangannya.


"Al..." Andre memanggil Alfonso, menyadarkan dia agar tidak terbawa perasaan. Sangat berbahaya jika tidak segera disadarkan dia bisa kalap. Apalagi yang menyebabkan dia terjerumus dalam dunia hitam tidak lain tidak bukan adalah Mason mertuanya.


"Hmmm...I'm fine." Alfonso menghela napas.


Dia sudah berjanji didepan Leticia, semasa istrinya itu masih hidup.Ia sudah melupakan dendam itu. Dia, Alfonso De Armando di mana dia tidak pernah mengingkari janjinya. Mafia itu selalu setia memegang janji yang sudah ia buat.


" Ahh... Good. I hope so!" ujar Andre menghela napas, dia melangkah keluar dari kamar dengan gaya coolnya.


"Don't worry!." Alfonso tersenyum sinis.


Untung saja Felisa dan Mason tidak berada di kamar itu. Mason, setelah Alisha digendong Alfonso. Dia segera keluar menemui anak buah yang berjaga di mansion miliknya untuk menanyakan kejadian sebenarnya. Sedangkan Felisia, sudah membawa Alisha tidur di kamar sebelah karena kepalanya tiba-tiba pening. Mungkin efek dari dia kaget suara tembakan itu.


****


Benar waktu Ethan dan beberapa anak buah mengawal mobil Mason dari belakang. Tampak sebuah mobil hitam terus mengikuti mobil Mason. Ethan yang sudah mencurigai mobil itu, dia segera menghubungi Alfonso.


"Ada apa, Ethan?" tanya Alfonso. Tangannya baru saja mendorong handle pintu kamar miliknya.

__ADS_1


"Tuan, ada mobil yang mencurigakan sedang mengikuti mobil Tuan Mason. Saya curiga mobil itu seperti mobil musuh, Tuan," ucap Ethan.


"Okey... kamu terus awasi mereka. Saya segera ke sana, jangan lupa kabarin Glen juga, Minta anak buah disana juga waspada karena kedua anakku juga akan main di mansion Glen," titah Alfonso.


"Baik, Tuan."


Alfonso membatalkan niatnya ke kamar. Dia segera menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Dimana, Ruang itu tersimpan semua alat-alat pertempuran. Ruang yang sudah lama tidak pernah Alfonso masuk lagi sejak kematian istri tercintanya.


Siang ini, Alfonso masuk lagi aura mafianya kembali muncul. Dia segera meraih rompi anti peluru yang di gantung di lemari khusus pakaian bertempur. Lalu, Alfonso mengambil dua buah granat asap dimasukkan ke dalam ransel kecil yang diikat di pinggangnya.


Alfonso berjalan lagi ke arah bagian senjata. Dia meraih dua buah pistol tidak lupa Alfonso menarik pelatuk untuk memeriksa peluru. Karena, pelurunya kurang, Alfonso segera mengisi peluru lagi. Tidak lupa ia masukkan sebagian peluru di ransel sebagai cadangan jika habis. Kemudian, pistol itu Ia selipkan di pinggang kiri-kanannya.


Eit's tidak lupa belatih kecil berujung tajam dengan warna keemasan sedikit berkarat. Untuk mengeluarkan organ tubuh dan jarum suntik berisi racun khas Alfonso. Alfonso juga tidak melupakan alat komunikasi antara dia dan anak buahnya 'earphone kecil' yang dijepit dengan rapi di kerah kemeja berwarna tosca yang ia kenakan. Setelah semua dipastikan sudah siap dan berada di dalam ransel.


Alfonso melangkah keluar dari ruang bawah tanah dengan langkah cepat namun tetap tenang. Alfonso memang seperti itu dia memang suka kalap tapi tenang menghadapi musuh. Ia berlari kecil menuju halaman depan dimana mobil mini Cooper hitam sudah disiapkan oleh Bale, didepan Mansion. Alfonso segera masuk dan menginjak pedal gas mobil, ia memacukan mobil hitam itu dengan kecepatan tinggi menuju mansion Mason.


BEPP....BEPP...


Alfonso membunyikan klakson mobil, sengaja. agar mobil yang berada ditengah jalan memberi ia jalan. Mobil mini Cooper hitam itu sig sag melewati mobil lainya yang tidak ingin memberi jalan. Bahkan tidak sedikit yang memaki Alfonso dengan menunjukkan jari tengah pada Alfonso. Mafia itu melirik lewat kaca spion dia tersenyum sinis.


"Banyak bacot!" dengus Alfonso.


"Ethan... terus awasi mereka dari jauh. Jangan biarkan mereka menyentuh mobil Daddy sedikitpun," Alfonso terus berbicara lewat earphone kecil itu.


"Baik. Tuan. Mereka sama sekali tidak mendekat, hanya mereka terus mengawasi dari kejauhan," sahut Ethan.


"Sialan... Kenapa mereka datang di waktu aku sudah berhenti?" gumam Alfonso.

__ADS_1


Ciutt...


Ban mobil Alfonso tergores dengan aspal. Karena, Alfonso membanting stir dengan sangat kasar. Mobil berhenti tepat didepan mansion Mason.Dia bergegas keluar dari mobilnya, menemui Ethan yang sedang berjaga di depan pintu masuk mansion.


"Bagaimana?" tanya Alfonso seraya mengeluarkan dua buah granat.


"Saya sudah menemukan tempat dimana mereka bersembunyi, Tuan. Mereka berjumlah lima orang semua memakai topeng, sepertinya mereka memang benar anak buah dari__"


Namun, belum juga Ethan selesia bicara Alfonso mengangkat tangannya meminta Ethan untuk tidak melanjutkan ucapan yang tidak penting itu, "Saya tidak minta kau untuk menebak dia suruhan siapa? Saya perintah kau, memastikan tempat, dimana mereka bersembunyi. Ini granatnya lemparkan tepat dimana mereka berdiri .Alihkan perhatian mereka agar mereka tidak bisa menarik pelatuk itu. Saya akan masuk dan melepaskan tembakan ke atas agar Aleijo kaget dan segera berlari menjauh dari target bidikan senjata mereka," perintah Alfonso. Wajahnya kini sudah mirip bongkahan salju di Antartika.


"Baik, tuan." Ethan segera melakukan sesuai perintah Alfonso.


Dia melemparkan granat asap tepat di kelima pria berkulit hitam itu berada. Untuk mengalihkan perhatian musuh. Kelimanya kalang kabut, bahkan ada yang jatuh.


Alfonso melepaskan satu tembakan ke atas udara.


Dorr...


Aleijo kaget dia langsung histeris memanggil Alfonso. Namun, belum juga Aleijo jatuh kebawah. Alfonso dengan sigap menangkap tubuh kecil itu, tepat senjata musuh berbunyi.


Dorr...


Lelaki kecil itu sudah berada dalam gendongan Alfonso.


Ia, menghela napas panjang. Walaupun panik dia lega setidaknya kedua anaknya jauh dari bidikan senjata musuh.


*****

__ADS_1


Sementara di hutan Pinus. Kelima musuh itu sudah berada di dalam ruangan gelap.


__ADS_2